Bintang Riris Parhusip saat mengajar di salah satu rumah muridnya di RT 66, Kampung Tator, Kelurahan Manggar, Balikpapan, Senin (4/5).(PAKSI SANDANG PRABOWO/KALTIM POST)


Tak semua murid bisa belajar daring dari rumah karena kendala jaringan atau gagap teknologi. Mengatasi ini, Bintang pun rela turun agar anak didiknya tak ketinggalan mata pelajaran.

 

M RIDHUAN, Balikpapan

 

 

Beton di Jalan Pemuda berganti tanah lempung. Licin dan berlumpur setelah diguyur hujan. Lebarnya hanya cukup untuk satu mobil. Di sekeliling terlihat rumah penduduk dan ladang pertanian saling berdampingan.

Di rumah bernomor 108, di sudut jalan setapak yang dicor sebagian, berdiam pasangan Bintang Riris Parhusip dan Sudarmono. Bersama tiga anak mereka. Keluarga ini menempati rumah yang tampak belum selesai dibangun.

“Selamat pagi, Pak,” sapa Bintang yang baru selesai sarapan kepada Kaltim Post ( Grup Kalteng Pos) yang baru sampai di rumahnya, Senin (4/5). Bintang dan suaminya adalah pasangan tenaga pendidik yang belakangan mengubah cara mengajar mereka karena pandemi Covid-19.

Mereka tinggal di kawasan yang secara administrasi masuk wilayah RT 66, Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur. Namun, lokasi ini lebih dikenal dengan nama Kampung Tator. Sebab, banyak penduduknya berasal dari Tana Toraja. Sudah ada sejak era 1980-an, yang mayoritas masyarakatnya hidup dari ladang pertanian. 

Waktu saat itu belum menunjukkan pukul 08.00 Wita. Bintang pun bersiap-siap. Setelah berdandan, mengenakan masker, dia pamitan dengan sang suami. Tapi baru sampai di depan rumah, Sudarmono mengingatkan agar istrinya itu membawa hand sanitizer. “Semoga perjalanan kita dilancarkan,” doanya.

Mengendarai motor bebek dengan ban belakang sudah retak, Bintang dengan hati-hati menyusuri jalan setapak. Hari itu, dia akan mengunjungi rumah empat anak didiknya yang duduk di bangku SD. Sebenarnya ada lima murid. Namun, seorang di antaranya sedang sakit. “Tetap ikuti imbauan pemerintah,” sebutnya.

Pada masa pandemi, proses belajar dilakukan secara daring dari rumah. Namun tak semua murid bisa mengakses mata pelajaran. Keterbatasan jaringan kerap jadi alasan. Ada pula halangan dari orangtua yang gagap teknologi. “Proses mengajar secara daring tak maksimal dan akhirnya tidak efektif,” jelasnya.

Hal tersebut melatarbelakangi dirinya merelakan diri berkeliling ke rumah murid. Berkunjung bertemu anak didik yang didampingi orangtua mereka. Memberikan paket soal, sambil mengulas materi secara singkat. Itu disebutnya sebagai langkah agar anak tetap semangat belajar. “Selebihnya pengawasan tetap dilakukan via WhatsApp oleh guru,” ujarnya.

Dari pengamatan Kaltim Post (Grup Kaltengpos.co), murid dan orangtua menyambut Bintang dengan antusias saat tiba di rumah mereka. Di ruang tamu, Bintang pun memberikan paket soal dan sedikit penjelasan pelajaran. Memancing semangat dan cara berpikir anak terhadap materi yang sedang diberikan. “Ini juga dengan izin orangtua. Jadi orangtua juga harus mendampingi,” ungkapnya.

Berkeliling ke rumah murid di Kampung Tator tak semudah yang dibayangkan. Kondisi jalan yang sempit dan licin setelah hujan dan diapit ladang pertanian membuat perempuan itu harus ekstrahati-hati berkendara. Kalau tidak, risiko terjatuh bisa terjadi.

“Ya pernah juga jatuh. Makanya baru bisa jalan kalau kondisi jalan agak kering,” ungkapnya.

Lelah memang dirasakan. Apalagi ada rumah murid di perbukitan. Yang tak bisa dilalui sepeda motornya. Bintang harus jalan kaki. Namun, suasana dan keramahan warga menjadi semangat tersendiri baginya. Apalagi setelah bertemu dengan anak didiknya. “Ini semua anugerah Tuhan yang patut disyukuri,” ucapnya.

Menoleh ke belakang, komitmen sebagai guru memang sudah tertanam dalam diri perempuan yang mengenyam pendidikan Ilmu Keguruan dan Pendidikan di Universitas Palangkaraya itu. Setelah lulus, dia mau mengajar di sebuah SD terpencil di Nainggolan, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara.

“Saya jadi guru honorer di sana pada 2007 dengan gaji Rp300 ribu per bulan,” sebutnya.

Minimnya gaji membuatnya masih harus dibantu orangtua yang tinggal di Lubuk Pakam, Deli Serdang. Mendengar ini, seorang kakaknya yang menetap di Balikpapan menyarankan mencari pekerjaan di Kota Minyak. “Saya diomelin. Sudah bekerja tapi masih disangu orangtua,” sebutnya.

Merantau ke Balikpapan pada 2010, dia pun mendapatkan pekerjaan sebagai guru di Kalimantan International Christian School (KICS). Di sana dia bertemu Sudarmono dan menikah pada 2011. Dua tahun mengabdi, Bintang akhirnya memutuskan berhenti mengajar. “Anak pertama saya, Jonathan, lahir. Enggak ada yang menjaganya waktu itu,” katanya.

Jalan Bintang kembali ke dunia guru dilakoni dengan menjadi tenaga honorer di salah satu SD negeri. Berhenti, dia lalu mengajar di SD Kristen Harapan Bangsa. Setahun kemudian, anak keduanya lahir dan dia kembali harus menjadi ibu rumah tangga secara penuh.

“Tapi bagaimanapun saya harus mengajar juga. Lalu pada 2017 kami pindah ke sini (Kampung Tator),” ujarnya.

Di Kampung Tator, pasangan tersebut pun membuka jasa les secara gratis. Usaha itu sebenarnya sudah dirintis sang suami sejak awal ketika keduanya berkenalan di KICS. “Kami hanya menarik iuran Rp 100 ribu di awal untuk membeli perlengkapan les selama setahun,” imbuhnya.

Hingga pada 2019, tepatnya April, Bintang membuka sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) Bersinar. Kemudian, setelah penerimaan peserta didik baru (PPDB), atas permintaan sejumlah orangtua, Bintang membuka ruang untuk jenjang SD.

“Karena sejumlah anak, termasuk anak saya ditolak masuk ke SD sekitar karena penerapan sistem zonasi,” ujarnya.

Bintang sadar, sekolah yang dirintisnya terhalang dari sisi legal formal. Namun, pada September 2019, seorang pemilik yayasan yang memiliki Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) mengajaknya bergabung.

“Jadi, PKBM Bersinar ini di bawah induk PKBM Al Iqra. Saat ini kami memiliki 14 murid, di mana 5 duduk di bangku SD dan 9 di PAUD. Untuk tenaga pengajar, termasuk saya ada 5 guru,” jelasnya. 

You Might Also Like