Ketua IKMAPA Tangsel Wahid Noor Rahman saat bukber aliansi mahasiswa Kalimantan di Istana Banjar, Ciputat, Jakarta, Kamis (16/5).


RENCANA pemindahan ibu kota pemerintahan RI ke luar Pulau Jawa, bukan hanya dibahas pemuda Palangka Raya di Bumi Tambun Bungai, namun juga para mahasiswa asal Kota Cantik Palangka Raya serta Kalteng maupun Kalimantan yang berada di Jakarta.

Ramadan, menjadi momen spesial bagi Aliansi Mahasiswa Kalimantan yang terdiri dari Ikatan Mahasiswa Palangka Raya (IKMAPA) Tangsel, IMKA JAYA (Kalteng), Persatuan Mahasiswa Kalsel di Jakarta (PMKS Jakarta), AMKS Jakarta, untuk menggelar buka bersama (bukber) dan tadarus di Istana Banjar, Ciputat, Jakarta, Kamis (16/5). Buka puasa bersama dan ramah tamah antaraktivis di Jakarta ini juga diisi kegiatan diskusi bertema menyongsong ibu kota baru Palangka Raya dan Tanah Bumbu.

Ketua IKMAPA Tangsel Wahid Noor Rahman mengatakan, pro dan kontra pemindahan itu wajar. Namun, kata dia, ini mesti dijadikan sebagai momentum peningkatan SDM di berbagai lini, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, budaya, dan lainnya.

“Ini yang terpenting. Karena jadi atau tidaknya ibu kota dipindahkan, kita sudah siap. Jika benar dijadikan ibu kota, maka kita sudah siap dan siap bersaing. Jika tidak pun, kita sudah setara dengan kota-kota maju,” kata dia melalui rilisnya yang diterima Kalteng Pos.

Menurut dia, kegiatan bukber yang dirangkai dengan diskusi pemindahan ibu kota ini juga jadi sinyal bahwa mahasiswa di Jakarta sudah punya sikap terkait pemindahan ibu kota.

“Pada intinya, pemindahan ibu kota ini harus benar-benar dipertimbangkan dengan matang dan berdampak jangka panjang oleh pemerintah, khususnya Presiden Jokowi. Ini untuk kemaslahatan masyarakat lokal maupun kemaslahatan bangsa ini,” pungkas dia.

Sementara, Ketua Panitia Muqsith Iqbal mengharapkan kegiatan ini bisa memancing kepedulian anak muda Kalimantan terhadap isu-isu daerah. Tidak sampai di situ, hasil sumber daya alam pun tak lepas dari sorotan pada diskusi tersebut. Ketua PMKS Jakarta Lutfhi Ramadhan cukup mempertanyakan hasil sumber daya alam di Kalimantan, jika memang ibu kota dipindahkan.

Diskusi ini, berlangsung dinamis dan diakhiri dengan doa serta tarawih bersama untuk kebaikan Kalimantan. Suasana kekeluargaan, dan kerinduan akan kampung halaman maupun Kalimantan pun terobati dengan menu santapan berbuka nasi kuning dan masak habang. (ami/ctk/nto)

You Might Also Like