Melihat Persiapan Sri Wahyuni Ikut CAT di Bumi Tambun Bungai

Utang Demi Ikut Tes CPNS di Kalteng

 Sabtu, Tanggal 03-11-2018, jam 12:01:00
Sri Wahyuni menyiapkan diri untuk tes CPNS di salah satu barak di Kota Palangka Raya, Kamis (1/11). (ANISA/KALTENG POS)

Pembahasan terkait Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) menjadi perbincangan publik. Baik perbincangan sehari-hari maupun berita-berita yang muncul di media. Menjadi trending topic. Banyak kisah dibalik pejuang-pejuang CPNS.

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

MENJADI pegawai negeri adalah idaman sebagian orang. Tak sedikit pula yang beranggapan menjadi pengusaha lebih bagus daripada abdi negara.

Sri Wahyuni, lebih memilih mencoba menjadi pegawai negeri. Ia nekat menyebrang lautan dari Pulau Jawa demi menjadi pegawai di Kalteng.

Harapanya hanya ingin mengabdi kepada negara. Tidak Mudah. Meninggalkan daerah kelahiran, rumah masa kecil, serta orang-orang tersayang. Semua itu, sudah menjadi pertimbangan dengan jangka waktu yang sangat panjang.

Yuni. Nama panggilan sehari-harinya. Memang berniat mendaftar CPNS sejak ia masih berada di bangku kuliah. Tapi tidak di Kalimantan. Mungkin sudah rejeki, pasalnya perempuan kelahiran Randublatung Jawa tengan ini mendaftar CPNS online pada hari terakhir pendaftaran.

“Padahal tanggal 15 Oktober pagi itu ijazah saya baru ke luar dan siang saya daftar CPNS,” ungkapnya saat dibincangi di salah satu barak di Kota Palangka Raya, Kamis (1/11).

Harapanya besar. Keyakinanya kuat. Namun ia tetap percaya dengan takdir. Di hari terakhir itulah ia berdoa dan berharap agar Tuhan meloloskan pada tahan seleksi administrasi. Yuni, memilih formasi yang disediakan kemenag yang nantinya akan bekerja di salah satu perguruan tinggi di Kota Palangka Raya pada bagian perencanaan ahli pertama.

“Saya bingung mau ambil apa waktu itu, karena saya hanya niat ingin jadi PNS. Tapi masih bingung mau kerja di bagian apa. Akhirnya saya memantapkan hati memilih bagian perencanaan ahli pertama,” ucapnya.

Dikatakan perempuan 23 tahun ini, sebenarnya ingin bekerja di Jawa. Tapi ia sadar, saingan di Pulau Jawa terlalu banyak dan suatu hal yang tidak mungkin didapatkan. Untuk itu, dirinya nekat seberangi lautan demi menjadi seorang PNS. Tak tanggung-tanggung orang tua yang tak memiliki uang untuk biaya transport nekat pula utang.

“Karena ini sudah keinginan saya maka orang tua berusaha mencarikan uang untuk transportasi saya ke Palangka Raya. Iya, berhutang kepada bibi (adik ibunya,red) saya,” ceritanya.

Dikisahkan Yuni, keluarganya bukan orang berada. Ayahnya bekerja serabutan, kadang kuli bangunan dan kadang buruh tani. Sedangkan ibu tidak bekerja. Bahkan, biaya kuliah saja Yuni harus mencari sendiri hingga ke Pulau Madura. Mengejar beasiswa.

“Saya ingin kuliah, orangtua tidak memilki biaya. Ada beasiswa bidikmisi yang difasilitasi pemerintah selama empat tahun. Karena kuota jurusan Syariah Islam di Universitas Trunojoyo Pulau Madura waktu itu banyak, saya nekat dari Jawa Tengah ke Madura,” bebernya.

Perjuanganya tak sampai disitu. Hal serupa ternyata terulang kembali. Baru awal Oktober lalu pulang dari Madura ke Jawa tengah. Akhir Oktober harus pergi ke tempat yang lebih jauh dari sebelumnya. Hanya membawa uang saku Rp1 juta dan pakaian lima setel saja.

“Biaya transport dan saku hasil hutang, jika nanti tidak lolos tes juga nggak tau gimana cara pulang. Saya hanya membawa uang Rp1 juta saja. Ini saja saya numpang di kos teman, untungnya ada kenalan,” kata dia.

Perjalanan dari desa tempat ia tinggal hingga ke Palangka Raya juga tidak mudah. Dari desa harus ke Kota mengendarai Motor. Dari Kota masih menggunakan travel menju Bandara Juanda yang letaknya sudah berbeda provinsi. Ialah Provinsi Jawa Timur. Setelah itu harus menunggu beberapa jam hingga pesawat membawanya ke Kota Cantik ini.

“Karena lebih dekat ke Surabaya, jadi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dulu. Naik motor, trus naik travel, barulah naik pesawat,” ujarnya.

Perempuan yang berulang tahun pada 28 Oktober ini memaknai hari kelahiranya sebagai implementasi dari sumpah pemuda. Pemuda saat ini harus berjuang untuk menuai kesuksesan dimasa depan. Tanggal dan bulan kelahiranya itulah salah satu motifasi hingga ia berani pergi jauh ki Bumi Tambun Bungai.

“Namanya juga berjuang, apalagi anak muda sekarang harus banyak berjuang,” tegasnya.

Padahal, Yuni adalah anak perempuan satu-satunya di antara empat bersaudara. Ia memilki dua kakak dan atu adik. Semuanya laki-laki. Tapi bukan berarti ia menjadi perempuan manja. “Saya datang kesini untuk mencari kerja, dengan ilmu yang saya dapat saat kuliah. Saya kuliah gratis karena dibiayai negara, jadi saya ingin mengabdi untuk negara,” ungkapnya. (*)

Berita Terkait