Naniek Yunita saat memasang mote pesanan baju adat di rumahnya, Jalan Kalimantan, Palangka Raya, Sabtu (18/5).(ANISA/KALTENG POS)


Tidak ada yang bisa menghalangi keinginan seseorang jika sudah menjadi hobi. Terkadang kesuksesan pun dapat diraih dengan menggeluti dan menekuni hobi. Seperti yang dilakukan Ari Krisnanda bersama keluarganya.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

 

KECINTAANYA terhadap musik memotivasi Ari Krisnanda agar semakin hari semakin mendalaminya. Kini ia tak hanya memainkan musik ke daerah-darah hingga level nasional. Namun, ia mampu menciptakan alat musik sendiri melalui karya tangannya yang lihai dalam memetik setiap senar kecapi itu.

“Semuanya autodidak. Saya bermain musik juga autodidak. Pekerjaan ayah saya membuat alat musik. Saya bisa membuat alat musik sendiri, meskipun ayah saya tidak pernah mengajari,” beber pria berkulit cokelat ini.

Kini tak hanya ia dan tangan lihainya yang pergi ke beberapa daerah untuk bermain alat musik. Tetapi, produk-produk alat musik karyanya juga sudah tersebar di beberapa daerah hingga ke luar Pulau Kalimantan.

“Saya pernah bermain musik di Jakarta, Bandung, dan Jogja (Yogyakarta). Saat ini alat musik saya juga sudah mulai dikenal dan dipesan oleh masyarakat Pulau Jawa, seperti kecapi dan suling. Kalau yang mesan gendang kebanyakan dari daerah Kalteng saja,” jelasnya.

Tidak hanya Ari dan ayahnya saja yang setiap hari bergelut dengan alat musik. Keluarga ini secara keseluruhan juga bergelut di bidang seni. Kakak dan kedua adiknya pun menggeluti bidang tari. Ibunya menggeluti pembuatan baju khas Kalteng.

“Sebetulnya yang memiliki darah seni itu dari ayahnya yang diturunkan ke anak-anaknya. Awalnya saya hanya mencoba saja, tapi akhirnya menjiwai. Saat ini menekuni pembuatan dan menerima jasa memasang mote baju adat,” ungkap Naniek Yenita, ibu Ari.

Produk buatan tangannya ini pun juga sudah mulai dikenal secara luas hingga Pulau Jawa. Bahkan, belum lama ini pihaknya mengirimkan baju adat Kalteng ke Provinsi Riau.

“Bahan-bahannya dari kulit kayu yang saya pesan dari Pulau Jawa. Saya mengolahnya sesuai keinginan pemesan. Terkadang hanya menerima jasa pasang motenya saja,” ucap perempuan berusia 51 tahun ini.

Perempuan paruh baya ini tidak ingin seni produk-produk khas Kalteng berhenti padanya. Karena itu ia tularkan kegiatannya sehari-hari kepada saudara-sauadara perempuan yang terbilang masih muda. Selain mengajarkan untuk mandiri dengan menghasilkan uang sendiri, juga mengajarkan mereka akan budaya agar tak punah.

 

“Ponakan-ponakan yang masih muda saya ajak dan saya ajari agar bisa meneruskan usaha ini. Jangan sampai punah tergerus zaman,” pungkasnya. (*/ce)

You Might Also Like