Melihat Rutinitas Santri di Pondok Pesantren Hidayatullah

Selalu Happy, Bangun Pukul Tiga Pagi, Rutin Mengaji

 Senin, Tanggal 29-10-2018, jam 05:44:29
Anak-anak santri sedang menjalankan tugas hafalan sambil duduk melingkar di Masjid Pondok Pesantren Hidayatullah, Kamis (26/10). (HERMAWAN/KALTENG POS)

Hari Santri diperingati 22 Oktober lalu. Banyak dari kita masih belum familiar dengan sosok santri. Seperti apa kegiatan para santri di pondok pesantren. Apa saja yang mereka pelajari. Berikut kisahnya.

 

HERMAWAN DP, Palangka Raya

JIKA ditelaah, hidup di pondok pesantren bisa dibilang susah-susah gampang. Saban hari berkutat dengan jadwal kegiatan yang cukup padat. Mulai dari belajar agama hingga belajar tentang ilmu formal. Akan tetapi, di tengah kesibukan tersebut, terpancar kebahagiaan dan kesenangan karena kuatnya ikatan kekeluargaan dalam kebersamaan.

Kesan inilah yang pertama terasa, saat mengunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah Palangka Raya. Anak-anak pesantren terlihat kompak dan saling menjaga. Tertib mengikuti berbagai kegiatan kepondokan.

 

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidyatullah, Huzaifa mengatakan, pondok pesantren di bawah naungan mereka memiliki tiga amal usaha, yakni teman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), dan Panti Asuhan Darul Tazkiyah.

Pada tahun ajaran 2019/2020 nanti, yayasan berencana menambah satu badan amal, yakni sekolah menengah pertama (SMP).

“Saat ini SMP masih dalam taham pembangunan. Insyallah tahun depan selesai. SMP ini nantinya khusus putra dan boarding school, karena memang aturannya kan enggak boleh dicampur antara laki-laki dan perempuan,” kata Huzaifah.

 

Pondok pesantren yang terletak di Jalan Danau Rangas ini, memiliki luas lahan sekitar dua hektare, dengan jumlah santri sekitar 500 orang. Sedangkan 67 anak di antaranya merupakan anak panti asuhan putra putri.

Dijelaskannya, Hidayatullah sendiri menggunakan SIUP dari Dinas Pendidikan, sehingga tidak menggunakan raudatul athfal (RA) ataupun madrasah ibtidaiyah (MI), namun lebih ke TK dan SD. Meskipun demikian, anak-anak panti banyak mendapatkan materi agama, karena terintegrasi dengan pola pondok.

 

“Untuk ekstrakulikuler, kami meminta guru khusus dari dinas. Terutama untuk mengajarkan atletik seperti panahan bagi para santri, maupun pelajaran karate bagi santri SD,” tuturnya.

 

 

Jadwal sehari-hari di pondok lebih mengarah ke pendidikan akhlak, budi pekerti, serta pendidikan keagamaan. Meskipun begitu, tetap tidak mengesampingkan pendidikan formal sebagai salah satu item wajib.

Anak-anak pondok dididik untuk bangun pagi sedini mungkin. Sekitar pukul 03.00 WIB, para santri dibangunkan oleh kakak koordinator asrama. Diajak untuk mendatangi masjid di bagian depan pondok untuk menunaikan salat Tahajud. Sembari menunggu waktu salat Subuh, sebagian santri ada yang duduk santai. Sebagian lainnya mengisi waktu dengan membaca Alquran, ataupun sekadar memperlancar hafalan.

Setelah salat Subuh, santri diwajibkan untuk membentuk halaqoh. Duduk melingkar dengan jumlah 10 orang, sambil dibimbing satu guru pondok. Mereka membaca Alquran secara berantai, sampai semuanya mendapat giliran membaca.

Setelah itu, sekitar pukul 05.15 WIB, santri mengerjakan amal sholeh yakni kerja bakti membersihkan lingkungan pondok. Mereka bekerja berdasarkan jadwal piket yang telah diatur. Ada yang menyapu jalan, membersihkan kamar mandi, membersihkan masjid, membersihkan selokan, dan kegiatan lainnya.

Selesai beramal sholeh, para santri pun mandi, untuk selanjutnya mengikuti pelajaran formal di sekolah. Namun sebelumnya, para santri sarapan bersama di depan asrama. Sarapan disiapkan oleh santri yang memang mendapat piket menyiapkan sarapan bagi teman temannya.

Sarapan dibuka dan ditutup dengan doa. Setelah selesai, para santri berangkat ke sekolah. Mereka yang masih duduk di bangku TK dan SD, menuju sekolah milik pondok yang berada di sisi depan asrama. Namun, bagi mereka yang sudah menempuh pendidikan tingkat SMP, akan berangkat ke sekolah yang berada di luar lingkungan pondok.

Satu hal yang pasti, saat memasuki waktu salat Zuhur, santri diwajibkan untuk salat berjemaah di masjid pondok. Kecuali bagi para santri yang bersekolah di luar pondok, yang biasanya baru pulang sekolah sekitar pukul 14.00 WIB.

 

Usai salat Zuhur, bagi santri yang bersekolah di pondok, diisi dengan kegiatan ekstrakulikuler, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Ada yang belajar memanah, olahraga, menari, serta kegiatan ekstrakulikuler lainnya.

Saat memasuki waktu salat Asar, anak-anak kembali salat berjemaah di masjid. Setelah itu, para santri wiritan dan kembali membuat halaqoh. Waktu luang setelah halaqoh diisi dengan berkebun ataupun mengangkut sampah.

Pengajian kembali dilakukan setelah salat Magrib, dengan jadwal yang telah ditentuka per kelompok. Ada yang belajar taklim diniah, Alquran, akidah, akhlak, hadist, maupun ilmu fiqih. Pengajian berhenti saat memasuki waktu Isya, dan kembali dilanjutkan setelahnya sampai sekitar 30 menit. Pengajian ditutup dengan membaca surah al-fathihah, al-sajadah, al-mulk, al-ikhlas, al-falaq, dan an-nas. Kemudian para santri makan malam bersama dan selanjutnya bersiap untuk tidur malam.

Di asrama beton dengan ukuran 8x24 meter para santri membaringkan tubuh melepas lelah seharian. Bangunan tersebut memiliki empat ruangan, masing masing berukuran sekitar 8x8 meter. Di bagian depan berjajar rak sepatu. Satu cermin kecil panjang berada di bagian tengah depan bangunan asrama.

Bagian dalam asrama dipenuhi dengan lukisan kalimat tauhid yang menempel di dinding, dalam bentuk karya lukisan tangan. Berjajar memanjang bertuliskan Allahuakbar, Muhammad, Arrahman, dan penggalan Asmaulhusna.

Setiap ruangan diisi tiga sampai lima kasur. Khusus di ruangan unjung kanan, terdapat setrika dan lemari berisikan televisi bekas, keranjang bola-bola, dan sapu. Di ruangan belakang kamar asrama terdapat lorong lurus yang menghubungkan semua ruangan. Di sana berjajar sekitar 17 lemari dengan ukuran yang beraneka ragam.

Selain rutinitas yang sudah terjadwal, ternyata pondok juga memiliki aturan-aturan khusus dan wajib. Di antaranya, santri dilarang memegang peralatan elektronik, dilarang keluar tanpa izin, harus berpakaian dan beramput rapi. Kewajiban menutup aurat, kewajiban salat lima waktu berjemaah di masjid, dan yang pasti dilarang untuk berpacaran.

Jika melanggar aturan tersebut, mereka akan mendapatkan hukuman yang sudah disepakati. Seperti membersihkan kamar mandi, bersih-bersih, ataupun hukuman lainnya yang bersifat mendidik.

Meskipun menjalani keseharian dalam rutinitas yang terjadwal, namun kehidupan di pondok juga memberikan kesan tersendiri bagi para santri. Mereka merasa senang dan bahagia karena bisa mempertajam ilmu agama. Membiasakan diri dengan jadwal yang begitu padat.

“Senang, tapi ya harus membiasakan diri. Setiap hari bangun pukul tiga pagi, banyak mengaji, dan waktu istirahat sedikit. Tapi happy aja, seru, rame,” ungkap seorang santri yang nggan menyebutkan namanya. (*/ce)

Berita Terkait