Presiden AS, Donald Trump


PRESIDEN AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengesahkan sanksi terhadap Turki atas serangan militernya di Suriah. Sanksi diterapkan bagi individu, entitas atau pemerintah Turki. Tak hanya itu, Trump juga menjatuhkan sanksi dagang berupa kenaikan tarif baja sebesar 50% terhadap Turki.

“AS kini menerapkan otoritas sanksi terkait dengan serangan militer Turki yang sedang berlangsung di timur laut Suriah, yang membahayakan warga sipil dan sangat merusak kampanye anti-ISIS,” kata Menteri Luar Negeri Amerika serikat (AS) Mike Pompeo lewat akun Twitternya yang dikutip Guardian, Selasa (15/10).

Pompeo menambahkan, operasi destabilisasi oleh Turki ini terus berlanjut, dan kini telah menciptakan krisis kemanusiaan yang terus bertambah dan menghancurkan.

“Kami tetap berkomitmen untuk solusi politik untuk konflik di Suriah sejalan dengan UNSCR 2254. Tindakan sepihak Turki menyebabkan sanksi ini,” ujarnya.

Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin mengatakan, AS akan memungut sanksi terhadap menteri pertahanan, menteri dalam negeri, dan energi Turki. “Sanksi ini sangat, sangat kuat,” tuturnya.

Wakil Presiden AS Mike Pence, juga membuat pengumuman mengejutkan di depan Gedung Putih, untuk memberi wartawan kabar terbaru tentang konflik yang sedang berlangsung di Suriah.

“Trump berbicara kepada Presiden Erdogan hari ini melalui telepon. Trump ingin Turki menghentikan invasi dan memulai gencatan senjata segera,” kata Pence.

Sementara itu, pemerintah Cina juga mendesak Turki menghentikan operasi militernya di Suriah. Beijing menyerukan Ankara menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Suriah.

“Cina menyerukan Turki menahan diri dan menghormati kedaulatan Suriah. Semua pihak khawatir tentang kemungkinan konsekuensi dari operasi militer Turki,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Geng Shuang.

Selain China, telah cukup banyak negara, termasuk negara-negara Arab yang mendesak Turki menghentikan operasi militernya di Suriah. Pada Ahad lalu, Kanselir Jerman Angela Merkel melakukan pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk membahas perkembangan situasi di Suriah.

“Kami memiliki keinginan bersama bahwa serangan ini berakhir. Operasi militer Turki dikhawatirkan dapat menimbulkan bencana kemanusiaan serta mendorong milisi ISIS bangkit kembali,” ,” kata Macron seusai bertemu Merkel.

Menanggapi kecaman itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, operasi militer di bagian timur-laut Suriah adalah bukti kegagalan masyarakat internasional, untuk membantu Turki menangani jutaan pengungsi.

Di dalam satu artikel yang ia kirim ke The Wall Street Journal, Erdogan mengatakan tak satu negara pun telah merasakan sakit akibat krisis kemanusiaan yang berlangsung lebih parah, daripada yang dirasakan Turki sejak perang saudara Suriah meletus pada 2011.

“Ankara mencapai batasnya. Dunia tak mengacuhkan peringatan yang berulangkali disampaikan Turki mengenai ketidakmampuannya untuk menanggulangi masalah perawatan lebih dari 3,6 juta pengungsi Suriah tanpa dukungan internasional,” kata Erdogan.

Sejak pekan lalu, Turki membombardir kota-kota di timur laut Suriah. Dalam operasi yang diberi nama “Operation Peace Spring” itu Ankara hendak menumpas pasukan Kurdi yang menguasai wilayah perbatasan antara Suriah dan Turki.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) adalah pihak yang menjadi target militer Turki. SDF dikenal pula sebagai Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG). Mereka mengubah namanya menjadi SDF sejak bergabung dengan militer Amerika Serikat (AS) dalam memerangi milisi ISIS di Suriah.

Turki memandang YPG sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK). PKK adalah kelompok bersenjata Kurdi yang telah melancarkan pemberontakan di Turki tenggara selama lebih dari tiga dekade. Ankara telah melabeli YPG dan PKK sebagai kelompok teroris. (der/fin/kpc)

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like