Ilustrasi


Masyarakat Indonesia telah melaksanakan pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu) serentak 2019. Namun, pelaku usaha masih menahan diri terhadap investasi jangka panjang.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, pertumbuhan investasi akan kembali pulih setelah susunan pemerintahan dan kebijakan baru telah terbentuk.

“Kredit investasi kalau menurut saya ini agak slow sedikit melambat karena ini investasi jangka panjang sekali. Mungkin di semester 2 baru keliatan kredit investasinya meningkat jadi semua yang wait and see sudah Clear,” tuturnya.

Di sisi lain, bagi perbankan buku III dan IV kemungkinan akan mengimbangi rasio kredit dan likuidasinya pasca pemilu. Pasalnya, saat ini Loan to Deposite Ratio (LDR) berada di angka 94 persen.

“Karena sebelumnya ada wait and see pemilu tapi sekarang sudah relatif lumayan ya tapi ngga terlalu. Sekarang (likuiditas) agak ketat LDR 94 persen maka bank buku 1 dan 2 yang modalnya sedikit kecil mungkin akan sedikit menahan melakukan kredit Karena dia terikat likuiditas yang sedikit mengetat,” ucapnya.

Bhima menambahkan, Outlook pertumbuhan kredit tahun ini diperkirakan lebih stabil tidak seperti tahun 2018 diangka 9,5 hingga 10 persen. Asumsi tersebut berdasarkan dengan kondisi likuiditas dan efek kenaikan suku bunga tahun 2018 yang masih terasa sampai sekarang.

“Jadi pelaku usaha cost of borrowing bertambah. Kecuali Bank Indonesia mau nurunin bunga, mungkin bisa jadi stimulus pertumbuhan kreditnya bagus nanti disemester kedua akan ada kenaikan. Saya optimis aja,” tandasnya.(jpc)

 

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like