Melihat Jejak George Obus Umar

Salah Satu Pahlawan Pelopor Pemuda Tambun Bungai

 Rabu, Tanggal 31-10-2018, jam 05:25:55
Teddy R Toeweh (tengah) duduk bersama budayawan JJ Kusni dalam diskusi bertajuk jejak G Obus, beberapa waktu lalu. (HERMAWAN/KALTENG POS)

George Obus Umar. Mungkin nama ini cukup asing di telinga para generasi muda. Generasi milenial lebih mengenal tokoh ini dengan nama George Obos, yang dipakai sebagai nama jalan protokol di Kota Palangka Raya. George Obus merupakan salah satu pelopor pemuda di Bumi Tambun Bungai. Berikut ulasannya.

 

HERMAWAN DP, Palangka Raya 

SOSOK pahlawan George Obus ini dikupas tuntas dalam kegiatan bertemakan Diskusi Jejak G Obos di Soempah Pemoeda 1928, di salah satu hotel di kawasan G Obos, beberapa waktu lalu. Diskusi tersebut dihadiri langsung cucu Obus, Teddy R Toeweh.

Pada kesempatan itu, Teddy bercerita banyak tentang sosok sang kakek. Diceritakannya, nama asli kakeknya yang sebenarnya adalah George Obus Umar. Kata Umar diambil dari nama ayahnya, Heine Umar. Namun, saat penjajahan Belanda, kata Umar dihilangkan.

“Nama Umar tidak dicantumkan, dengan maksud untuk melindungi keluarga kakek dari buruan penjajah. Takutnya keluarga kakek ikut ditangkap. Agar keluarganya tetap aman, maka kata Umar dalam nama G Obus tidak dicantumkan,” ungkap Teddy Toeweh saat diskusi.

Teddy menceritakan, kakeknya lahir pada 24 Desember 1902 di Kasongan (Tewang Sanggalang Garing). G Obus meninggal saat dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), tepatnya pada 19 April 1982. Kakeknya dimakamkan di Kompleks Pekuburan Kristen Pahandut, Kota Palangka Raya.

“Ini juga salah satu pesan kakek. Dia tidak ingin dikuburkan di makam pahlawan. Beliau minta untuk dikuburkan di TPU, agar nantinya bisa di sandingkan dengan makam nenek,” ucap dia.

Semasa hidupnya, Obus merupakan pelanggan tetap becak kayuh. Bahkan beliau memiliki pelanggan tetap seorang tukang becak asal Madura. Tukang becak ini mengantar kemana pun Obus ingin pergi. Bahkan, becak tersebut menjadi sarana transportasi utamanya untuk hilir mudih dari Kota Banjarmasin ke Palangka Raya.

“Enam bulan sebelum meninggal, beliau (Obus, red) berkunjung ke sini bersama dengan tukang becak langganannya,” tutur dia.

Selain sebagai tokoh Dayak, sosok Obus diyakini merupakan salah satu pencetus pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah dengan ibu kotanya Palangka Raya. Obus sudah terjun dalam perjuangan pergerakan sebelum proklamasi kemerdekaan sampai pergerakan pertahanan dan memperkokoh tegaknya Republik Indonesia.

George Obus memulai karier dengan bersekolah di sekolah Zending Banjarmasin. Kemudian, berlanjut ke Zeevaartschool (sekolah pelayaran, 1926) di Surabaya. Saat itu organisasi kepemudaan masih berorientasi daerah per daerah, seperti Jong Java, Jong Andalas, atau Jong Celebes.

Beberapa waktu kemudian, barulah terbentuk ide untuk membentuk suatu organisasai Pemuda Borneo. Akhirnya direalisasikan pendirian Persatuan Pemuda Borneo pada 21 Mei 1926. George Obus terpilih sebagai komisaris untuk Borneo Selatan (Kalimantan Selatan). Saat itu, Kalteng masih merupakan bagian dari Kalsel.

Melalui persatuan Pemuda Borneo (Kalimantan) itu, pada bulan Juni 1944, dia bersama para pengurus lainnya, Mr Gusti Mayor, H Abdul Gamasir, dan H Mugen Tayib mengadakan diskusi. Saat itu, George Obus tergerak untuk membahas bagaimana mempersiapkan pemuda-pemuda untuk ikut serta menghadapi penjajah, baik Jepang maupun Belanda.

Dalam pergerakan kepemudaan, George Obus ikut aktif dalam Kongres Pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta. Beliau ikut sebagai utusan dari Persatuan Pemuda Borneo yang berkedudukan di Surabaya.

Pada tanggal 8 Juni 1929, di Surabaya berdiri partai politik dengan nama Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), yang diketuai Dr Seotomo. Dalam susunan kepengurusan PBI itu, George Obus ikut ambil bagian. Dia duduk sebagai salah seorang pengurus inti.

Kurang lebih enam tahun kemudian, di Surakarta dilangsungkan musyawarah bersama antara pengurus besar Beodi Oetomo dan pengurus besar PBI, yang menghasilkan kesepakatan untuk bergabung mendirikan partai politik bernama Partai Indonesia Raya (Parindra). Dalam kepengurusannya, ada nama George Obus.

Pada September 1945, para Pemuda Borneo telah membentuk sebuah organisasi untuk membantu gubernurnya, dengan nama Badan Pembantoe Oesaha Goebernoer (BPOG). G Obus pun terpilih sebagai ketuanya.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, para pemuda Borneo di Jawa Timur membentuk organisasi dengan nama Pemuda Republik lndonesia Kalimantan (PRIK). Pertemuan itu pun dilaksanakan di Surabaya. Pendirian PRIK itu atas seizin dan sepengetahuan BPOC yang ketuai George Obus.

Memasuki September 1945, BPOG bersama-sama PRIK menyusun rencana mengirimkan satuan ekspedisi dengan kapal laut ke Kalimantan. Untuk itu, George Obus selaku ketua BPOG didampingi Mr Gustin Mayor, berangkat menuju Bandung untuk melaporkan semua rencana tersebut kepada Gubernur Kalimantan lr Pangeran Muhammad Noor.

Namun, saat mereka kembali ke Surabaya, terjadilah pertempuran dengan orang Jepang. Peristiwa di Hotel Orange pada 19 September 1945 itu, disaksikan oleh George Obus. Dalam penyerangan terhadap gedung Kenpeitai dan markas Jepang di Surabaya, para pemuda PRIK dari BPOG ikut aktif. Mereka berhasil merampas sejata dalam jumlah yang besar. Saat itu, BPOG menghubungi Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Dr Moestopo, untuk menghadapi pendaratan pihak tentara sekutu di daerah Jawa Timur, khususnya di Kota Suarabaya.

George Obus diangkat menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia atau Parlemen NRI Proklamasi) dan berdomisili di Jogjakarta.

George Obus juga pernah diangkat sebagai Bupati Kepala Daerah Kabupaten Barito.

Dua tahun sebelumnya, yakni pada tahun 1956 sampai tahun 1958, Ia menjabat Bupati Kabupaten Kapuas. Sedangkan dari tahun 1960-1967, George Obus ditunjuk selaku anggota MPRS.

“Sebagai pemuda, kakek berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan penjagaan kedaulatan negara,” tutur pria yang juga merupakan cucu dari Emillie Hillep (Istri Obus) itu.

Obus menutup usia di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin, tepat berumur 72 tahun. Beliau memiliki 9 orang anak, 37 orang cucu, dan 10 orang cicit. Almarhum memperoleh penghargaan dan tanda jasa dari pemerintah RI sebagai Bintang Gerilya, Satyalancana Perang Kemerdekaan I, Satyalancana Perang Kemerdekaan II, Satyalancana GOM I, Satyalancana GOM ll, Satyalancana COM IV, dan Satyalancana Penegak.

“Kakek juga ditetapkan sebagai perintis kemerdekaan RI. Selain itu, juga dihargai sebagai veteran pejuang kemerdekaan RI,” tutupnya.

Sejarah Harus Dipahami Generasi Milenial

Pemahaman mengenai sejarah bangsa bagi generasi milenial, dapat memberi kontribusi positif mengenai cara pandang dalam memaknai kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah pengaruh negatif globalisasi.

“Pentingnya generasi milenial memahami sejarah bangsa. Pemahaman mengenai sejarah bangsa, merupakan salah satu upaya membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” kata salah satu budayawan, JJ Kusni.

Bagi generasi milenial, ini dapat dicontoh. Untuk mencapai cita-cita, tentu membutuhkan proses. Seringkali proses itu panjang dan penuh perjuangan, seperti yang dilakukan para pahlawan dahulu.

Melalui pemahaman seperti itu, dirinya berharap generasi milenial dapat memahami empat pilar kebangsaan tidak secara normatif, melainkan bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, sejarah adalah sejarah pemenang. Ada dua macam sejarah yang harus dipahami, khususnya generasi muda, yakni sejarah yang ditulis dengan karakter politik dan sejarah dengan karakter ilmiah.

Yang banyak terjadi saat ini adalah sejarah dengan karakter politik. Karena itu, sejarah dikatakan sejarah pemenang, di mana sejarah menjadi sarana pertarungan kepentingan-kepentingan politik. Sedangkan sejarah berkarakter ilmiah, mampu menyampaikan hal yang sebenarnya.

“Ketika menulis sejarah ilmiah, diharapkan kepada seluruh penulis di Kalteng untuk berani membuat atau menulis sejarah yang memiliki karakter ilmiah. Kepada generasi milenial, sangat diharapkan untuk meneruskannya,” katanya.(nue/ce/ram)

Berita Terkait