Helmy Yahya


JAKARTA – Salah satu penyebab Dewan Pengawas TVRI memecat Helmy Yahya sebagai Direktur Utama adalah terkait hak siar Liga Inggris.

Program yang menelan biaya cukup besar namun tidak dibarengi koordinasi dan komunikasi yang baik antara dewan pengawas (dewas) dan dewan direksi, diyakini jadi sumber masalah di TVRI ini.

Penilaian itu disampaikan mantan Ketua Dewas TVRI, Hazairin Sitepu. CEO Radar Bogor Group (Induk Pojoksatu.id/Group kaltengpos.co) itu menyampaikan analisanya mengenai kisruh TVRI yang diunggah melalui akun youtube, Bang HS TV.

Sebagai Ketua Dewas TVRI pada periode 2007-2011, Hazairin Sitepu hapal betul dapur televisi nasional itu.

“Ketua Dewas TVRI itu kalau di perusahaan seperti presiden komisaris. Tapi kewenangan dewas luar biasa karena mengangkat dan memberhentikan direksi, menetapkan rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT),” kata Hazairin yang karib disapa Bang HS dalam video tersebut.

Hazairin mengakui, program Liga Inggris sejauh ini cukup mampu mengangkat minat masyarakat untuk menonton TVRI.

“Belakangan ini saya melihat TVRI karena ada dua acara yang menurut saya sangat bagus. Dua acara itu juga menaikkan kelas TVRI. Yaitu Liga Inggris dan Rumah Bulutangkis.”

“Meskipun kadang-kadang pertandingan bigmatch kadang tidak disiarkan TVRI. Tapi saya selalu menunggu itu. Dan kalau ada even bulutangkis internasional, pasti saya cari TVRI,” lanjutnya.

Tetap ternyata proyek Liga Inggris itulah yang membuat masalah di TVRI saat ini. Salah satu yang jadi pertimbangan Dewas memberhentikan Helmy Yahya sebagai Dirut TVRI adalah proyek Liga Inggris itu.

“Saya tidak tahu persis detailnya seperti apa, tapi di TVRI itu diatur bahwa RKAT merupakan kewenangan Dewas. Kalau ada perubahan anggaran harus dikoordinasikan lalu ditetapkan Dewas.”

“Liga inggris itu sangat bagus karena banyak orang menunggu Liga Inggris di TVRI, dengan segala kekurangannya tadi. Saya kembali menonton TVRI, selain Liga Inggris juga karena Rumah Bulutangkis tadi.”

“Meski saya pernah jadi ketua dewas, saya jarang nonton TV karena saya juga harus mengurus media lain selain TV,” tuturnya.

Lalu mengapa Liga Inggris jadi salah satu pertimbangan atau penyebab Helmi Yahya dipecat?

“Mungkin saja, Dewas merasa tidak mendapatkan gambaran yang jelas tentang Proyek Liga Inggris itu. Maksudnya begini. Ini kan proyek besar dan anggarannya pasti besar. Maka direksi dan dewas harus sama-sama berkoordinasi membcarakan itu kemudian ditetapkan dalam satu peraturan dewas,” jelas Bang HS.

“Kalau ini terjadi antara direksi dan dewas, ada interaksi dan komunikasi yang baik, sama-sama membicarakan, Mungkin tidak akan menjadi masalah seperti ini.”

Menurut Bang HS, di TVRI ada dua lembaga penting. Yaitu Dewas dengan segala kewenangannya yang diatur undang-undang. Kemudan dewan direksi yang punya kewenangan eksekutif.

“Memang dewas tidak boleh mengatur begini dan begitu, lebih pada penetapan kebijakan. Kalau sudah ditetapkan mengawasi kebijakan yang sudah ditetapkan agar tujuan tercapai. Juga bagian dari quality control,” lanjutnya.

“Program apapun yang dikerjakan atau dibuat TVRI, entah itu dibeli atau diproduksi sendiri itu adalah milik publik. Untuk kepentingan publik, bukan kepentingan siapapun di dalamnya. Bukan untuk dewas atau direksi.”

“Makanya, isi atau konten-konten TVRI harus memenuhi standar-standar kepublikan. Tidak bisa asal, sama dengan TV swasta. Itu berbeda sekali karena TVRI lembaga penyiaran publik. Maka siaran TVRI harus memenuhi standar kepublikan.”

Standar itu ya sesuai tagline TVRI, media pemersatu bangsa. Kultur, budaya dari berbagai daerah di Indonesia, bisa ditayangkan TVRI sehingga publik Indonesia tahu begitu beragam budaya yang ada di Tanah Air.

“Sekali lagi dalam hal Liga Inggris yang jadi masalah, saya sebagai mantan Ketua Dewas TVRI, sebenarnya ikut prihatin dengan keadaan ini,” ujar Bang HS.

“Kalau boleh saya sarankan kepada TVRI, supaya kepentingan publik tidak dikorbankan. Jangan sampai nanti publik tidak mendapat haknya karena perseteruan ini. Kalau saya sih sarankan, Liga Inggris tetap dilanjutkan dengan segala pertanggungjawabannya.”

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like