Peran Ahli Forensik

Mengungkap Kasus dengan Barbuk Darah

 Sabtu, Tanggal 03-11-2018, jam 01:22:22
Oleh : Kharina Waty S.Si

KASUS kriminal yang terjadi di Indonesia khususnya Kalteng, memerlukan seorang ahli khusus dalam pembuktiannya salah satunya seorang ahli dalam bidang forensik. Ahli forensik yang ada di Indonesia hanya berjumlah sekitar 250 orang. Tidak seimbang dengan tingkat kejahatan yang berkembang pesat.

Membutuhkan pembuktian dari seorang ahli di dalam pengadilan kasus pidana. Setiap kejadian pasti ada sebab dan akibat. Diketahui melalui jejak yang ditinggalkan di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Inilah yang disebut dengan Locard’s Exchange Principle yaitu “every contact leaves a trace,” yang artinya “setiap kontak meninggalkan jejak” sebagai sakti bisu adanya tindak pidana kejahatan.

Pada kasus kriminal pembunuhan, bunuh diri, pemerkosaan, pemukulan, pembacokan tidak pernah luput dari barang bukti seperti darah. Oleh karena itu, penting adanya pemeriksaan darah untuk kasus kriminal yang ditangani oleh seorang ahli agar pelaku dapat segera di temukan dan korban dapat teridentifikasi. Di Tempat Kejadian Perkara (TKP), darah yang ditemukan bisa berupa darah kering atau darah basah.

Penanganan barang bukti darah berbeda sesuai dengan kondisinya serta barang bukti dalam kepentingan forensik di temukan dalam jumlah kecil. Darah segar mempunyai nilai yang lebih penting dari darah kering, karena uji darah segar dapat memperoleh hasil yang lebih baik.

Bukti fisik (Real/Physical Evidence) yaitu barang bukti sebagai bukti keberadaan saat kejadian yang berbentuk dan terukur salah satunya adalah barang bukti darah.

Darah akan mengering setelah kontak dengan udara luar dalam waktu 3-5 menit. Begitu darah mongering, maka akan berubah warna dari semula berwarna merah menjadi warna cokelat kehitaman.

Darah dalam kasus kriminal dapat berbentuk genangan darah, kondisi yang baik dalam identifikasi, tetesan dapat diketahui darah jatuh dari ketinggian berapa dan sudut berapa, usapan dapat menunjukan sudut awal usapan yaitu bentuk besar, dan kemudian mengecil pada akhir sudut usapan atau berbentuk kerak kering untuk menguji darah tersebut darah manusia atau bukan darah manusia (Darmono, 2009).

Pada pengkoleksian barang bukti harus dipertahankan keasliannya. Noda darah diambil menggunakan metode usapan (swab test) yang sudah dilembabkan larutan khusus, lalu dimasukkan ke dalam penyimpanan berupa amplop kertas khusus untuk mencegah tumbuhnya jamur, dan diserahkan ke laboratorium forensik untuk identifikasi pemilik noda darah tersebut.

Jika barang bukti ditemukan pada pakaian korban atau pelaku, maka harus disita oleh penyidik dan diidentifikasi oleh tim forensik.

Pada saat identifikasi ada beberapa hal yang harus dilakukan mengetahui noda darah manusia atau bukan, menentukan golongan darah serta melakukan pencocokan darah pelaku atau korban yang ditemukan di TKP menggunakan tes DNA.

Pada contoh kasus pembunuhan darah yang melekat pada senjata atau baju tersangka, dapat dicocokkan apakah benar di senjata tersebut darah korban dan benar senjata tersebut digunakan saat pembunuhan terjadi. Darah korban juga dapat terciprat ke pakaian tersangka karena adanya perlindungan diri dari korban dan sikap berontak dari korban.

Walaupun pakaian sudah dicuci bersih, akan dapat diidentifikasi bekas darah pada pakaian tersangka pembunuhan. Karena noda darah memang hilang saat pencucian tetapi unsur di dalam darah yaitu hemoglobin, tidak bisa dihilangkan dengan mudah saat pencucian.

Tes yang paling mudah yaitu menggunakan tes luminol, yaitu memanfaatkan pendaran/cahaya yang muncul saat larutan tersebut di teteskan ke bekas darah atau noda darah.

Oleh karena itu, ahli forensik tetap bisa mengidentifikasi tersangka pembunuhan walaupun noda darah sudah hilang atau dengan sengaja dihapuskan. Begitu juga dengan kasus-kasus lain dengan barang bukti berupa darah manusia.

Dalam perkembangan jaman yang modern, tipe kejahatan dan cara menjalan kejahatan juga berkembang tetapi ahli forensik bisa melakukan identifikasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang juga terus berkembang pesat. Pemeriksaan dengan barang bukti darah pun berkembang dengan tes DNA menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR).

Pada penegakan hukum di Indonesia, alat bukti yang ditemukan penyidik dan telah di identifikasi oleh ahli forensik memiliki kekuatan hukum. Sesuai Pasal 184 ayat 1 KUHP berbunyi “alat bukti yang sah ialah Keterangan Saksi, Keterangan Ahli, Surat, Petunjuk dan Keterangan Terdakwa”.

Ahli forensik dapat memberikan pendapat sesuai kelilmuannya sebagai Keterangan Ahli dan hasil identifikasi berupa surat dapat diajukan ke pengadilan. Terdakwa dinyatakan bersalah sekurang-kurangnya memiliki 2 alat bukti yang sah dihadapan pengadilan.

Perlu diketahui bahwa untuk proses identifikasi barang bukti berupa darah, penyidik akan mengirimkan barang bukti ke Laboratorium Forensik Cabang Surabaya, Jawa Timur. Hal ini dikarenakan area service Laboratorium Forensik hanya ada 6 lokasi di Indonesia – Kalteng merupakan area service Labforcab Surabaya. (*)

(Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Forensik Universitas Airlangga Surabaya)

Berita Terkait