Pelajar Palangka Raya Juara Penelitian Internasional di India

Pembasmi Kutu dari Serai Dapur, Raih Spesial Award

 Sabtu, Tanggal 27-10-2018, jam 03:00:53
Anjelita dan Angel Nadiria Putri berbaur dengan guru dan pelajar lainnya, setelah disambut dengan meriah oleh pihak sekolah SMPK St Paulus, Palangka Raya, Kamis (25/10). (EMANUEL LIU/KALTENG POS)

Anjelita dan Angel memukau mata dunia saat tampil di ajang International Exhibition for Young Investors (IEYI) 2018 di New Delhi, India. Hasil penelitian tentang pembasmi kutu dari serai, yang diciptakan pelajar SMP Santo Paulus itu, berhasil meraih juara tiga dan mendapat gelar special award.

 

 

EMANUEL LIU, Palangka Raya

KRETIVITAS patut diacungi jempol. Di usianya yang masih muda, Anjelita dan Angel Nadiria Putri  berhasil membuat bangga. Bertolak dari kebiasaan orang tuanya yang menggunakan serai dapur untuk membasmi kutu rambut, dua pelajar itu pun mengembangkan dan melakukan penelitian untuk menyempurnakannya.

 

“Kebetulan saya juga pernah kena kutu. Ini juga untuk menjawab kebiasaan masyarakat selama ini, yang masih banyak memakai obat sintetik. Tentunya obat sintetik memiliki efek samping, seperti kerontokan rambut, iritasi pada kulit kepala, dan lain-lain,” kata Anjelita kepada Kalteng Pos, di Jalan Tjilik Riwut Km 1 Palangka Raya, kemarin (25/10).

Menurutnya, menggunakan serai untuk membasmi kutu, ternyata jauh lebih aman. Sangat alami. Tanpa menimbulkan efek samping. Keduanya pun terinspirasi. Kemudian melakukan penelitian. Ini untuk menunjukkan jika ada alternatif lain untuk membasmi kutu, yakni dengan menggunakan bahan yang mudah didapat.

Cara membuatnya pun sangat mudah. Dengan cara diekstrak. Serai dipotong, ditumbuk, diperas, dan kemudian diambil sarinya. Selanjutnya digunakan untuk membasahi rambut dan kemudian ditutup.

“Saya pernah melakukan eksperimen terhadap diri sendiri. Sangat ampuh. Dalam waktu 15 menit, bisa dilihat hasilnya. Kutu di rambut kepala akan mati dan bahkan berjatuhan,” tuturnya.

Dirinya menjelaskan, zat yang ada di serai itu adalah flavonoid, yang merupakan senyawa polifenol (tanin), saponin, minyak atsiri, dan klorofil B Flavonoid sebagai racun inhalasi dan racun kontak. Senyawa polifenol (tanin) bekerja pada penduculus humanus capitis dengan polisis sel atau kerusakan selnya. Saponin merusak kulit pendiculus humanus capitis atau terjadi trauma kulit. Minyak atsiri dan klorofil B merusak sistem saraf, dengan menghambat kerja enzim asetilkolinesterase, sehingga menyebabkan mortalitas pada kutu rambut.

Keberhasilan melakukan penelitian tersebut, tidak lantas membuat mereka berpuas diri. Kedua rekan satu sekolah itu kemudian mengikuti lomba tingkat provinsi, tahun 2017. Berhasil meraih medali perak. Akhirnya dinyatakan lolos seleksi secara nasional yang dilombakan di Jakarta.

“Tanggal 14 Oktober lalu, kami bertolak dari Palangka Raya menuju Jakarta. Sebelum bertolak ke India, keduanya melakukan berbagai persiapan. Mendapat bimbingan didampingi dosen ITB dan Parahiangan di Bandung, yakni soal presentasi dan penilaian poster.

“Tanggal 15 Oktober, berangkat dari jakarta menuju India. Lomba berlangsung dari tanggal 17-20 Oktober,” kisahnya.

Lomba tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai Negara, seperti India, China, Rusia, Vietnam,Taiwan, Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara lain. Saat presentase di hadapan dewan juri, keduanya mengaku sangat gugup dan sedikit down, karena berhadapan dengan peneliti dari negara lain.

Medali spesial award dan medali perunggu di ajang International Exhibition For Young Investors (IEYI) 2018, berhasil diraih kedua pelajar kelas IX SMPK St Paulus Palangka Raya itu.

“Medali spesial award diperoleh dari hasil penilaian negara lain, yaitu Vietnam. Sementara medali perunggu didapat dari hasil penilaian dewan juri pada ajang International Exhibition For Young Investors (IEYI) 2018,” tuturnya.

Selain mengikuti lomba bidang penelitian, kedua pelajar dengan penuh percaya diri menampilkan salah satu tarian asal Bumi Tambun Bungai, yaitu tari Mandau. Penampilan keduanya sangat direspons saat itu.

“Perasaan sangat senang di mana bisa lolos dan membuahkan hasil sampai tingkat internasional. Diakui oleh dunia dengan penelitian yang ditemukan ini,” katanya.

Hal ini merupakan bukti bahwa Kalteng bisa berprestasi di level dunia dalam bidang penelitian. Keduanya bertekad untuk terus berkarya, melanjutkan prestasi yang ada dalam bidang penelitian, untuk membanggakan sekolah, orang tua, Kota Palangka Raya, Kalteng, dan juga Indonesia.

Atas prestasi internasional itu, maka tidaklah berlebihan jika kedatangan kedua pelajar berprestasi tersebut disambut dengan meriah oleh pihak sekolah, didampingi orang tua.

“Prestasi ini tentu perlu disambut dengan istimewa. Sebab, walalupun hanya mendapatkan urutan ketiga, keduanya sudah mampu membesarkan nama sekolah ini, nama kota ini, provinsi ini, dan juga  nama negara Indonesia dalam bidang penelitian,”sambung Kepala Sekolah SMPK St Paulus, Yuserto.

Menurutnya, di era persaingan global saat ini, semua peserta didik mesti mempersiapkan diri menyongsong pasar bebas, baik masyarakat ekonomi Asia maupun internasional, dalam upaya meraih kompetensi diri.

Selain itu, para guru juga dituntut untuk memiliki kemampuan membawa perubahan secara signifikan dalam proses pendidikan peserta didik, yang didukung oleh kemauan dan kemampuan orang tua untuk bersinergi dengan pihak terkait. (ce/ram)

Berita Terkait