Selebgram Rahmawati Kekeyi Putri. (Dokumen JawaPos.com)


Nama Kekeyi, salah seorang selebgram, kembali ramai diberitakan karena akun instagramnya terhapus. Hal tersebut terjadi seiring dengan banyaknya cyber bullying dan report yang dilakukan netizen terhadapnya.

Menurut dosen psikologi Universitas Airlangga Rudi Cahyono, masyarakat suka mengomentari fisik orang lain karena fisik adalah bagian dari diri yang gampang dilihat alias kasat mata. ”Begitu juga ketika melihat objek bagus atau buruk. Ketika orang melihat orang yang ganteng atau cantik, itupun juga mudah untuk dikomentari. Begitu juga sebaliknya, orang yang jelek pun juga mudah untuk dikomentari,” ujar Rudi.

Nah, ketika membahas tentang tampilan yang buruk, lanjut Rudi, tampilan Kekeyi seringkali didasarkan pada standar umum tentang tampilan yang bagus atau cantik. Masyarakat mempunyai standar kecantikan, mengukur orang lain dengan standar yang sama, standar yang mereka yakini tersebut. Jadi komentarnya memang berdasar standar umum.

”Mudahnya mengomentari kejelekan orang, juga salah satunya karena ia tidak melihat diri sendiri atau tidak memproyeksikan dirinya berada pada posisi orang yang dikomentari,” kata Rudi.

Namun demikian, ada juga yang mengomentari kejelekan orang, sebagai bentuk pelarian dari kondisi dirinya. Dengan seseorang ikut mengomentari kejelekan orang lain, dia akan merasa masuk dalam kategori orang yang bagus. Di sisi lain, bila berbicara tentang media sosial, tidak lepas dari karakteristik internet sebagai media interaksi dan komunikasi.

Media sosial memungkinkan orang untuk berinteraksi tanpa pengenalan (anonymous). Ketika orang merasa bahwa orang lain tidak mengetahui siapa dirinya, dia akan lebih merasa aman untuk berkomentar tanpa tanggung jawab. ”Coba bandingkan dengan interaksi dalam dunia nyata, yang di dalamnya sangat memperhitungkan aspek pragmatis dalam bahasa, memperhatikan etika, karena berhubungan dengan terima atau tidak diterimanya diri di lingkungan,” tutur Rudi.

Nah, dengan sifat fisik tadi dan kurangnya tanggung jawab dalam berinteraksi di media sosial, sangat memungkinkan terjadi bullying secara fisik.

12

You Might Also Like