Kondisi terkini lahan konservasi orang utan di Kalimantan. (dok Yayasan BOS)


Asap dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan mulai menyerang habibat orang utan. Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) mulai melakukan langkah untuk mencegah hewan langka ini tidak menjadi korban. Pasalnya, dari total lahan konservasi orang utan sudah 80 hektare yang terlalap api.

“Sejauh ini, total sekitar 80 hektar hutan gambut di wilayah kerja kami diterjang api. Dua puluh hektar di daerah Sei Daha, dekat Pusat Penelitian Tuanan, dan 60 hektar di Sei Mantangai, keduanya di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, terbakar,” ujar CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Rabu (18/9).

Jamartin menuturkan, kebakaran sejauh ini belum berdampak fatal pada orang utan. Api yang berkobar masih bisa dipadamkan oleh jajarannya dibantu masyarakat. Oleh karena itu, tim konservasi Mawas kini melakukan patroli dan pengawasan ketat terhadap kemungkinan munculnya titik api di seluruh wilayah kerjanya.

“Sampai saat ini kami belum melakukan penyelamatan atau evakuasi orangutan yang terancam kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yayasan BOS mencatat Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Kalimantan Timur mulai dilanda asap tipis. Diduga berasal dari hasil kebakaran. Untuk mencegah dampak buruk terhadap orang utan yang tengah menjalani rehabilitasi, tim medis memberikan susu dan multivitamin bagi semua orangutan berjumlah 130 individu.

Kegiatan luar ruang para orangutan muda di sekolah hutan juga dibatasi hanya beberapa jam. Bagi orang utan dewasa yang berada di dalam kompleks kandang, tim teknisi secara teratur melakukan penyemprotan untuk menjaga suhu kandang tetap sejuk.

Kabut asap ini jelas memengaruhi kondisi kesehatan manusia dan orang utan. Saat kabut asap muncul, partikel debu, dan karbon sisa pembakaran akan memasuki saluran pernafasan dan menyebabkan reaksi alergi yang berlebihan. Hal ini bisa memicu infeksi seperti bronchitis dan pneumonia akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.

“Namun sejauh ini belum ada orang utan yang terjangkit infeksi pernafasan atau biasa dikenal dengan ISPA,” terang Jamartin.

Sedangkan di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, api sempat mengancam. Di pekan pertama Agustus lalu, tim pemadam kebakaran sempat harus berjibaku melawan api yang mendekat sampai jarak sekitar 300 meter dari batas Nyaru Menteng. Beruntung api bisa dipadamkan setelah 4 jam kemudian. Selanjutnya dilakukan patroli untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Di pusat rehabilitas ini terdata ada 355 orangutan. Kondisi mereka mulai terancam apabila asap tak kunjung hilang. “Sebanyak 37 orangutan muda ditengarai telah terjangkit infeksi saluran pernafasan ringan,” kata Jamartin.

Para orang utan ini telah diberi pengobatan menggunakan nebulizer, multivitamin, dan antibiotik, terutama bagi orangutan yang dianggap mengidap infeksi parah.

Sementara itu, untuk Program Konservasi Mawas, Kalimantan Tengah di hutan gambut seluas 309 ribu hektar di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan juga menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan terbesar. Hal ini diakibatkan luas wilayah dan sulitnya memadamkan api di lahan gambut. Terlebih, di musim kering seperti saat ini, kondisi air di kanal sangat surut, membuat persediaan air untuk pemadaman sangat terbatas.

Api pertama ditemukan pada 3 September lalu di daerah Sei Daha, dekat Pusat Penelitian Tuanan. Meski dalam waktu relatif singkat api bisa dipadamkan, namun sifat hutan gambut yang unik dan mengandung berbagai bahan alami yang mudah terbakar seperti pakis, berdampak pada pemadaman tidak bisa tuntas.

Sampai hari ini titik panas masih ditemukan di daerah seluas kurang lebih 20 hektare tersebut. Tim Program Mawas yang terdiri dari pemadam kebakaran desa sekitar, tim peneliti, dan teknisi di Stasiun Penelitian Tuanan terus bekerja mengisolasi lokasi kebakaran dan mengamankan stasiun penelitian. Tidak kurang dari 8 sumur bor digali dan 5 unit pompa disiagakan untuk pemadaman api.

Sementara itu di daerah Sei Mantangai, api masih terus menjalar di wilayah yang terpisah-pisah seluas 60 hektare. Untuk memadamkannya, tim telah menggali 26 sumur bor untuk menyediakan air yang dibutuhkan untuk pemadaman. Kendala utama yang dihadapi adalah minimnya sumber air dan akses yang sangat sulit menuju lokasi kebakaran.(jpg)

 

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like