Ilustrasi anak-anak bermain dengan gadget mereka (GoodToKnow)


Pandemi Covid-19 memaksa banyak orang untuk berada di rumah saja. Dimulai dari pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah, dan kerja dari rumah (Work From Home). Efeknya adalah meningkatnya risiko penggunaan gadget atau internet yang berlebihan terutama pada anak-anak dan remaja.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah memberikan peringatan akan adanya risiko ini, yaitu Unhealthy sedentary lifestyles (pola hidup tidak sehat, kurang banyak bergerak). Kemudian pola tidur juga berubah, olah raga atau aktivitas fisik yang kurang, pola makan dan nutrisi yang terganggu, sakit kepala, nyeri leher akibat terlalu lama melihat layar.

Belum lagi maraknya konten di internet yang berbahaya seperti kekerasan dan seksual. Menurut Psikiater dan Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwa dr H. Marzoeki Mahdi Bogor dan RS Siloam Bogor, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, informasi yang salah atau berlebihan tentang Covid-19 yang bisa memicu masalah kejiwaan seperti cemas, depresi, trauma psikologis.

“Bisa juga ada ancaman Cyber Bullying yang dilakukan di media sosial, game online interaktif. Terjadi Gaming Disorder (gangguan kecanduan game atau internet). Hingga risiko menghabiskan uang lewat judi online, membeli loots, power, ability secara online saat game online,” paparnya kepada JawaPos.com, Rabu (8/7)

Penelitian yang dilakukan oleh Kristiana dkk tahun 2019 menunjukkan bahwa 31,4 persen remaja memiliki risiko untuk mengalami adiksi internet. Pada remaja perempuan, 7 dari 10 berisiko kecanduan media sosial. Sementara pada remaja laki-laki, 7 dari 10 anak berisiko untuk kecanduan games online.

Kecanduan internet ditandai dengan penggunaan internet berlebihan akibat kurangnya kemampuan dalam pengendalian diri, dan menganggu fungsi sehari-hari, misalnya bolos kelas, penurunan prestasi sekolah dan tidur menjadi berkurang. Anak dan remaja lebih rentan mengalami kecanduan internet karena rasa ingin tahu yang sangat besar dan bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan perilaku masih dalam proses perkembangan.

Gejala-gejala Adiksi Internet

1. Berpikir terus-menerus untuk bermain internet

2. Menggunakan internet lebih lama dari waktu yang sudah ditentukan

3. Berusaha untuk mengurangi atau menghentikan bermain namun gagal

4. Membutuhkan waktu semakin lama untuk mendapatkan kepuasan saat bermain internet

5. Menggunakan internet/game/gadget untuk mengalihkan rasa sedih, marah, kecewa

6. Merasa sedih, cemas, gelisah saat tidak bermain internet atau saat berusaha mengurangi, memberhentikannya

7. Memiliki masalah di sekolah, dengan teman, guru, orang tua, keluarga karena pengguna internet

Solusi

Menurut dr Lahargo apabila ditemukan gejala-gejala tersebut wajib melakukan Digital Detox. “Melakukan digital detox berarti membatasi akses ke dunia digital termasuk media sosial, game online, googling,” jelasnya.

“Konsultasi ke profesional kesehatan jiwa seperti psikiater, perawat jiwa, psikolog, konselor untuk mendapatkan pertolongan,” tambahnya.

Digital Detox terbagi menjadi dua yakni Full Digital Detox (sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia digital). Partial Digital Detox (pembatasan akses dengan dunia digital untuk hal hal tertentu)

“Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan waktu melakukan detox. Riset menunjukkan mengurangi akses ke media sosial 30 menit sehari saja sudah mengurangi risiko terjadinya depresi,” katanya.

Langkah berikutnya dalam Digital Detox adalah menghilangkan distraksi yang bisa menyebabkan kita mengakses media sosial. Bisa dengan menghapus aplikasi media sosial di gadget, laptop, komputer, menghilangkan notifikasi media sosial, mematikan gadget secara berkala, menaruh gadget di ruangan lain, dalam lemari yang sulit terjangkau, dan beraktivitas di luar tanpa membawa gadget.

You Might Also Like