Yogyantoro


“Sejak lahir, menjalani hidup di dunia hingga meninggal, diselimuti dengan kain batik. Batik sangat dekat dengan kehidupan. Khususnya dalam lingkungan keluarga” (Sri Sultan Hamengku Buwana X)

Maraknya minat terhadap batik sebagai sebuah karya seni rupa tradisi saat ini sering kali  belum diimbangi dengan pemahaman terhadap batik itu sendiri. Informasi dan referensi tentang segala sesuatu tentang batik Nusantara masih menjadi misteri bagi sebagian masyarakat yang mulai mencintai batik. Mayoritas pemakai batik klasik memilih batik karena keindahannya saja, tanpa mengetahui ihwal motif batik yang dipakainya.

Kadang seseorang bahkan memakai baju batik tidak sebagaimana fungsinya. Misalnya pada saat menghadiri sebuah acara pesta atau acara resmi lainnya, ia justru memakai motif batik yang seharusnya dipakai untuk menghadiri acara pemakaman atau untuk lurup (penutup jenazah). Sebenarnya, semua motif batik diciptakan dengan berbagai maksud dan harapan yang baik. Tidak satu pun  yang memiliki tujuan dan harapan buruk. Namun, masing-masing motif memiliki kegunaan tersendiri, kapan ia harus dipakai.

Ketika berbicara tentang motif, artinya kita juga akan berbicara tentang maksud filosofinya. Ketika bicara mengenai kegunaan batik, kita juga akan membicarakan ornamen dan maknanya. Di lingkungan keraton, batik memiliki peranan sangat penting dalam menentukan status dan tanda pangkat seseorang karena dahulu belum ada tanpa pangkat, maka busanalah yang menunjukkan identitas seseorang dalam struktur kebangsawanan.

Saat ini bangsa-bangsa lain telah mengakui bahwa batik Indonesia adalah tekstil dengan teknik surface design (teknik hias permukaan) yang paling luas penggunaanya di dunia. Dalam wujud jarit (kain panjang), selendang, gendongan, sarung, udheng (ikat kepala), batik merupakan busana yang digunakan kaum wanita dan pria sejak berabad-abad yang lalu, yang tetap lekat dalam kehidupan manusia.

Sangat sulit untuk menemukan selembar kain batik sebagai bukti arkeologi tentang keberadaan batik di masa silam. Namun, bukti sejarah tentang keberadaan cara mewarnai dan menghias kain dengan teknik perintang warna (resist dyeing), bentuk ragam hias dekoratif, simbolis, keseimbangan dinamis yang menjiwai bentuk batik sudah dikenal pada masa prasejarah. (Hasanuddin, 2001)

Batik dalam masyarakat memang tidak terlepas dari ajaran filsafat yang secara tersirat menjelaskan hubungan mikrokosmos, metakosmos dan makrokosmos. Pandangan tentang makrokosmos mendudukkan manusia sebagai bagian dari semesta. Manusia harus menyadari tempat dan kedudukannya dalam jagat raya ini. Metakosmos yang biasa disebut  “mandala” adalah konsep yang mengacu pada “dunia tengah”, dunia perantara antara manusia dan semesta atau Tuhan. Sedangkan mikrokosmos adalah dunia batin, dunia dalam diri manusia. Begitu pula filosofi yang terkandung dalam batik Benang Bintik batang Garing khas Kalimantan Tengah. Batang Garing atau pohon kehidupan yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan horizontal antar sesama manusia.

Seni batik bukan sekadar untuk melatih keterampilan melukis dan sungging, tetapi sesungguhnya memberikan pendidikan etika dan estetika. Seni batik menjadi sangat penting dalam kehidupan, karena kain batik telah terjalin erat ke dalam lingkaran budaya hidup masyarakat.  Selain itu batik juga punya makna dalam menandai peristiwa penting dalam kehidupan manusia yang sangat menjunjung tinggi dan menghargai nilai-nilai etis dan estetis dalam berpakaian. Oleh karenanya, kaita sering mendengar pepatah “Ajinig diri saka lati, ajining raga saka busana” (kehormatan diri terletak pada kata-kata, kehormatan badan terletak pada pakaian). 

Batik memiliki makna filosofis berdasarkan pandangan hidup sebagai suatu kearifan lokal. Para empu memnghasilakan rancangan batik melalui proses pengendapan diri, meditasi untuk mendapatkan bisikan-bisikan hati nuraninya, yang diibaratkan guna mendapatkan wahyu (dalam istilah masa kini mirip dengan ide/kreativitas/inovasi, tetapi bermakna sangat dalam).

Membatik bagi perajin batik seharusnya bukan sekadar aktivitas fisik semata, tetapi mempunyai dimensi ke dalam, mengandung doa atau harapan dan pelajaran. Keindahan sehelai batik mempunyai dua aspek, yaitu keindahan yang dapat dilihat secara kasat mata yang diwujudkan melalui ragam hias batik dan paduan warnanya, dimana keindahan semacam ini disebut sebagai keindahan visual. Unsur ini dapat dinikmati melalui penglihatan atau pancaindra.

Selain itu keindahan batik juga mempunyai makna filosofi atau disebut juga keindahan jiwa yang diperoleh karena susunan arti lambang ornamen-ornamennya yang membuat gambaran sesuai dengan faham kehidupan. Oleh karena itu, usaha dalam mencipta sebuah wastra batik jangan hanya melibatkan usaha secara fisik saja, melainkan perlu disertai usaha dari sisi batin dari para perajin batik.

Selain puasa, dilakukan pula pembacaan doa-doa. Melalui ritual tersebut, diharapkan proses pembuatan batik akan berlangsung lancar, syukur bisa menghasilkan batik bernilai tinggi yang bisa memancarkan aura bagi pemakainya atau “pecah pamore”. Meski tidak disebutkan gamblang, rangkaian ritual yang mengiringi proses membatik juga terungkap dari beberapa sumber abdi kriya yang turun-temurun mendapat cerita eyang buyut dan leluhurnya. Ritual dilakukan secara bertahap dari sebelum proses pembuatan batik dimulai. Terlebih apabila batik tersebut akan diagem (dikenakan) oleh raja, gubernur, bupati, atau lurah. Sebagai langkah awal, mengadakan wilujengan (selamatan), lalu dilanjutkan dengan melakukan puasa.

Terlepas percaya atau tidak, ada satu pengalaman tersendiri yang dialami oleh Larasati Soeliantoro Soeleman, pemilik Galeri Batik, saat akan membuat kampuh (dodot) untuk pernikahan salah satu putrinya. Saat itu, wanita yang mengoleksi batik-batik klasik ini meminta tolong perajin batik untuk membuatkan kain tersebut.

Saat proses berlangsung, ternyata lilin batik tidak bisa keluar dari lubang canting meski berulang kali dibersihkan. Perajin batik yang mengerjakan akhirnya mengusulkan untuk mengadakan pembacaan doa-doa dulu sebelum proses batik dilanjutkan. Ternyata setelah ritual tersebut akhirnya pekerjaan membuat seni batik berlangsung lancar.

Tingkat keseriusan dan konsentrasi penciptaan seperti inilah yang menjadikan motif batik yang dihasilkan diyakini menjadi sebuah karya yang lebih memiliki “ruh” serta motifnya mengandung filosofi tertentu sebagaimana yang diharapkan dan didoakan pembuatnya. ***

(Penulis adalah Guru Seni Budaya; Alumnus Universitas Negeri Malang dan STKIP PGRI Tulungagung)

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like