Abdillah


LAILATUL Qadar  merangsang rasa penasaran abadi. Sebenarnya tak ada orang yang tahu pasti kapan Cahaya Malam Agung itu turun.

Sebagian ulama bilang, Lailatul Qadar  turun pada tanggal ganjil selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Namun, juga ada yang menyatakan, bisa saja turun di awal Ramadan, dan tak harus pada tanggal ganjil.

Banyak versi dan pemahaman tentang Lailatul Qadar. Ada yang menceritakan, bahwa saat cahaya Lailatul Qadar turun, bumi dan seluruh isinya sunyi sepi. Keadaan begitu senyap, seolah bumi ini tak berpenghuni seperti tak ada kehidupan. 

Air sungai mengalir ke arah sebaliknya, menuju mata air. Hewan dan tumbuhan bersujud, kendati tak ada hembusan angin. 

Pada malam itu banyak keanehan yang terjadi. Kita tak menolak keanehan-keanehan karena hidup ini sendiri sudah aneh. 

Tapi hidup tak bisa disandarkan sepenuhnya pada yang aneh-aneh. Misalnya, kita tak bisa menunggu menduduki jabatan strategis, kalau hanya duduk-duduk saja di kursi berlagak seperti bos.

Siapa yang beruntung menerima anugerah Malam Agung itu! Maka hidupnya serba berkah. Ia mungkin hanya turun ke dalam jiwa-jiwa yang agung dan jiwa-jiwa yang sudah siap menerimanya.

Kaum muslimin yang berpuasa sedang berada di keindahan hari-hari di mana cahaya Lailatul Qadar mungkin menaburi ubun-ubun mereka.

Untuk itu,  bertapalah dengan puasamu. Bersunyilah dengan iktikaf mu.  Mengendaplah dengan lapar dan hausmu. Membeningkan dengan rukuk dan sujudmu. 

Puasa mengantarkanmu menjauh dari kefanaan dunia, sehingga engkau mendekat ke alam spritualitas. Puasa menanggalkan barang-barang pemberat pundak, nafsu-nafsu pengotor hati, serta pemilikan-pemilikan penjerat kaki kesorgaanmu.

Satu malam Lailatul Qadar itu lebih berkualitas dibanding seribu bulan. Bulan dalam arti benda alam yang dipakai Allah untuk melambangkan spiritualitas dan cinta. Maupun bulan dalam arti rentang waktu dimana manusia mengembarai hidupnya.

123

You Might Also Like