Ariel Rakhmadan, Pemuda Kalteng Pertama Raih Master of Public Policy di Negeri Jiran

Ingin Kembangkan Ide di Kampung Halaman

 Kamis, Tanggal 01-11-2018, jam 06:15:19
Ariel Rakhmadan berhasil menyelesaikan pendidikan pascasarjana di University Malaya Kuala Lumpur, akhir pekan lalu. Ariel merupakan lulusan pertama asal Kalteng. (ARIEL FOR KALTENG POS)

Putra daerah Kalteng semestinya mengikuti jejak Ariel Rakhmadan. Pemuda 26 tahun ini, berhasil menuntaskan pendidikan pascasarjana di University Malaya, Kuala Lumpur. Seperti apa perjalanan selama mengenyam pendidikan? Berikut ulasannya.

 

 

ROBY CAHYADI, Muara Teweh

========================================================

 

MENGEJAR ilmu hingga ke negeri asing, berani ditempuh Ariel Rakhmadan. Ia adalah putra dari pasangan Setia Budi dan Wolyani. Ariel merupakan putra kelahiran Muara Teweh, 1 April 1992. Pada usia 26 tahun, Ariel sudah menyandang titel SIP MPP.

Mengenyam pendidikan di luar negeri, memang jarang dilakoni warga asal Muara Teweh. Ariel pun mengisahkan asal mula hingga dirinya bisa mengenyam pendidikan S2 di University Malaya, Kuala Lumpur ini.

“Awalnya ada tawaran dari ASEAN atas lanjutan penelitian tentang perbatasan Indonesia-Malaysia. Karena waktu saya menempuh pendidikan S1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya fokus meneliti tentang perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut dari sisi Indonesia saja,” bebernya, kemarin (30/10).

Untuk itu, pemuda yang memiliki hobi musik rock tersebut, memutuskan untuk belajar master lagi di Malaysia, guna memperdalam penelitian dari sisi Malaysia, agar penelitian tersebut lebih objektif.

“Saya menempuh master di Malaysia ini. Disponsori berbagai pihak, termasuk ASEAN,” kata Ariel.

Diutarakan warga Jalan Tumenggung Surapati ini, University Malaya adalah universitas tertua di Malaysia. Kini berada di posisi 3 untuk kawasan Asia Tenggara dan posisi 87 pada level dunia. Termasuk top 100 universitas di dunia.

“Saya termasuk lulusan pertama orang Kalteng bahkan Indonesia, yang mendapat gelar Master of Public Policy di University Malaya ini. Selama di Malaysia, saya juga sempat menjadi member tetap diskusi di Bank Dunia Kuala Lumpur,” ungkapnya.

Ariel masuk University of Malaya (UM) pada tahun 2016. Ketika itu, umurnya masih 24 tahun. Ia menyelesaikan studinya pada Februari 2018. Kendati begitu, sebenarnya Ariel sempat mendaftar pada 2015. Namun, baru bisa masuk pada 2016. Hal itu dikarenakan harus menunggu balasan email, diterima atau tidaknya. Selain itu, juga harus menunggu balasan email visa izin tinggal. Ditambah lagi mengurus dokumen-dokumen lain.

Setelah menerima surat izin tinggal, Ariel berangkat ke Malaysia. Di sana, empat bulan sebelum studi masuk ke program Master of Policy, dia mempersiapkan diri di Umcced UM untuk pemantapan bahasa Inggris dalam skill writing dan communication on academic style.

Begitu dirasa mantap, barulah dia melakukan registrasi ulang untuk masuk intake tahun 2016. Pada program studi Masters of Public Policy Institute International Public Policy and Management UM, Ariel menjadi mahasiswa perdana dari Indonesia. Sebab, kebanyakan mahasiswa berasal dari Fillipina, Vietnam, dan Singapore.

“Di balik panjangnya perjuangan saya menuntut ilmu di sana, saya berharap ilmu ini nantinnya bisa saya kembangkan, baik dalam ide maupun impelementasi di kampung halaman saya,” ucap Ariel. (*/ce/CTK)

Berita Terkait