Ilustrasi kilang minyak bumi. (foto: net)


SETIAP kali wilayah Timur Tengah ricuh, pelaku industri global migas kalut. Alasannya pasti sama. Jalur migas dari negara-negara Timur Tengah bakal terhambat dengan keadaan nonkondusif.

Keadaan itu terulang saat isu Iran memanas. New York Times merilis bahwa harga minyak mentah Brent meningkat 3,5 persen menjadi USD 61 (Rp 853 ribu) per barel Kamis lalu (11/7).

Satu-satunya alasan yang menahan harga komoditas fosil tersebut meroket adalah ekonomi Tiongkok, konsumen migas terbesar, yang lesu.

''Kapal dari berbagai negara pasti melalui jalur tersebut. Jika jalur tak aman, risiko pasokan pasti meninggi,'' ujar Paolo d'Amico, ketua International Association of Independent Tanker Owners.

Pertanyaannya, apakah tak ada solusi lain? Masalah klise itu seperti berulang. Jika Selat Hormuz tertutup, 20 persen pasokan minyak bakal tersendat. Konsumen dari Asia merupakan pelanggan terbesar dari negara-negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, atau Oman.

Pemerintah Arab Saudi dan Qatar sudah berupaya membuat jalur alternatif. Mereka membangun jalur pipa migas lintas negara sampai ke luar perairan teluk. Namun, jalur tersebut pun masih rentan terhadap serangan. Pada Juni lalu, jaringan pipa itu diledakkan kelompok Houthi dan membuat pasokan minyak terhenti sementara.

''Menurut saya, jalur-jalur alternatif ini tidak efisien. Apalagi, mereka jauh dari pangsa pasar utama, yaitu Asia,'' ujar pakar migas Kuwait Kamel al-Harami kepada Agence France-Presse. (bil/c19/dos/jpnn/kpc)

You Might Also Like