Ilustrasi. (foto: net)


KEMAJUAN teknologi sangat membantu manusia. Zaman now, semua bisa dilakukan dan diraih dengan cepat. Dengan internet, semuanya bisa dilakukan dengan instan.

Telepon juga bertransformasi. Dulu seukuran balok kayu. Kini lebih tipis. Canggih pula. Kirim kabar cepat. Dulu SMS (short message service). Kini berganti WA atau What’s App. Bahkan kini bisa video call. Kini, mau pesan berbagai barang keperluan atau makanan favorit tinggal buka google.com dan klik handphone.

Lalu pesanan diantar. Melalui layanan delivery order restoran atau ojek online. Interaksi antaramanusia akhirnya mulai berkurang. Bahkan bisa dibilang sudah mulai hilang.

Kecanggihan teknologi juga membawa efek cukup buruk bagi jiwa manusia. Dengan teknologi, tidak ada lagi interaksi antarpersonal. Saya sempat marah dengan keponakan yang ngucapin selamat ulang tahun melalui WA.

Atau kepada pejabat di Pemprov Banten yang ngucapin selamat Hari Raya Idul Fitri melalui WA. Semuanya gak saya jawab. Saya gak bales. Biarin dibilang Gubernur sombong kek. Saya tidak peduli. Saya mau ada wujudnya. Semua yang ngucapin itu semua bertemu saya. Ada interaksi antara saya dan orang yang ngucapin.

Bukannya saya mau didatengin. Bukan itu. Saya inginnya bertemu dan berinteraksi langsung. Dengan berinteraksi langsung kita bisa jalin silaturahmi karena udah lama gak ketemu. Nanyain kabar dan ngobrol ngalor ngidul. Dengan interaksi langsung itu timbul aksi dan reaksi kemanusiaan kita.

Saya bilang sama keponakan yang mengucapkan ulang tahun melalui WA. Sini datang ke rumah Uwak luh (uwak bahasa Betawi artinya paman). Datang ke sini kita ngobrol. Ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan dengan handphone yang secanggih apapun dan harganya semahal apapun.

Nah, interaksi antarmanusia ini saya terapkan sejak jadi Wali Kota Tangerang selama dua periode. Pun saat sudah jadi Gubernur Banten. Makanya saya kalau dapat laporan warga misal tentang jalan rusak, saya ajak langsung pejabat terkaitnya. Mau siang, mau malam saya datengin. Setelah lihat lokasi langsung dieksekusi perbaikannya saat itu juga. Gak pake lama. Apalagi menyangkut kepentingan masyarakat.

Saya dulu senang berinteraksi dengan warga. Berbicara dengan warga bisa menyelesaikan permasalahan yang sebelumnya tidak bisa diselesaikan oleh tataran dinas.

Saat jadi Wali Kota Tangerang dulu. Saya sempat tongkrongin (menunggui, Red) rumah warga keturunan Arab  di kawasan Ciledug yang tidak mau menjual 3.000 meter tanahnya untuk proyek underpass Ciledug. Keukeuh itu keturunan Arab tidak mau jual tanah. Alasannya karena warisan orang tua. Deadline proyek sudah dekat. Kalau tanah belum dibebaskan gagal deh proyek underpass pertama di Banten.

Akhirnya saya datengin rumahnya. Saya tidak bicara apa-apa sama itu pemilik tanah. Dari pagi sampai menjelang sore saya duduk-duduk saja di rumahnya. Akhirnya menjelang sore, keturunan Arab itu nyerah. Gerah kali rumahnya saya tungguin. Akhirnya mau  juga jual tanahnya. Itulah maksud saya ujud manusia harus ditampilkan dalam berkomunikasi dengan sesama manusia. Tidak ada yang tidak bisa diselesaikan jika antarmanusia sudah bertemu dan bersilaturahmi. Dan, silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Teknologi ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi memudahkan urusan manusia. Di sisi lain manusia menjadi tergantung kepadanya. Teknologi memang perlu. Namun, teknologi jangan sampai mengendalikan hidup manusia. Kitalah yang harus mengendalikan teknologi. Janganlah karena teknologi kita tidak menjadi manusia lagi. Tidak menghargai sesama manusia dan menghilangkan kehangatan berwarga negara. (*)

You Might Also Like