Manusia dan Kemanusiaan Dalam Epistemologi Bencana

 Minggu, Tanggal 14-10-2018, jam 12:56:51
Oleh : Adi Cahyono SPd MIkom

SUATU nikmat dari Tuhan seringkali baru terasa nikmatnya saat kita kehilangan. Misalnya kita tidak sadar betapa nikmatnya menggunakan air untuk berbagai kebutuhan hidup, dari mulai minum, mandi, mencuci, dan lain sebagainya. Tapi saat Tuhan datangkan musim kemarau dan kekeringan ekstrim melanda, kita baru sadar betapa berarti dan berharganya air itu bagi hidup kita.

Baru saja bangsa ini diuji dengan gempa hebat yang melanda saudara-saudari kita di Lombok Nusa Tenggara Barat. Tak berselang lama, gempa dan tsunami menghampiri Palu,Sigi dan Donggala menggulung berbagai material yang dilewatinya. Masih belum bisa terhitung pasti berapa jumlah kerugian yang ditimbulkan, ribuan korban jiwa melayang dan keluarga yang terpisah demi menyelamatkan hidup.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana alam cukup tinggi, hal tersebut karena letak Indonesia yang berada diantara tiga lempeng dunia sehingga ancaman bencana sangat rentan terjadi. Sejak dibangku sekolah narasi ini sering didapatkan yaitu pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Posisi geografis dan geologis Indonesia menjadi faktor utama terjadi bencana dan sering dijadikan alasan oleh para stake holder ketika fenomena-fenomena itu berulangkali menimpa. Namun, apakah dengan posisi geografis dan geologis itu, bencana, khususnya yang selama ini disebut sebagai bencana alam, adalah sebuah keniscayaan di wilayah Indonesia masih terus menjadi pertanyaan.

Menurut International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR-2000:24), bencana adalah suatu kejadian yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia, terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, sehingga menyebabkan hilangnya jiwa manusia, harta benda dan kerusakan lingkungan, kejadian ini terjadi diluar kemampuan manusia dengan segala sumber dayanya.

Sesungguhnya bencana bukanlah bencana alam atau bencana non-alam, atau bencana sosial seperti didefinisikan di dalam UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Kalau ini anggapan kita dan yang kita ajarkan kepada masyarakat dan anak- anak kita, ibaratnya kita sedang mengajarkan kepada mereka untuk menyalahkan kodok saat terjatuh ketika sedang berjalan. Karena, perilaku alam bersifat netral. Anggapan baik dan buruknya muncul karena pandangan egoistik manusia.

Alam dikodratkan bersifat pasif sehingga hanya bisa merespons. Alam ibarat sebuah cermin yang hanya bisa memantulkan apa yang dihadapkan kepadanya. Jika kebaikan yang kita hadapkan kepadanya, kebaikan pula yang akan kita terima. Keburukan yang kita sodorkan kepadanya, keburukan pula yang kita dapatkan.

Gunung meletus, gempa bumi, longsor, banjir, tsunami, dan angin puting beliung sudah ada sejak ada bumi, jauh sebelum kehadiran manusia. Semua itu termasuk kodrat yang telah ditetapkan bagi bumi. Ada atau tidak ada manusia, bumi tetap akan berperilaku sesuai kodratnya itu. Gunung-gunungnya tetap akan meletus, gempa-gempanya tetap akan terjadi, tsunaminya tetap berulang kali melanda daratan karena itu semua merupakan bukti bahwa bumi ini hidup.

Rekam jejak tsunami misalnya, ternyata juga sudah terjadi sejak tahun 6.000 Sebelum Masehi. Sebuah media ilmiah www.livescience.com mencatat daftar tsunami maha dahsyat yang pernah terjadi di bumi, yaitu 6.000 sebelum masehi terjadi bencana berupa gugusan salju besar di Sisilia yang longsor dan jatuh ke laut. Longsor yang terjadi pada 8 ribu tahun lalu ini memicu bencana tsunami tersebar di Laut Mediterrania. Tidak ada catatan sejarah bencana ini. Hanya para ilmuwan geologi memperkirakan tsunami dengan kecepatan 320 kilometer per jam ini mencapai ketinggian gedung 10 lantai.

Seandainya penelitian geologi dilakukan untuk rentang waktu yang lebih panjang, mungkin kita akan mendapatkan bukti untuk ratusan tsunami serupa yang terjadi dalam rentang waktu ribuan, ratusan ribu, atau jutaan tahun yang lalu. Yang membedakan tsunami di Palu maupun di Aceh dengan tsunami-tsunami sebelumnya adalah tsunami sebelumnya tidak mengakibatkan bencana. Karena sangat sedikit manusia atau tidak ada manusia sama sekali yang tinggal di dataran pantai saat tsunami-tsunami itu terjadi.

Gempa pun, bahkan dengan magnitudo terbesar, tidak ada dan tidak akan mengakibatkan kematian. Yang menyebabkan kematian adalah robohnya bangunan, terjadinya tanah longsor, kebakaran, atau hal lain akibat guncangan gempa. Namun disisi lain, mekanisme yang menghasilkan gempa-gempa inilah yang mengangkat daratan Indonesia dari dasar lautan sejak jutaan tahun lalu, membentuk pulau-pulau, bukit, dan gunung dengan segala keindahan di dalamnya. Gempa-gempa itu pula yang retakan-retakannya menjadi ruang-ruang yang saat ini ditempati oleh minyak bumi, emas, perak, tembaga, dan berbagai bahan tambang yang lain.

Kini zaman telah berubah, seiring hari semakin besar jumlah populasi hingga berdomisili memenuhi dataran pantai, semakin banyak pula bangunan-bangunan berdiri yang ketika tersapu ombak dan digoyang gempa kekokohannya goyah dan menindih penghuninya.

Manuver perkembangan teknologi informasi dengan mudah memberikan kita gambaran dan data tentang jumlah korban jiwa tertindih reruntuhan bangunan akibat gempa berkekuatan 7 skala ritcher di Lombok dan tsunami di Palu tidak seberapa lama terjadi.

Apapun bencana yang telah terjadi dinegeri ini sudah selayaknya membuat kita berempati. Rasa empati itu kemudian ditransformasikan dalam wujud doa-doa terbaik, donasi kepedulian, dan berbagai aktivitas solidaritas kemanusiaan, karena kemanusiaan adalah bentuk perdamaian yang nyata dimana antara satu manusia dengan manusia yang lain tidak terbatas lagi oleh sekat-sekat pemisah untuk saling mengharagai, menjaga dan melindungi. (*)

(Penulis adalah Direktur LAZ Nurul Fikri Kalimantan Tengah)

Berita Terkait