Rumah Betang dan Terorisme

Oleh: Saiful Rohman, S.Pd.

 Rabu, Tanggal 17-10-2018, jam 09:30:02


PEMBERITAAN seputar kegiatan IMF and  WB Annual Meeting 2018 di Bali sangat ramai diperbincangkan. Perbincangan tidak hanya dilakukan oleh regional opinion maker (ROM) yang mengikuti kegiatan diseminasi pada bulan juli lalu, melainkan juga masyarakat luas yang tidak terlibat dalam  agenda rutin panitia pelaksana kegiatan tersebut.

Di tengah ramainya perbincangan tentang agenda yang melibatkan ribuan peserta tersebut, penulis teringat dengan sebuah kejadian bersejarah di tanggal yang sama dengan pelaksanaan IMF and WB Annual Meeting 2018. Tepat pada tanggal 12 Oktober 2002, bangsa ini pernah diramaikan dengan rangkaian beritan pengeboman. Semuanya berpusat di pulau yang kini menjadi primadona dunia melalui even IMF and WB AM 2018.

Pada malam hari tanggal 12 Oktober 2012  tiga tempat di pulau dewata diguncang dengan bom. Bom pertama dan kedua mengguncang  Paddy’s Pub daan Sari Club di daerah Kuta Bali. Bom terakhir mengguncang wilayah sekitar konsulat Amerika Serikat. Tiga tahun kemudian (2005), peristiwa semacam ini kembali terjadi di Bali. Menariknya, sejumlah pelaku dalam dua peristiwa ini berasal dari satu keluarga dalam sistem pola kekerabatan.

Penulis semakin tertarik membahas permasalahan pengeboman ini menjadi sebuah artikel opini setelah membandingkan dengan peristiwa pengeboman di sejumlah tempat di Jawa Timur tanggal 13-14 Mei 2018. Peristiwa yang diopinikan sebagai kejadian terorisme ini juga melibatkan satu keluarga sebagai pelaku pengeboman.

Dengan demikian, keluarga sebagai unit terkecil   dalam kehidupan masyarakat  berpeluang menjadi sarang berkembangnya paham radikal bertema terorisme. Disaat bersamaan, pemerintah senantiasa berharap lingkungan keluarga menjadi benteng utama dalam menghalau penyebaran paham radikalisme.

Membendung perjalanan paham radikal yang sudah merasuki unit terkecil kehidupan masyarakat tidaklah mudah.  Pemerintah tidak cukup hanya bersenjatakan aturan perundangan yang merupakan produk politik dan hukum. Pemerintah tidak cukup hanya mempelajari permasalahan sosial yang berbasiskan ekonomi. Tetapi, pemerintah juga harus melibatkan kesatuan budaya lokal untuk mengatasi permasalahan terorisme yang sudah menyerang unit terkecil kehidupan masyarakat Indonesia.

Menjadikan pendekatan budaya lokal dalam menyelesaikan permasalahan terorisme adalah sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan. Mengingat, seringkali pendekatan semacam ini terlewati. Para ilmuwan dan praktisi terorisme seringkali hanya berpusat pada pendekatan global ketika memperbincangkan upaya pemberantasan terorisme. Padahal, Indonesia kaya akan budaya lokal. Tidak menutup kemungkinan, berawal dari pendekatan budaya lokal permasalahan terorisme yang sudah menyerang institusi keluarga dapat teratasi dengan baik.

Rumah Betang merupakan simbol suku dayak. Rumah betang tidak hanya dapat kita baca dari struktur bangunan rumah yang memanjang semata. Melainkan, juga dapat kita analisa dari struktur hubungan sosial yang dapat mendukung upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme berbasis kekerabatan (keluarga).

Namun, rumah betang sebagai  produk budaya lokal  jarang dilirik untuk menjadi icon pemberantasan terorisme di Indonesia. Padahal dalam simbol rumah betang  terdapat nilai – nilai filsafat yang dapat dijadikan sebagai solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan paham radikal yang sudah menyerang institusi keluarga.

Melalui rumah betang, tergambar kehidupan suku dayak yang menjalani kehidupan dengan rukun  dan penuh kedamaian. Setiap individu dalam rumah betang diajak untuk menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan bersama. Hal ini tercermin dengan semangat orang dayak untuk hidup berdampingan dengan warga masyarakat lainnya.

Sebagai bukti nyata, penulis adalah pendatang yang berasal dari Pulau Jawa. Penulis diterima dengan sikap welcome oleh masyarakat pribumi Kalimantan Tengah yang ber-etnis dayak.  Dalam keseharian, kami hidup berdampingan dengan semangat saling kerjasama dan gotong royong. Kami sejalan dan seirama untuk memajukan daerah. Utamanya, daerah pemekaran baru seperti Kabupaten Katingan.

Keinginan penulis untuk ikut memajukan Katingan diapresiasi dengan sangat baik oleh penduduk lokal yang ber-etnis dayak. Wujudnya, kehadiran buku BERAS JAMUR senantiasa mendapat dukungan positif dari mitra kerja penulis yang ber-etnis dayak.

Itulah kemudian yang meng-inspirasi penulis untuk mendalami nilai – nilai filsafat yang terkandung dalam tradisi suku dayak. Salahsatunya, filsafat dalam rumah betang. Ada beberapa nilai filsafat dalam rumah betang yang penulis dapatkan. Nilai filsafat tersebut dapat digunakan sebagai alternatif wacana untuk penanggulangan terorisme dengan pendekatan budaya lokal.

Pertama, rumah betang mengajarkan nilai, kedudukan, dan hak hidup yang sama dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Seringkali pertikaian yang terjadi antar sesama penghuni rumah betang diselesaikan melalui jalur peradilan dalam rumah betang. Sesepuh adat sangat berperan dalam proses peradilan semacam ini. Sehingga, dominasi sebuah keluarga dalam rumah betang relatif kecil.

Hal ini menggambarkan tentang karakter egaliterisme dalam masyarakat dayak dan bermakna keadilan. Kesenjangan sosial merupakan akar dari upaya menuntut keadilan. Dalam konsep pemberantasan terorisme, konsep keadilan semacam ini sangat penting.  Menuntut keadilan merupakan salahsatu alasan seseorang melakukan tindakan radikal.

Kedua, rumah betang tidak hanya berperan sebagai tempat kediaman melainkan juga pusat pendidikan tradisional. Di dalamnya, penghuni rumah betang dapat bertukar pikiran dan pengalaman dalam waktu yang lebih luas dan suasana kekeluargaan yang luas. Kegiatan tukar pikiran dan pewarisan budaya positif antar generasi dapat berlaku sangat efektif. Mengingat, rumah betang tidak hanya dihuni oleh satu atau dua keluarga inti. Melainkan, banyak keluarga inti yang saling akrab dalam satu atap kebersamaan.

Penulis menggambarkan, kehidupan di rumah betang layaknya asrama pendidikan (pesantren). Kesempatan berbagi pengalaman dan mewariskan budaya positif antar generasi sebagaimana yang terjadi dalam rumah betang sangat sulit kita temukan dalam kehidupan modernisme sekarang ini. Kehidupan modernis seringkali menyekat hubungan keluarga dalam sekatan tembok dan atap – atap yang berjarak. Seringkali rumah hanya dihuni oleh keluarga inti yang jumlahnya kecil dan hidupnya berjauhan dengan kerabat yang lain. Sehingga, pewarisan budaya relatif terbatas yaitu orang tua kepada anak sendiri.

Dari sisi ini, misalnya ada orang tua yang terjangkiti paham radikal besar kemungkinan menjalar dengan cepat kepada anaknya. Mengingat, kerabat yang lain terpisah berjauhan. Berbeda halnya dengan rumah betang, masing – masing kerabat lebih mudah mengontrol kerabatnya yang lain karena disatukan oleh atap rumah yang sama. Dengan demikian, pewarisan budaya radikal dari orang tua ke anak lebih mudah teridentifikasi dan tertanggulangi oleh kehidupan keluarga dengan basis rumah betang daripada rumah keluarga modern pada umumnya.

Ketiga, nilai toleransi. Toleransi merupakan sikap saling menghormati dan menghargai aktivitas orang lain. Seringkali, penulis menemui dalam satu kekerabatan suku dayak terdapat beragam kepercayaan yang berbeda. Misalnya, teman kami yang beragama muslim memiliki kakak beragama non muslim. Namun, keduanya hidup dalam satu atap yang berdampingan. Jika salahsatu sedang merayakan hari besar agamanya, maka yang lain dipersiapkan bahan makanan lainnya untuk diolah sendiri.

Hal semacam ini berlangsung secara turun temurun. Toleransi dalam struktur budaya yang semacam ini mampu menghambat munculnya benih – benih radikalisme dalam keluarga berbasiskan rumah betang. Karena, tertanam dalam diri masing – masing anggota keluarga tentang semangat saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Keempat, budaya solidaritas dan kebebasan. Hal ini terlihat dari tradisi pengolahan ladang dan musyawarah. Kami menyaksikan langsung dan melihat di sejumlah media elektronik mengenai proses menanam masyarakat suku dayak. Mereka melakukannya secara bergotong royong dengan penuh solidaritas.

Rumah panjang sebagai ciri khas rumah betang memegang peran penting dalam distribusi arus tenaga kerja. Tambahan pekerja dari keluarga inti lain dalam satu atap rumah adalah kunci keberhasilan kegiatan ladang mereka. Sementara, dalam bermusyawarah mereka tampak diberi kebebasan berpendapat. Solidaritas dan kebebasan yang tercermin dari penghuni rumah betang sebagaimana yang kami sampaikan diatas menjadi modal penting untuk menangkal munculnya modal radikalisme diantara penghuni rumah betang.

Radikalisme yang berujung pada kegiatan terorisme seringkali bermula dari lahirnya pembelahan dalam masyarakat dan hilangnya kebebasan berpendapat. Sebagian masyarakat menyalurkan pendapatnya melalui tindakan radikal yang bermakna teror bagi yang lain.

Seiring dengan bergeraknya peradaban ke arah globalisaasi, jumlah rumah betang kian berkurang. Namun, menjadi harapan dan kebutuhan masa depan, budaya lokal berbentuk rumah betang yang telah kami  abstraksikan diatas dapat dipertahankan dalam alam pemikiran masyarakat, khususnya suku dayak. Mengingat, permasalahan terorisme telah menjadi hantu yang siap menyerang setiap unit terkecil kehidupan keluarga sebagaimana kisah pengeboman di Bali dan Jawa Timur. Keempat nilai filasafat rumah betang diatas diharapkan  mampu mengakar dan berkembang menjadi solusi alternatif mencegah dan memberantas terorisme berbasiskan sistem kekerabatan atau keluarga.

Untuk itu, penulis mendorong pemerintah (BNPT) untuk ikut memperkuat peran rumah betang dan sejumlah produk budaya lokal yang ada di Indonesia dalam upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme. Caranya, (1) melembagakan  dengan baik produk budaya lokal sebagai icon pemberantasan terorisme berbasis keluarga sesuai dengan etnisnya masing - masing (2) membuat desain regulasi yang mendukung kegiatan internalisasi nilai – nilai filsafat yang terkandung dalam produk budaya lokal kepada masyarakat, utamanya generasi muda (3) memperkuat kurikulum produk budaya lokal dalam pembelajaran di sekolah.

(*Penulis adalah Pendidik (PNS) di SMP Negeri 4 Katingan Kuala dan Penulis Buku “BERAS JAMUR” Kontak Person: 082 244865140)

Berita Terkait