BIKIN HEBOH: Para karyawan yang bekerja di gedung BRI II, Jakarta, mengenakan masker kemarin (23/1). Hal itu memicu isu tentang seorang karyawan Huawei telah terserang virus korona. (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)


”Kami seakan merasa ini adalah akhir dunia,” ujar seorang penduduk Wuhan, Tiongkok, dalam unggahannya di Weibo. Respons serupa membanjiri media sosial yang mirip Twitter itu. Ya, mulai kemarin Wuhan ditutup. Diisolasi.

Wuhan adalah kota di Tiongkok yang menjadi tempat pertama munculnya virus korona yang bernama lain 2019-nCoV. Seluruh operasi transportasi umum dihentikan. Bagi pemerintah Tiongkok, ini adalah pertaruhan reputasi. Sebab, negara tersebut sudah berkali-kali menjadi sumber utama wabah penyakit. Mulai flu burung hingga severe acute respiratory syndrome (SARS) yang menelan ratusan korban jiwa.

”Jika tidak mendesak, jangan meninggalkan kota,” bunyi peringatan yang diberikan oleh pemerintah Tiongkok kepada penduduk. Tidak ada penerbangan dari dan ke luar Wuhan sejak pukul 10.00 kemarin (23/1). Di jam yang hampir sama, seluruh operasional di stasiun kereta api dan terminal bus juga ditutup. Pun demikian jalan-jalan utama untuk keluar dari Wuhan. Jalur laut juga bernasib serupa. Tak ada layanan feri ke luar kota tersebut. Penduduk yang terjebak di kota itu menjadi panik. ”Kami seakan merasa ini adalah akhir dunia,” ujar salah satu penduduk Wuhan dalam unggahannya di Weibo, semacam Twitter di Tiongkok.

Hanya berselang beberapa jam, Huanggang melakukan hal serupa. Kota itu berbatasan langsung dengan Wuhan. Seluruh kafe, bioskop, tempat pertunjukan, dan tempat-tempat umum lain ditutup mulai tengah malam. Ezhou, Xiantao, dan Chibi akhirnya mengikuti jejak Wuhan dan Huanggang. Lima kota itu berada di Provinsi Hubei.

Penduduk bebas bepergian di dalam kota, tapi tidak bisa keluar. Pun demikian orang dari luar. Mereka tidak bisa masuk ke lima kota tersebut. Belum diketahui apakah akan ada penambahan kota yang akses transportasinya ditutup. Banyak yang ketakutan bahwa mereka akan kehabisan stok pangan jika isolasi berlangsung lama. Para sopir taksi yang melayani dalam kota kini juga mematok tarif tiga kali lipat. ”Di luar sangat berbahaya. Tapi, kami juga harus menghasilkan uang,” ujar seorang pengemudi taksi.

Bagi penduduk Tiongkok, isolasi itu tak hanya meresahkan, tapi juga mengecewakan. Banyak di antara mereka yang memiliki rencana berkunjung ke kota lain saat Imlek. Hal itu tentu tak bisa lagi dilakukan. Bahkan, acara-acara yang menarik banyak orang dibatalkan. Semua itu demi satu tujuan: 2019-nCoV tak menyebar lebih luas.

Tiongkok memang pantas waswas. Sebab, virus tersebut sudah menginfeksi 571 orang. Sebanyak 17 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 5 ribu lainnya diobservasi. Hingga kemarin, belum diungkap secara pasti asal muasal virus tersebut. Pun belum ada vaksin khusus yang bisa menghancurkan virus itu.

Publikasi dalam Journal of Medical Virology mengungkap, penularan 2019-nCoV sedikit berbeda dengan SARS dan MERS. Kelelawar menjadi sumber penularan utama SARS dan MERS. Awalnya, peneliti mengira 2019-nCoV berasal dari binatang yang sama. Namun, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kode protein 2019-nCoV sangat mirip dengan milik ular.

Di alam liar, ular memang biasanya memangsa kelelawar. Tampaknya virus dari kelelawar menjangkiti ular. Nah, ular yang terjangkit itulah yang dijual di Seafood Market Wuhan. Meski namanya pasar ikan, ia juga menjual binatang lain seperti kelelawar, tikus, daging unta, anak serigala, rubah, dan ular. Orang-orang yang kali pertama tertular adalah para pekerja di pasar tersebut. Belum diketahui bagaimana virus itu bisa bermutasi dari kelelawar yang berdarah panas ke ular yang berdarah dingin dan masuk lagi ke manusia yang termasuk berdarah panas.

Hingga kemarin, Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum mengeluarkan status apa pun untuk penanganan penyebaran 2019-nCoV. Padahal, mereka diharapkan menyatakan status darurat kesehatan global. Dengan begitu, penanganan antarnegara bisa saling terkait. Namun, di pihak lain, status itu juga akan mencoreng muka Tiongkok..

”Kami membutuhkan lebih banyak informasi,” ujar Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Dia memuji langkah Tiongkok untuk mengontrol persebaran virus. Kota-kota besar di Tiongkok seperti Beijing, Makau, dan Hongkong membatalkan perayaan dan parade Imlek.

Di pihak lain, pejabat tinggi di Departemen Luar Negeri AS masih meragukan transparansi Tiongkok. Saat SARS mewabah 2002, Tiongkok berusaha menutupi. Mereka baru lapor kepada WHO setelah beberapa bulan. Para pakar WHO pun dilarang masuk Provinsi Guangdong yang menjadi lokasi munculnya virus tersebut untuk kali pertama.

Virus 2019-nCoV saat ini sudah sampai di AS. Singapura juga memastikan bahwa ada satu pasien yang positif tertular virus itu. Pria 66 tahun tersebut baru datang dari Wuhan dan menuju rumah sakit karena demam serta batuk-batuk. Dua warga Tiongkok yang berkunjung ke Vietnam juga dipastikan positif tertular 2019-nCoV.

Petugas bandara kini harus lebih waspada saat mengecek penumpang. Sebab, ternyata tidak semua pasien yang positif tertular 2019-nCoV mengalami demam. Beberapa di antaranya hanya mengalami masalah pernapasan dan batuk-batuk. Artinya, mereka yang sudah tertular mungkin saja lolos dari deteksi suhu tubuh di bandara.(jpc)


123

You Might Also Like