Oleh: dr. Rositania Manyang Budihardjo


Batuk dan pilek sering dianggap sebagai penyakit yang biasa oleh masyarakat awam karena tidak menyebabkan kematian, tapi jika penyakit batuk pilek ini tidak diobati dengan baik dan benar maka akan menimbulkan gangguan kesehatan lain yang bisa menghambat aktivitas penderitanya.

Salah satunya adalah Otitis Mediayang disingkat dengan OM atau infeksi pada telinga bagian tengah yang disebabkan oleh adanya sumbatan pada saluran yang menghubungkan antara saluran nafas atas dan telinga bagian tengah yaitutuba eustachius akibat dari batuk pilek lama yang tidak sembuh dan tidak diobati dengan baik sehingga kuman akan masuk ke dalam telinga tengah dan menyebabkan infeksi. Infeksi tersebut akan menimbulkan cairan yang terus menumpuk dan mendesak gendang telinga, akibatnya terjadi kebocoran dan cairan tersebut keluar dari gendang telinga dan dikenal sebagai congek selain itu juga secara langsung terjadi penurunan pendengaran.

Kasus OM terbanyak memang terjadi pada anak usia dibawah 10 tahun serta bayi usia 6 sampai 15 bulan, dikarenakan faktor anatomi tuba eustachius pada anak lebih mendatar dibanding orang dewasa, sehingga infeksi pada hidung cepat menyebar ke telinga. Selain itu daya tahan tubuh pada anak dan bayi belum sempurna sehingga penyebaran infeksi lebih mudah terjadi apalagi pada bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif.

OM dibagi menjadi dua katagori berdasarkan waktu yaitu OM akut jika terjadinya kurang dari dua bulan, dan OM kronik jika terjadi lebih dari dua bulan, dilihat dari jenis cairannya , OM dapat dibagi menjadi tipe supuratif, yakni jika cairan yang keluar dari telinga cenderung lebih kental, seperti lendir dari hidung, dan tipe nonsupuratif jika cairan cenderung lebih cair dan jernih.

Gejala OM pada tahap awal adalah adanya demam, rasa nyeri pada telinga, keluarnya cairan berbau dari dalam telinga, telinga terasa penuh dan tertutup, sehingga kemampuan mendengar akan menurun. Mengingat OM  sering terjadi pada anak-anak dan bayi, orang tua dituntut untuk lebih jeli melihat gejala yang ditunjukan pada bayi dan anak yang belum bisa berbicara, yaitu anak dan bayi akan terlihat gelisah, sering memegang telinga serta akan sering menangis karena nyeri. Pada keadaan tertentu anak dan bayi yang mengalami OM akan terlihat tenang, karena cairan yang semula menekan gendang telinga berhasil keluar karena gendang telinganya pecah, inilah yang disebut fase supuratif akut. Dan bila OM ini tidak ditangani dengan baik lebih dari dari dua bulan maka infeksinya dapat berkembang kearahfase kronik, gejalanya adalah keluarnya cairan dari telinga secara terus menerus maupun hilang timbul.

Penanganan pasien dengan OM adalah segera membawa pasien ke dokter umum atau ke dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorok) terdekat, untuk selanjutnya akan diberikan obat-obatan seperti obat untuk mengurangi rasa sakit, antibiotik, obat cuci telinga, obat tetes telinga serta obat untuk mengurangi radang pada telinga. Terapi yang diberikan tergantung pada fase mana infeksi OM tersebut, lama terapi biasanya 2 sampai 4 minggu hingga kondisi pasien membaik. Gendang telinga yang semula bocor, umumnya dapat membaik dengan sendirinya secara spontan dalam waktu 2-3 bulan, akan tetapi jika gendang telinga tidak menutup dalam kurun waktu 3 bulan tindakan operasi diperlukan untuk mengatasinya.

Komplikasi yang dapat terjadi jika infeksi telinga tersebut tidak ditangani dengan baik adalah timbulnya infeksi pada telinga dalam atau disebut sebagai labirinitis, infeksi juga dapat menyebar pada tulang mastoid yang terletak dibelakang telinga atau disebut mastoiditis. Sebelum ditemukannya antibiotik, infeksi pada telinga juga dapat menyebabkan komplikasi yag serius diantaranya infeksi pada selaput otak seperti meningitis atau abses otak. Oleh karena itu, disarankan agar orangtua tetap memeriksakan anaknya ke dokter walaupun gejala infeksi telinganya telah sembuh.

Perlu diketahui pencegahan penyakit OM yaitu dengan menjauhkan bayi dan anak-anak dari lingkungan yang berasap atau lingkungan perokok, menghindari kontak langsung dengan penderita infeksi pernafasan atau yang sedang mengalami influenza, pemberian vaksin influenza serta ASI eksklusif hingga 6 bulan juga sebagai tindakan preventif yang efektif pada bayi. Kebiasaan yang perlu dihindari adalah mengorek telinga dengan cotton bud, karena dapat memperparah peradangan pada telinga, hindari juga memberikan makan pada anak dan bayi dalam posisi berbaring, dan jangan membuang ingus melalui hidung terlalu keras saat sedang flu.

Artikel ini dibuat melihat dampak kabut asap yang sedang terjadi di Kalimantan Tengah saat ini, dan diharapkan orangtua dapat mengambil tindakan yang tepat kepada anak dan bayi yang sedang mengalami Batuk Pilek agar tidak sampai mengalami infeksi pada telinga.(Penulis adalah dokter di RSUD Pulang Pisau)

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like