KH Agoes Ali Masyhuri


TEKNOLOGI informasi semakin canggih, fitnah dan aib semakin tersebar. Jumlah minuman semakin banyak jenisnya. Air bersih semakin berkurang jumlahnya. Ilmu semakin tersebar, adab dan akhlak semakin lenyap. Belajar semakin mudah. Guru semakin tidak dihargai. Banyak orang mendirikan bangunan, tapi tidak mereka tempati. Banyak orang mengumpulkan makanan, tapi tidak mereka makan. Jumlah manusia semakin banyak, tapi rasa kemanusiaan semakin tipis. Itu semuanya merupakan realitas yang tidak bisa dimungkiri. Krisis terbesar dunia saat ini adalah krisis keteladanan.

Krisis itu jauh lebih dahsyat daripada krisis energi, kesehatan, pangan, dan air. Semua itu bukan sebab, tapi sudah merupakan akibat. Karena mereka tidak mengenal manusia yang sempurna dan paripurna yang visioner, jujur, dan adil, yaitu Rasulullah SAW.

Pada tulisan ini, saya mengajak umat Islam di mana saja berada untuk mengingat kembali sebuah peristiwa agung dan banyak pelajaran yang bisa diambil, yaitu menautkan hati kita dan mempererat kembali dengan sejarah Rasulullah SAW.

Sejalan dengan pesan suci Alquran surah Al-Ahzab ayat 21, ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Jiwa dan semangat rela berkorban demi kepentingan Islam sebagaimana para sahabat Rasulullah SAW. Beliau Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengorbankan diri dengan menempatkan dirinya di tempat tidur Nabi di malam peristiwa hijrah Rasulullah SAW. Asma’ binti Abi Bakar rela berkorban dengan naik ke atas Bukit Tsur setiap hari. Yaitu, sebuah bukit terjal di selatan Kota Makkah. Semangat juang yang harus kita teladani dalam praktik kehidupan nyata, agar kita dapat membuat strategi hijrah sebagaimana Rasulullah SAW.

Dalam fatwa Al-Azhar dinyatakan oleh Syekh Athiyyah Shaqar bahwa menurut Imam Suyuthi, Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Ibnu Hajar al-Haitsami memperingati maulid Nabi itu baik. Meski demikian, mereka mengingkari perkara-perkara bid’ah yang menyertai peringatan maulid Nabi. Pendapat mereka ini berdasarkan firman Allah, ”Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur (Q.S. Ibrahim: 5).

Imam An-Nasa’i, Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid al-Musnad, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Ubay bin Ka’ab meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa Baginda Nabi menafsirkan kalimat ”biayyamillah” sebagai nikmat-nikmat dan karunia Allah. Dengan demikian, makna ayat ini, ”Dan ingatkanlah mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia Allah.” Dan kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat dan disyukuri.

Rasulullah SAW memperingati hari kelahirannya dengan melaksanakan puasa pada hari itu. Ini terlihat dari jawaban beliau ketika beliau ditanya mengapa beliau melaksanakan puasa pada hari Senin.

Beliau menjawab, ”Pada hari itu aku dilahirkan dan hari itu aku diutus sebagai Rasul (atau hari itu diturunkan Alquran kepadaku). (H.R. Muslim)

Kisah Pembebasan Tsuwaibah

Para ulama menyebutkan dalam kitab-kitab hadis dan sirah tentang pembebasan Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah hamba sahaya milik Abu Lahab. Ketika Rasulullah SAW lahir, Tsuwaibah kembali ke rumah tuannya menyampaikan berita kelahiran Nabi. Karena senang menyambut kelahiran Nabi, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah dari status hamba sahaya. Al-Abbas bin Abdul Muthalib bermimpi bertemu dengan Abu Lahab, ia menanyakan keadaan Abu Lahab. Abu Lahab menjawab, ”Saya tidak mendapatkan kebaikan setelah kamu, hanya saja saya diberi minum di sini, karena saya membebaskan Tsuwaibah dan azab saya diringankan setiap hari Senin.”

Kisah ini disebutkan para ulama hadis dan sirah. Disebutkan oleh Imam Abdurrazzaq Al-Shan’ani dalam kitab Al-Mushannaf, Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari. Juga, Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari, Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah.

Karena ketika Tsuwaibah menyampaikan berita gembira kelahiran Muhammad bin Abdillah putra saudara laki-lakinya, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah (dari hamba sahaya). Maka, Abu Lahab diberi balasan atas perbuatannya itu.

Komentar Imam para ahli Qira’at Al-Hafizh Syamsuddin bin Al-Jazari seperti yang dinukil oleh Al-Hafizh Al-Suyuthi dalam kitab Al-Hâwi li Al-Fatâwa, jika Abu Lahab kafir yang disebutkan celanya dalam Alquran, ia tetap diberi balasan meskipun ia di dalam neraka, karena rasa senangnya pada malam Maulid Nabi. Maka, bagaimanakah keadaan seorang muslim yang bertauhid dari umat Nabi Muhammad SAW yang senang dengan kelahirannya dan mengerahkan segenap kemampuannya dalam mencintai Rasulullah SAW? Sungguh, pastilah balasannya dari Allah SWT ia akan dimasukkan ke surga karena karunia-Nya.

Pendapat Ulama

Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtihda Al-Shirath Al-Mustaqim li Mukhalafati Ahshabi Al-Jahim berkata, ”Mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan menjadikannya sebagai perayaan terkadang dilakukan sebagian orang, maka ia mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW.”

Sedang dalam kitab Tuhfah Al-Muhtaj fi Syarhi Al-Minhaj, Ibnu Hajar Al-Asqalani pernah ditanya tentang peringatan Maulid Nabi, beliau menjawab, ”Hukum asal melaksanakan maulid adalah bid’ah, tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan salafushshalih dari tiga abad (pertama). Akan tetapi, maulid itu juga mengandung banyak kebaikan dan sebaliknya. Siapa yang dalam melaksanakannya untuk mencari kebaikan-kebaikan dan menghindari hal-hal yang tidak baik, maulid itu adalah bid’ah hasanah. Dan siapa yang tidak menghindari hal-hal yang tidak baik, berarti bukan bid’ah hasanah.”

Kita sangat membutuhkan pelajaran-pelajaran berharga dari kekasih- kekasih Allah, yaitu para ulama, bahwa peringatan Maulid Nabi merupakan sarana penting untuk mengeratkan kembali umat manusia akan makna dan nilai-nilai akhlak mulia Rasulullah SAW.

Saya berkeyakinan bahwa hasil positif di balik peringatan Maulid Nabi adalah merekatkan kembali kaum muslimin dengan Islam dan mengeratkan kembali dengan sejarah Nabi. Selanjutnya, mereka senantiasa menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri teladan dalam praktik kehidupan nyata.

Semoga bermanfaat. (*)

*) Penulis adalah Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, Jatim (@gusali_bsh)

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like