Gandrung Sewu Memukau

 Minggu, Tanggal 28-10-2018, jam 05:12:38
Sekitar 1.100 penari gandrung tampil di Pantai Marina Boom Banyuwangi. (RAMADA KUSUMA/RADAR BANYUWANGI)

Gerak rampak 1.200 penari Gandrung berkostum merah menyala dengan latar belakang Selat Bali mampu menghipnotis ribuan wisatawan yang hadir. Festival Gandrung Sewu di Kabupaten Banyuwangi yang digelar untuk kedelapan kalinya, Sabtu (20/10), sukses digelar. Acara itu berhasil memukau ribuan wisatawan yang memadati bibir Pantai Boom.

Tahun ini, tema yang diusung Festival Gandrung Sewu adalah “Layar Kumendung”, sebuah kisah kepahlawanan dari Bupati Banyuwangi pertama, Raden Mas Alit. Sosok yang diangkat menjadi bupati kala berusia 18 tahun itu harus mengambil sikap di antara dua pilihan sulit, yaitu terdesak mengikuti perintah penjajah yang menindas atau melakukan perlawanan bersama rakyat yang semakin tak berdaya pasca-perang penghabisan.

Di tengah konflik batin itulah, tari Gandrung digambarkan sebagai media konsolidasi kekuatan rakyat Banyuwangi. Tak hanya berkamuflase dengan memanfaatkan pertunjukkan seni, tetapi juga menjadi sarana menghibur dan memperkuat batin rakyat yang terkungkung penjajah. Semua fragmen cerita disajikan dengan koreografi yang memukau.

 

Arief Yahya mengatakan, Gandrung Sewu memenuhi tiga nilai sebuah pertunjukan yang baik, yaitu cultural atau creative velue, communication value, hingga commercial value.

 

“Nilai kultur dan kreativitasnya sangat terasa. Tingkat komunikasinya tinggi.m, terbukti selalu viral di media sosial. Dan yang terakhir, dari sisi komersil tidak perlu diperdebatkan lagi. Pesawat penuh, penginapan penuh, kuliner ramai. Rakyat Banyuwangi yang menikmati,” terangnya.

Festival ini juga menjadi sarana regenerasi pelaku seni-budaya berbasis tradisi rakyat. Peminatnya tiap tahun ribuan anak muda.

Dina, terpilih sebagai penari Festival Gandrung Sewu adalah prestasi besar. Maklum, proses seleksi memang ketat. Dari tiga ribu lebih pendaftar, hanya 1.173 orang yang berhak tampil di Pantai Boom Sabtu sore itu. "Sudah latihan lebih dari setahun. Lomba di Kecamatan Cluring menang, baru diajukan ikut seleksi," ucap Dina sambil tersipu malu.

Kegigihan Dina patut diacungi jempol. Pasalnya, tidak sedikit teman Dina yang menyerah saat latihan di hari-hari menjelang seleksi. "Latihannya itu sampai malam. Tapi, nilai sekolah harus tetap bagus, jadi teman-teman capek," ungkapnya.

Semangat Dina mengalir dari ayahnya, Budiono, yang terus mendukungnya. Pria paro baya itu terus menemani Dina. Dia terlihat sama bahagia dengan Dina. "Senang sekali akhirnya lolos," ungkap Budiono semringah. "Deg-degan sekali waktu dinilai langsung sama tim produksi yang sudah berpengalaman," imbuhnya.

Dina sebenarnya sempat goyah. Dia tak percaya diri bakal lolos. Namun, Budiono senantiasa memotivasi putri semata wayangnya itu. Bahwa gandrung sejatinya bercerita soal perjuangan. "Gandrung itu sejarahnya telik sandi. Kalau gampang menyerah, ya jangan harap jadi gandrung sejati," tutur Budiono (wir/JPC)

Berita Terkait