Pedagang kaset VCD dan batu akik tetap bisa dijuampai di pasar-pasar tradisional Palangka Raya, kemarin (7/12). (PATHUR/KALTENG POS)


Satu dekade terakhir, bisnis banyak bergeser ke era digitalisasi. Konsumen lebih mudah untuk mendapatkan berbagai kebutuhan hanya dari dalam genggaman. Perkembangan teknologi yang begitu pesat ini, banyak menghilangkan bisnis-bisnis “kuno” atau tradisional. Tapi, masih ada yang mampu bertahan di tengah gempuran zaman.

 

PATHUR-SYAHYUDI, Palangka Raya

 

DULU, di era 2000 an bisnis penjualan kaset VCD/DVD sedang di masa-masa kejayaan. Saat itu, dimana ketika orang hendak melihat atau menyaksikan sebuah video harus memutar sebuah VCD/DVD. Alhasil, banyak pedagang kaset VCD/DVD, karena hasilnya pun cukup menggiurkan. Namun, masa kejayaan itu tidak berlangsung lama, industri teknologi berkembang begitu cepat dan pesat.

Seiiring berjalannya waktu. Kemajuan teknologi yang bukan merupakan kehendak pedagang kaset itu akhirnya makin terasa. Banyak penjual kaset yang tutup dan banting setir ke usaha lain yang lebih menjanjikan. Mereka tak lagi berjualan kaset, karena semua sudah bisa diakses melalui internet. Menonton video dan mendengar musik melalui aplikasi ataupun situs yang ada di smartphone.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi ini. Salah satu pedagang kaset VCD/DVD masih bertahan di Pasar Kahayan. Adalah Yudi, penjual kaset VCD/DVD yang masih betah bertahan. Ia mengakui, meskipun gempuran era digitalisasi ini banyak memengaruhi usahanya, namun pelanggan setia dan pembeli VCD/DVD masih ada. Inilah yang membuatnya tetap buka dengan usaha yang sama.

Yudi mengakui, pada hari biasa Yudi biasa mendapatkan penghasilan Rp40.000 per hari kalo sepi kalo rame bisa sampai Rp100.000 per harinya. Untuk kaset sendiri yang paling laku adalah kaset Mp3 dan VCD film kartun sementara DVD agak jarang lakunya. Mp3 sendiri dihargai Rp. 10.000 sedangkan Vcd Rp. 5.000 dan DVD Rp13.000 perbuahnya.

“Pembelian kaset paling banyak terjadi di saat akhir pekan. Pada saat anak-anak libur sekloah mereka membeli vcd kartun. Pada akhir pekan biasanya Yudi mendapatkan penghasilan Rp150.000 dari penjualan VCD sdan mp3,” ungkap Yudi saat berbincang dengan Kalteng Pos di kawasan Pasar Kahayan, kemarin (7/12).

Ia sendiri sudah berjualan kaset dari tahun 2008 sampai sekarang. Dia tidak takut dengan zaman yang makin berkembang, walaupun sekarang semua sudah mudah didapatkan melalui internet. “Meskipun beberapa orang mungkin minatnya berkurang untuk membeli kaset. Tapi saya tetap optimistis bahwa kaset sebagai salah satu sarana hiburan apa lagi kaset mp3,” pungkasnya.

Sementara usaha lain yang masih bertahan di tengah gempuran zaman sekarang adalah usaha penjualan batu akik. Sempat mengalami masa kejayaan, bisnis penjualan batu akik kembali meredup. Hal ini membuat para pelaku penjualan batu akik ini harus memutar otak, agar bisnisnya tetap berjalan.

Penjual batu akik di bilangan Pasar Kahayan Sibran mengatakan, beberapa tahun yang lalu penjualan batu akik sangat diminati. Sehari ia bisa mendapat jutaan rupiah dalam sehari. Namun sangat berbeda saat ini sangat sunyi yang datang pun hanya tiga atau empat orang saja.

"Kalau berharap hanya bekerja berjualan batuk akik saja tidak bisa menjamin untuk mendapatkan hasil yang lebih, maka dari itu saya juga membuka usaha jasa membuat kalung nama, cincin ukiran untuk mas kawin,"ucapnya kepada Kalteng Pos di Pasar Kahayan, Sabtu (7/12).

Kalau dilihat saat ini, katanya, penjual batu akik makin berkurang dan hanya didapati di pasar Kahayan atau Pasar Besar, sangat susah di temui karena peminatnya memiliki musim, jadi kalau bukan musimnya batu akik maka akan susah di cari.

“Jualan batu akik ini musiman mas, karena sudah tidak musimnya berburu batu akik maka seperti ini sunyi dan hanya sebagian oaring saja yang masih berminat dan mencari tidak seperti dulu penjual batu di dimana-mana, pinggiran jalan , dan yang datang untuk melihat maupun yang membeli berjubel,”tutupnya. (*/ala) 

123

You Might Also Like