Hoax, Bencana Cyber Pascabencana

 Sabtu, Tanggal 20-10-2018, jam 10:32:23
Oleh : Mualimin Erdi

RANGKAIAN gempa yang begitu kuat dan disertai tsunami telah menerjang Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah. Belum selesai penanganan pasca gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, cobaan kembali menimpa bangsa Indonesia dengan datangnya gempa di Situbondo dan banjir bandang di Sumatera. Rentetan bencana alam yang sangat dahsyat tersebut tentu menyisakan duka dan kesedihan tidak hanya bagi masyarakat yang terkena dampak langsung bencana, tetapi juga kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air Indonesia.

Bagaimana tidak, rentetan bencana itu hingga saat ini setidaknya telah menyebabkan ribuan korban jiwa, memporak-porandakan rumah dan fasilitas umum dan menyebabkan banyak orang kehilangan mata pencaharian.

Oleh karena itu, besarnya dampak yang ditimbulkan tersebut maka tidak heran jika kemudian hanya dalam hitungan jam setelah gempa, tsunami, dan banjir berlangsung, bantuan sebagai wujud solidaritas dan aksi kemanusiaan dikumpulkan dan disalurkan ke korban bencana. Hingga saat ini berbagai lembaga pemerintah, perusahaan, organisasi kemasyarakatan, lembaga non pemerintah baik dari dalam maupun luar negeri seakan berlomba menunjukkan kepeduliannya membantu korban gempa. Bantuan makanan, pakaian, obat-obatan mulai disalurkan ke berbagai wilayah, walaupun tidak bisa dipungkiri banyak akses wilayah dan korban gempa terputus, sehingga di sejumlah lokasi korban bencana alam sangat menderita karena tidak adanya makanan dan obat-obatan.

DAMPAK BENCANA ALAM

Rentetan bencana alam yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia menyebabkan dampak yang cukup besar. Setidaknya ribuan jiwa dan luka-luka, belum lagi kerusakan bangunan fisik serta fasilitas umum, kehilangan pekerjaan dan kekurangan makanan, dan munculnya berbagai penyakit. Pada tataran ini terjadinya bencana secara tidak langsung terhambatnya laju pembangunan. Berbagai fasilitas pembangunan baik milik pemerintah maupun milik pribadi ikut rusak dan memerlukan perbaikan bahkan pembangunan ulang.

Dalam waktu yang bersamaan, bencana alam tersebut tidak hanya menyebakan kerusakan fisik, tetapi secara bersamaan juga menyebabkan keterpurukan psikis berupa pengalaman traumatis bagi korbannya. Kehilangan orang yang dicintai, rumah, harta benda, dan mata pencaharian dapat menyebabkan trauma dan keterpurukan hebat dan berkepanjangan bagi korban gempa dan tsunami.

TERSEBARNYA HOAX

Di tengah duka mendalam akibat bencana banjir, gempa, dan tsunami, dalam waktu yang bersamaan muncul lagi masalah yang begitu serius yaitu banyaknya hoax yang tersebar seperti ramalan akan terjadi gempa susulan yang lebih besar akan terjadi tidak hanya di Sulawesi bahkan juga di beberapa wilayah lain di Indonesia terutama Jawa dan Sumatera.  Penyebaran hoax tersebut terjadi dengan begitu cepat dan massif terutama melalui media sosial. Massifnya hoax tersebut kemudian diklarifikasi oleh BMKG bahwa berita tersebut adalah bohong. Pihak BMKG menyampaikan tidak ada satu orang pun saat ini yang mampu memprediksi terjadinya gempa. Pasca klarifikasi tersebut polisi juga melakukan penangkapan terhadap penyebar hoax tersebut. Klarifikasi yang disampaikan oleh BMKG serta penangkapan yang dilakukan oleh polisi setidaknya menunjukkan bahwa berita tersebut adalah hoax.

Menariknya, hingga saat ini hoax terkait gempa susulan tersebut masih saja tersebar luas meskipun BKMG telah mengklarifikasi. Pesan yang tersebar tersebut dengan redaksi dan tampilan yang berbeda, namun substansi yang sama yaitu akan adanya gempa susulan yang lebih besar. Penyebaran hoax terkait gempa susulan yang cukup massif meskipun telah ada klarifikasi dari kalangan yang “otoritatif” untuk itu merupakan sebuah keanehan. Secara pasti tidak diketahui motif dari orang yang menyebarkan berita palsu tersebut.

Pendapat Yanuar Nugroho mungkin bisa sedikit menjelaskan keanehan tersebut. Dalam bukunya yang berjudul Beyond Click Activism: New Media and Political Processes in Indonesia Nugroho menyebutkan bahwa aktivitas berbagi merupakan salah satu kecenderungan cara bermedia orang Indonesia.

Meskipun tidak semua orang Indonesia, tetapi sebagian besar menjadikan media sosial menjadi tempat untuk membagikan segala sesuatu baik tentang informasi pribadi maupun informasi publik.

Mirisnya terkadang aktivitas berbagi informasi tersebut seringkali dilakukan tanpa menyaring terlebih dahulu info yang akan dibagikan, yang penting berpotensi untuk mendapat perhatian lebih dari publik virtual maka informasi tersebut akan langsung dishare. Parahnya lagi tanpa merasa berdosa menyebar suatu informasi tanpa pasti kebenarannya hanya dengan dalih “copy dari grup sebelah”.

Dalam konteks ini, Nugroho menyebutkan orientasi perilaku share tersebut tujuan utamanya bukan hanya untuk berbagi tetapi lebih kepada mencari pupularitas dan pengakuan atas eksistensi di dunia virtual. Dalam bukunya tersebut Nugroho menyebutkan istilah tersebut dengan “communico ergo sum”.

HOAX SEBAGAI BAGIAN DARI BENCANA KEMANUSIAAN

Hoax tentang gempa susulan yang lebih besar memang tidak menyebabkan kerusakan fisik secara langsung, tetapi secara tidak langsung menambah tekanan psikologis menjadi lebih berat. Tekanan psikologis tersebut tidak hanya untuk yang terkena dampak langsung bencana, tetapi juga masyarakat Indonesia secara umumnya. Hoax terkait gempa susulan yang lebih besar menyebabkan ketakutan dan kepanikan tidak hanya bagi masyarakat Palu, Sigi dan Donggala yang baru saja tersentak akibat bencana yang dirasakannya.

Pada tataran ini, kebohongan tersebut secara tidak langsung akan meruntuhkan mental dan semangat untuk bangkit pasca musibah. Masalah psikologis tersebut juga akan dirasakan oleh masyarakat ditempat lain di Indonesia terutama di pulau Jawa dan Sumatera yang “katanya” akan mendapatkan gempa susulan juga. Terkait dengan hal tersebut Pickett (1998) menyebutkan bahwa tekanan psikologis tidak hanya disebabkan oleh korban itu sendiri, tetapi juga akan dirasakan oleh mereka yang tidak terkena dampak secara langsung.

Besarnya dampak psikis yang ditimbulkan oleh ditimbulkan, maka tidak berlebihan jika kemudian dikatakan bahwa hoax yang terjadi pasca merupakan sebuah musibah besar yang juga harus segera di tanggulangi. Jika tidak segera ditanggulangi, maka dimungkinkan akan menyebabkan masalah sosial dan kejiwaan bagi korban bencana baik yang merasakan langsung ataupun tidak. Pada tataran ini, bantuan berbentuk materi mungkin bisa memenuhi kebutuhan fisik korban, tetapi belum tentu dapat menyelesaikan dampak psikis yang dialami. Dampak psikis ini jika tidak ditangani secara cepat dan benar akan menimbulkan masalah lain yang cukup besar seperti depresi dan berbagai gangguan kejiwaan lainnya.

Aaron Beck misalnya menyebutkan bahwa depresi dapat berimplikasi pada pandangan negatif seseorang terhadap tiga hal yaitu dirinya sebagai seseorang yang tidak berharga, pengalamannya, dan pesimis terhadap masa depannya. Pendapat Beck ini setidaknya menunjukkan betapa bahayanya dampak psikis dari bencana alam jika tidak segera dan serius ditangani. Pendapat Beck tersebut juga mengingatkan kepada semua pihak bahwa fokus penanganan dampak gempa dan tsunami yang dilakukan baik oleh pemerintah, NGO, maupun relawan mestinya tidak hanya terfokus pada penanggulangan fisik tetapi juga penanganan dampak sosial dan psikis korban juga.

BIJAK BERMEDIA, MEMBANTU KORBAN

Hal di atas tentunya dapat menjadi renungan oleh semua pihak baik pemerintah, LSM, maupun masyarakat umum untuk senantiasa bijak dalam menerima dan membagikan apapun info yang diterima. Niat membagikan berita gempa susulan mungkin baik misalnya untuk mengingatkan agar setiap orang ingat Tuhan atau senantiasa waspada. Hanya saja kebaikan tersebut jika tanpa didasari dengan fakta dikhawatirkan bukan malah memberikan manfaat tetapi justru menyebabkan masalah serius. Mestinya saat ini kita memberikan dukungan tidak hanya dengan mengumpulkan sumbangan untuk korban gempa, tsunami dan bencana lain, tetapi juga ikut melawan penyebaran berita hoax yang meresahkan pasca bencana tersebut.

Setidaknya ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk berkontribusi meringankan beban psikis bagi korban gempa dibidang literasi. Pertama, pro aktif melakukan klarifikasi dan menjadi bagian untuk menghentikan penyebaran isu-isu hoax terkait prediksi gempa susulan yang lebih besar. Kedua, ikut memberikan dukungan moril di media sosial untuk korban gempa dan tsunami seperti melalui tagar, hastag terkait dukungan moril. Ketiga, meningkatkan daya kritis terhadap segala informasi yang didengar dan dibaca baik dalam bentuk berita, gambar, maupun audiovisual. Keempat, ikut serta memberikan edukasi terkait literasi media masyarakat.

Semoga saudara kita yang menjadi korban bencana alam diberikan ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini. Duka Palu, Sigi, Donggala, Situbondo, dan Sumatera adalah duka kita semua. (*)

(Penulis adalah Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Palangka Raya Kalteng)

 

Berita Terkait