Saudi Menolak Memberi Tahu Keberadaan Jenazah Khashoggi

 Sabtu, Tanggal 03-11-2018, jam 12:39:49
Sejumlah warga Turki menyalakan lilin sebagai bentuk dukungan terhadap almarhum Jamal Khashoggi yang tewas dibunuh di Konsulat Saudi di Turki 2 Oktober lalu. (OSMAN ORSAL/REUTERS)

ISTANBUL - Harapan Turki kandas. Arab Saudi tidak mau bekerja sama dengan mereka untuk mengungkap kasus pembunuhan Jamal Khashoggi. Saudi terkesan berbelit-belit dan menutup diri. Padahal, investigasi Turki mengarah pada kesimpulan bahwa Saudi tahu di mana jenazah tunangan Hatice Cengiz itu berada.

Pada Kamis (1/11), Menteri Kehakiman Abdulhamit Gul menyampaikan kekecewaan Turki di hadapan media. ''Kami ingin mereka menjawab teka-teki tentang jenazahnya (Khashoggi),'' ujarnya sebagaimana dilansir Reuters.

Kolumnis Washington Post itu dipastikan meninggal pada 2 Oktober 2018. Tepat pada jadwal kedatangannya ke Konsulat Saudi di Istanbul untuk mengambil dokumen perceraiannya dengan istri sebelumnya.

Berdasar paparan jaksa penuntut umum Turki pada Rabu (31/10), Khashoggi dicekik sesaat setelah masuk gedung. Tubuhnya dimutilasi, lantas dibuang.

Nah, lokasi pembuangan itulah yang ingin diketahui Turki. Saudi mungkin tak akan pernah mengungkapkannya. Sebab, itu berarti mereka harus mengakui pembunuhan sadis oleh Tiger Squad. Hal itu jelas akan memicu amarah dunia.

Terpisah, Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev mengundang Raja Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) untuk berkunjung.

Nazarbayev selama ini diketahui dekat dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dia ingin menjembatani dua negara dalam kasus Khashoggi. Pada 2015 Kazakhstan jualah yang menengahi perseteruan Turki dan Rusia.

Sementara itu, Al Faisal, mantan Dubes Saudi untuk AS mengatakan bahwa mengambil nyawa orang yang tak bersalah sama saja membunuh seluruh umat manusia.

'Saudi berkomitmen untuk mengadili mereka yang bertanggung jawab atas kasus ini dan yang gagal menegakkan hukum,'' paparnya dalam Konferensi Tahunan ke-27 Para Pembuat Kebijakan AS-Arab, Kamis (1/11). (sha/c7/hep)

Berita Terkait