Penjual bunga dadakan membuka lapak jualan di samping pintu masuk TPU Kristen, Jalan Tjilik Riwut km 2, Jumat (19/4). (DANANG/KALTENG POS)


Momentum Paskah tahun ini dimanfaatkan oleh pedagang bunga. Mereka menggelar dagangannya di kawasan tempat pemakaman umum (TPU) umat Kristiani. Sebagaimana sudah menjadi tradisi, menjelang Paskah umat Kristiani melaksanakan ziarah ke makam. Tak perlu repot-repot lagi membawa bunga dari rumah menuju ke pemakaman, karena di sana sudah ada pedagang yang membuka lapak berjualan bunga.

 

DANANG, Palangka Raya

 

TRADISI ziarah ke makam menjelang Paskah menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh pedagang bunga. Sebab, itulah kesempatan mereka untuk meraih omzet besar dari penjualan bunga kepada umat Kristiani yang melaksanakan ziarah ke lokasi pemakaman. Omzet ratusan ribu hingga jutaan rupiah per hari didapatkan oleh pedagang bunga.

Di Kota Palangka Raya, belasan pedagang bunga dadakan berjajar di pinggir jalan pintu masuk pemakaman umum Kristen, Jalan Tjilik Riwut km 2. Warna-warni bunga yang indah tampak dari kejauhan. Aroma segar bunga tercium ketika mendekati lapak jualan itu.

"Setiap perayaan Paskah, kami berjualan bunga di sini. Sudah buka dari kemarin, cuma belum seramai ini yang jual bunga. Kemarin sudah dapat untung satu jutaan. Untuk hari ini (kemarin, red) hingga esok (hari ini, red) pasti lebih dari itu," ucap pedagang bunga bernama Melia (17) kepada Kalteng Pos, Jumat pagi (19/4).

Jenis bunga yang dijual oleh para pedagang beragam. Dia antaranya mawar, krisan, rangkaian, serta bunga rampai. Bunga-bunga itu dijual dengan harga yang variatif. Rp35 ribu hingga Rp250 ribu per potnya, disesuaikan dengan kualitas dan jumlahnya. Para pedangan ini mampu menjual puluhan dari berbagai jenis ukuran pot bunga. Dari penjualan itu mereka mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta.

"Seperti tahun lalu. Dari awal buka sampai hari-H nanti bisa dapat untung Rp20 jutaan," ungkapnya.

Melia menambahkan, ia berjualan bunga hanya saat Paskah saja. Sehari-harinya ia bergelut dengan usaha salon kecantikan di Jalan Lawu.

"Kalau hari biasa buka salon punya tante saya," tambahnya.

Selain Melia, ada juga penjual bunga yang datang dari Banjarmasin. Karena omzet yang bisa didapatkan cukup menggiurkan, Ardi (23) rela datang dari Banjarmasin ke Palangka Raya hanya untuk berjualan bunga.

"Setiap perayaan Paskah saya berjualan bunga di Palangka Raya, karena di Banjar tidak seramai seperti di Palangka Raya. Di sana mayoritas beragama Islam," sebutnya.

Ia menjual bunga dengan harga Rp45 ribu hingga Rp200 ribu. Bunga-bunga yang dijual itu dikirim dari Jawa Timur, yakni Surabaya dan Malang. Harga bunga yang dibelinya cukup mahal. Jadi, wajar saja jika satu pot kecil dijualnya dengan harga Rp30 ribu.

"Harga satu kolinya bisa mencapai empat jutaan. Satu koli itu ada 100 bungkus dan isinya seribu tangkai. Terkadang bunga yang diterimanya itu ada yang rusak. Namun, pihak pengirim biasanya mengirim lebih dari pesanan," ungkapnya.

Dia menuturkan, penjualan bunga ini dilakukannya hanya sampai malam Minggu.

"Puncak perayaan Paskah itu pada hari Sabtu. Jadi, kemungkinan ramainya pada malam Minggu. Hari Minggu saya sudah kembali ke Banjarmasin. Jadi mau nggak mau harus habis terjual," pungkasnya. (*/ce/ala) 

You Might Also Like