Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (1)

Tak Ada Danau, Sumber Air Diambil dari Tujuh Rumah

 Jum`at, Tanggal 12-10-2018, jam 05:45:40
Ki Dalan Sucipto Hadi Susilo (baju putih) saat melakukan prosesi siraman kepada peserta ruwatan, di Aula Disnakertrans Kalteng, Sabtu (6/10). (ANISA/KALTENG POS)

Sukerta, dalam bahasa Jawa adalah orang yang dianggap memiliki aib atau cacat spiritual. Untuk menjadikannya normal, maka harus diruwat. Mereka yang masih memegang kepercayaan adat Jawa kuno ini meyakini, orang yang diruwat akan terhindar dari balak sepanjang hidupnya.

 

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

PROSESI ruwatan dan pergelaran wayang merupakan adat dan kesenian yang berasal dari Pulau Jawa, tepatnya dari Jawa Tengah. Saat ini, prosesi dan kesenian itu bisa dijumpai di Kalteng. Buktinya, Sabtu Wage, malam Minggu kliwon (6/10), prosesi ruwatan dan pergelaran wayang dilaksanakan di Aula Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalteng.

Suara yang dihasilkan dari seperangkat alat musik perkusi, petik, serta gesek mulai terdengar samar dari Jalan Yos Sudarso. Alat musik tersebut, di antaranya bonang, gambang, gendang, gong, siter, kempul, dan seperangkatnya. Alat-alat musik itu tak bisa dipisahkan dalam serangkaian prosesi ruwat dan pergelaran wayang.

Alunan musiknya disebut gending. Alunan itulah yang sudah terdengar sejak azan Magrib usai dikumandangkan. Satu per satu peserta ruwat berdatangan. Ada yang tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Jumlah seluruhnya 12 orang.

Peserta ruwat harus memiliki syarat ruwat. Di antaranya, ontang-anting. Artinya, anak tunggal laki-laki atau perempuan. Sendang kapit pancuran, yaitu tiga orang anak yang berselang-seling (laki-laki-perempuan-laki-laki). Pancuran kapit sendang, yaitu tiga orang anak yang berselang-seling (perempuan-laki-laki- perempuan). Anak kembar. Kembang sepasang, yaitu dua anak perempuan. Kendhana-kendhini, yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan.

“Sebenarnya syarat orang yang harus diruwat banyak. Tapi yang sering dilakukan seperti yang disebutkan itu,” ucap Ki Dalang Sucipto Hadi Susilo.

12 orang itu berbalut kain ikhram berwarna putih. Duduk paling depan berjejer menyamping. Para panitia mengenakan baju adat Jawa. Baju lurik. Bermotif garis-garis ke bawah, berwarna cokelat. Serasa berkumpul dengan puluhan orang Jawa. Mereka, adalah orang Jawa Tengah, tepatnya Kabupaten Sleman, yang sudah lama merantau ke Bumi Tambun Bungai ini.

Sesaji berupa tebu, pisang, kelapa, dan masih banyak lainnya, adalah salah satu kewajiban yang harus disajikan sebagai syarat ruwatan. Penonton mulai berdatangan. Yang hadir adalah masyarakat Kalteng perantau dari Kabupaten Sleman.

Sucipto, bukan hanya sebagai dalang pergelaran wayang. Namun, juga menjadi pemandu proses ruwatan. Dialah yang melakukan prosesi siraman.

Sekitar pukul 18.45 WIB, prosesi siraman ruwatan berlangsung. Sucipto memanggil satu per satu peserta ruwatan untuk dilakukan siraman. Air yang digunakan dalam siraman diambil dari tujuh sumber dan tujuh macam bunga. Tujuh macam bunga itu disebut kembang setaman. Di antaranya bunga kanthil, mawar, melati, kenanga, cempaka kuning, sedap malam, dan melati gambir.

“Sebenarnya air yang digunakan berasal dari tujuh sendhang (danau). Namun di Palangka Raya tidak ada danau. Jadi kami menggunakan sumber air, diambil dari tujuh rumah,” ucapnya, saat dibincangi menjelang pergelaran wayang kulit.

Setelah semua peserta ruwatan dimandikan, mereka kembali ke tempat duduk semula. Masih mengenakan kain ikhram putih yang telah basah. Sucipto menuju panggung pergelaran wayang. Alat musik gamelan mulai berbunyi. Suara merdu dari sinden cantik dengan rambut disanggul, saling bersahutan. Beradu dengan gamelan yang dimainkan dua belas orang laki-laki. Ramai sekali. Rasanya ingin menggeleng-gelengkan kepala.

Sucipto, berpakaian sorjan putih dengan keris terselip di pinggang, mulai melantunkan bahasa Jawa kuno, sambil menggoyang-goyangkan wayang kulit. Saya (penulis) pun tidak mengerti apa yang diucapkan dalang itu. Seorang penonton yang hadir, duduk di samping kiri saya, mengatakan:

“Itu serangkaian doa yang ditujukan kepada peserta ruwatan, menggunakan bahasa Jawa kuno.” Ternyata perempuan paruh baya tersebut asal Sleman.

Lumayan lama, sekira pukul 20.30 WIB, prosesi ruwatan selesai. Peserta diperbolehkan meninggalkan tempat duduk dan melepas kain ikhram yang tampak masih basah itu. Sebagian orang tua memeluk dan mencium anaknya yang baru saja diruwat.

Sedikit haru, melihat kepercayaan kuno yang masih melekat. Padahal, saat ini sudah zaman modern. Namun, mereka tidak meninggalkan adat istiadat yang telah diturunkan dari nenek moyang sejak dahulu kala. Prosesi pergelaran wayang dimulai pukul 22.00 WIB. Masih Sucipto yang menjadi pemandu, di atas panggung berukuran kira-kira 2x5 meter itu. Sucipto mengungkapkan, pergelaran wayang itu menceritakan kisah tentang Pandhawa Bangun Candi Sapto Arga.

Diungkapkannya, kisah itu menceritakan tentang Pandhawa dan Astina. Dalam kisah ini, diambil versi saat raja Astina menumpas Pandhawa yang berbakti. Kemudian, kalah dengan Raden Janaka yang menjadi penengah Pandhawa. Jika Pandhawa hilang satu, bukan lagi Pandhawa namanya.

“Sedangkan dalam Islam, Pandhawa memiliki arti tersendiri, yakni rukun Islam,” pungkas Sucipto. (ce/ram)

Berita Terkait