Pernahkah melihat selebaran orang hilang di jalan? Rata-rata didominasi lansia yang dicari keluarganya, karena hilang atau tersasar di jalan. Biasanya mereka tidak bisa mengingat sesuatu seperti jalan pulang atau keluarganya. Ciri-ciri itu sering dianggap masyarakat dengan istilah pikun atau lupa.

Lebih dalam lagi, pikun bisa jadi tanda dari gejala Alzheimer. Penyakit alzheimer sendiri merupakan bagian paling umum Demensia. Yup, sebagai bagian dari demensia, Alzheimer merupakan gangguan otak dengan gejala utamanya kesulitan mengingat sesuatu. Namun untuk memastikan, diperlukan pengecekan lebih lanjut. Maka dari itu, masyarakat tak boleh menganggap pikun adalah hal yang wajar.

Lantas apa yang bisa dilakukan untuk mencegah pikun?

Alzheimer’s Indonesia (ALZI) mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan di Bulan Alzheimer Sedunia (World Alzheimer’s Month) yang diperingati setiap September secara serempak di 100 negara. Dengan tema Let’s Talk About Dementia, ALZI mengajak setiap anggota masyarakat untuk berkontribusi dalam upaya pencegahan dan pengendalian demensia di Indonesia.

“Banyak masyarakat menganggap pikun hal yang normal. Padahal itu bisa dicegah,” kata Direktur Eksekutif Alzheimer’s Indonesia, Patricia Tumbelaka kepada JawaPos.com, baru-baru ini.

Menurutnya, demensia adalah penurunan fungsi otak yang memengaruhi daya ingat, emosi, pengambilan keputusan dan fungsi otak lainnya. Di Indonesia sendiri, masih banyak ditemukan keterlambatan deteksi orang dengan demensia (ODD) karena merasa malu untuk memeriksakan diri ke layanan kesehatan yang disebabkan berkembangnya mitos dan stigma negatif.

Saat ini diperkirakan jumlah orang dengan demensia (ODD) telah mencapai 1,2 juta orang pada 2019 ini. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah hingga 4 juta orang di tahun 2050 dan akan memberi beban ekonomi senilai lebih dari USD2,2 miliar.

Cegah Pikun

Di saat lansia atau pra lansia sudah lupa menaruh barang, banyak masyarakat yang memaklumi kebiasaan itu karena sudah tua. Padahal semua itu bisa diperlambat.

“Nyasar ke pasar, dan ketika sudah ada perubahan perilaku misalnya menuduh orang lain mengambil barangnya. Kemudian kasus lansia hilang sangat banyak karena enggak tahu jalan pulang. Ketika hal-hal itu muncul, baru keluarga menyadari. Itu padahal sudah masuk tahap menengah,” katanya.

Maka Patricia berharap pra lansia sudah rutin mengecek kesehatannya. Apalagi jika memang ada penyakit bawaan sebaiknya selalu cek secara rutin.

“Usia 40 pra lansia harus cek. Tak hanya gula darah, tensi, dan kolesterol, tapi kesehatan otak juga harus deteksi dini,” tuturnya.

Dokter Spesialis Olahraga dr. Sophia Hage, Sp. KO membenarkan bahwa saat ini mitos yang salah di masyarakat masih menganggap bahwa pikun itu normal dan tak bisa dicegah. Pikun bukan bagian dari penuaan.

“Pikun itu enggak normal. Bukan bagian dari penuaan. Ada yang salah sehingga harus diperiksakan dan ditangani medis,” jelas dr. Sophia.

Menurutnya, pikun bisa dicegah dan diperlambat salah satunya dengan olahraga. Olahraga terbagi dua, yakni untuk mencegah maupun bagi yang sudah terkena demensia.

1. Olahraga Mencegah Demensia

Olahraga resiko terjadinya demensia adalah kombinasi olahraga aerobik dan kekuatan otot serta koordinasi. Misalnya i, sepeda, lari, senam aerobik. Lalu kekuatan otot bisa menggunakan berat badan sendiri.

“Harus 3-5 kali seminggu, 150 menit seminggu. Koordinasi melibatkan gerakan kanan dan kiri. Melatih koordinasi, sebelah kiri ke kananalu kanan ke kiri otak berpikir koordinasi. Melancarkan proses berpikir. Untuk yang masih usia muda, boleh juga melakukan zumba, TRX, pilates untuk mencegah demensia,” ungkapnya.

2. Olahraga Bagi Pasien Demensia

Bagi lansia dengan demensia tentu olahraganya tak mungkin menggunakan kekuatan otot berlebihan. Namun durasinya tak berubah, tetap 3-5 kali seminggu, 150 menit seminggu.

“Hanya jenis olahraga yang berubah. Disesuaikan tahapan demensianya. Baru lupa-lupa misalnya, masih bisa lakukan aktivitas sendiri. Lalu kalau sudah tunjukkan kebingungan bisa jogging, naik sepeda statis atau disesuaikan dengan kesenangannya apa. Sehingga bisa memperlambat,” tutup dr. Sophia.(jpg)

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like