Petugas medis mengambil cairan di tenggorokan dan hidung warga saat Swab test PCR Covid-19 di Puskesmas Kebon Baru, Tebet, Jakarta, Rabu (17/6). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)


JAKARTA-Surat terbuka 239 peneliti ke Badan Kesehatan Dunia (WHO) membuahkan hasil. Lembaga yang bermarkas di Jenewa itu akhirnya mengaku bahwa memang muncul bukti adanya penularan Covid-19 melalui udara. Bukan hanya dari droplet seperti yang dipaparkan oleh WHO selama ini.

”Kami telah membicarakan tentang kemungkinan transmisi udara dan aerosol sebagai salah satu mode penularan Covid-19,’’ terang Pemimpin Teknis Pandemi Covid-19 di WHO Maria Van Kerkhove.

Dalam beberapa hari ke depan WHO berencana mengeluarkan laporan sains terkait temuan terbaru tersebut. Van Kerkhove mengungkap bahwa sebagian besar yang menandatangani surat terbuka ke WHO adalah insinyur. Mereka memberikan pengetahun tambahan tentang pentingnya ventilasi. Selain lewat udara, WHO juga masih menyelidiki kemungkinan penularan via muntahan, dari tinja ke oral, serta dari ibu ke anak.

Karena ada di udara, para ilmuwan menegaskan bahwa virus bisa “berjalan” lebih dari 2 meter. Jika droplet biasa, 2 meter adalah jarak maksimal. Selama ini aturan untuk jaga jarak 1-2 meter menjadi elemen utama dalam memerangi Covid-19. Mereka menjelaskan bahwa droplet yang berukuran kurang dari 5 mikrometer bisa bertahan di udara selama beberapa jam dan terbang hingga puluhan meter.

’’Kami yakin bahwa kami harus terbuka terhadap bukti ini dan memahami implikasinya terhadap cara penularan serta pencegahan yang harus diambil,’’ terang Pemimpin Teknis Pencegahan dan Kontrol Infeksi di WHO Benedetta Allegranzi seperti dikutip Agece France-Presse.

Allegranzi menegaskan bahwa kemungkinan penularan lewat udara dalam kondisi tertentu memang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Misalnya saja di tempat yang ramai, tertutup serta ventilasinya buruk. Bukti-bukti yang lebih banyak perlu dikumpulkan lebih dulu dan ditelaah.

Jose Jimenez, ahli kimia dari University of Colorado yang ikut menandatangani surat terbuka untuk PBB menegaskan bahwa memang tidak mudah mengakui bahwa Covid-19 bisa menular lewat udara. Bisa-bisa yang ada malah para pekerja kesehatan menolak pergi ke rumah sakit.

Kemungkinan terburuk, orang akan langsung memburu masker N95 yang lebih mampu menyaring udara. Negara berkembang akan kelimpungan.

Selama ini pemerintah dari berbagai negara bergantung pada saran yang dikeluarkan WHO. Selama ini anjurannya masih memakai masker di luar ruangan, cuci tangan, dan jaga jarak.

Versi WHO selama ini, Covid-19 hanya menular lewat droplet yang dihasilkan saat orang bersin atau batuk. Ukurannya antara 5-10 mikrometer dan maksimal bisa disemburkan sampai 2 meter saja. Karena ukurannya besar, droplet semacam ini bisa dengan mudah jatuh ke lantai.

Nah virus dalam bentuk aerosol ini besarnya kurang dari 5 mikrometer. Biasanya dihasilkan saat seseorang bernafas, berbicara dan juga bernyanyi. Jenis droplet ini tak mudah jatuh ke lantai. Kemampuannya bertahan di udara bergantung dengan kelembapan dan berbagai faktor lainnya.

’’Bahkan jika partikel yang dikeluarkan seorang tidak mengandung cukup virus untuk menyebabkan infeksi, tapi jika menghirup terus-menerus dalam jangka waktu lama maka akan cukup virus di mulut, hidung serta saluran pernafasan untuk memulai terjadinya infeksi,’’ terang Konsultan Mikrobiologis Medis di Inggris Stephanie Dancer.

Yang paling berbahaya adalah petugas kesehatan. Sebab penggunaan nebuliser, bronkoskopi, intubasi, dan prosedur oral lainnya bisa menghasilkan penularan via udara. Karena itu seharusnya petugas medis memakai alat pelindung diri yang memadai termasuk masker N95.

Sementara itu Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan bahwa hingga detik ini pandemi Covid-19 belum menunjukkan gejala penurunan. Sepanjang akhir pekan lalu ada 400 ribu kasus secara global. Padahal di awal pandemi, angka itu tercapai dalam 12 pekan bukannya 3 hari. ’’Virus ini telah menyadera dunia,’’ tegasnya.

Calon Perwira Positif Covid-19

Di Bandung, sekitar 200 siswa Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) Kota Bandung positif terpapar Covid-19. Kepala Dinkes Jabar Berli Hamdani dalam konferensi pers di Gudang Bulog Jabar kemarin (8/7) menuturkan, hal itu diketahui berdasar hasil rapid test dan swab test. ”Institusi pendidikan yang terdampak Covid-19, institusinya saat ini yang teridentifikasi adalah di Sukajadi, di Secapa Sukajadi,” ungkap Berli seperti dilansir Radar Bandung.

Dia mengatakan, hasil tes Covid-19 yang dilakukan terhadap para siswa tersebut sudah ditindaklanjuti dengan isolasi. Beberapa di antaranya mendapat perawatan di rumah sakit. ”Sudah dilakukan isolasi, termasuk isolasi satu area sekolah pendidikan tersebut. Ada juga yang sempat dirujuk ke RS Dustira dan RSPAD, sesuai dengan kondisinya,” jelas Berli.

Pihaknya telah melakukan antisipasi di lokasi tersebut dengan melakukan tindakan penyemprotan disinfektan serta penelusuran epidemiologis kepada orang-orang yang berisiko ikut terpapar. Itu dilakukan bekerja sama dengan tenaga kesehatan puskesmas wilayah setempat dan provinsi.

Selain itu, sesuai arahan Gubernur Jabar Ridwan Kamil, selanjutnya masih akan dilakukan pemeriksaan atau tes masif Covid-19 terhadap hampir 20 sekolah pendidikan kemiliteran yang ada di Jabar.

You Might Also Like