Ari Krisnanda saat memainkan kecapi di pintu rumahnya di Jalan Kalimantan, Kota palangka Raya, Sabtu (18/5). (ANISA/KALTENG POS)


Ari Krisnanda suka memainkan kecapi alat musik tradisional dayak Kalteng. Ayahnya sehari-hari juga bergelut dengan alat musik. Kakak dan kedua adiknya menggeluti bidang tari. Pun ibunya, ibunya menggeluti pembuatan baju khas Kalteng. Seperti apa kisah keluarga seniman dari Kota Palangka Raya ini? berikut ulasanya.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

 

KALIMANTAN Tengah memang terkenal dengan budaya yang elok. Tariannya, pakaian adatnya hingga alat musik yang kerap kali menghipnotis penonton yang mendengarnya. Tidak hanya sekali dua kali saja kalteng memperoleh penghargaan dalam bebrapa ajang nasional di bidang pentas seni.

Kalteng Pos mencoba mencari salah seorang yang turut andil membanggakan Kalteng dalam kancah nasional, tentu dalam hal keseniannya. Namanya Ari Krisnanda, pria sederhana yang pernah mengaharumkan nama Kalteng dalam lomba seni akustik di Jakarta pada Tahun 2014 lalu.

Rumah kayu di belakang RT XX, Jalan Kalimantan, Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya. Melalui gang kecil kira-kira lebar hanya satu meter. Tak terlihat memang, tapi disitu ada kisah keluarga seniman yang tak banyak dikenal. Hidup dengan hasil memainkan dan memproduksi alat musik. Disinilah Ari bersama keluarganya menggeluti bidang seni sehari-harinya.

“Saya memang tidak pernah sekolah musik, tetapi saya suka dari kecil hingga saat dewasa masuk ke sanggar dan mulai bermain musik, dari situlah saya bisa bermain musik hingga saat ini,” katanya saat dibincangi Kalteng Pos di rumahnya, Sabtu (18/5).

Alat musik yang kerap ia mainkan adalah alat khas Kalteng, kecapi. Meski saat ini masyarakat khususnya anak-anak muda sudah mulai menggeluti alat musik modern, tapi tidak dengan pria 29 tahun ini. Baginya, bermain kecapi memiliki sensasi tersendiri terlebih ini adalah alat musik asli Kalteng.

“Tidak ada keinginan menggunakan alat musik modern, karena saya senang menggunakan kecapi apalagi ini khas Kalteng yang harus dilestasikan,” katanya.

Kecintaanya kepada alat musik harus mengorbankan gelar sarjananya yang sudah ia tempuh selama empat tahun lamanya. Pasalnya, ia sudah menerima gelar sarjana pendidikan kewarganegaraan. Namun sama sekali tidak pernah ia pergunakan.

“Mama saya sudah sering meminta saya bekerja sesuai bidang saya, tetapi hati saya menolak karena jiwa saya tidak disana, saya hanya ingin menjadi seorang pemain musik,” ucapnya. (*bersambung)

You Might Also Like