Tolak Lepas Hijab, Atlet Judo Dapat Tawaran Umrah

 Rabu, Tanggal 10-10-2018, jam 06:14:23
Miftahul Jannah

JAKARTA –  Didiskualifikasinya atlet para judo Miftahul Jannah karena tidak mau melepas hijab di Asian Para Games 2018 ternyata menjadi sengsara membawa nikmat. Miftah banyak mendapat tawaran ibadah umrah karena keteguhan prinsipnya. 

Beberapa pihak yang menawari Miftah umrah antaralain adalah perwakilan DPR RI dan tokoh agama Ustaz Adi Hidayat. Miftah pun merasa hadiah tersebut lebih berharga ketimbang medali emas, perak, atau perunggu di Asian Para Games 2018. "Mungkin inilah medali emas untuk Miftah di Asian Para Games 2018," ujarnya penuh syukur di GBK Arena, Senayan, Jakarta, Selasa (9/10).

Miftah yang tidak menyangka bisa mendapatkan hadiah bak durian runtuh itu pun mengaku sangat bahagia. "Ini membuat Miftah jauh lebih senang. Ini di luar dugaan," katanya.

Sementara polemik Blind Judoka Indonesia Miftahul Jannah yang gagal bertanding di Asian Para Games (APG) 2018 setelah menolak untuk melepas hijab saat masuk matras akhirnya terang benderang.

Penyebabnya, ternyata ada aturan yang melarang dan pelatih serta ofisial judo, baru mengetahui setelah dilakukan technical meeting pada Minggu sore (7/10).

Menurut Ketua National Paralympic Committee (NPC) Indonesia Senny Marbun, kesalahan adalah karena adanya keteledoran dari cabor judo dan juga NPC.

"Saya minta maaf, karena keteledoran judo juga kesalahan NPC. Mudah-mudah kejadian ini tidak terulang lagi di event berikutnya, di ASEAN Para Games dan Paralimpiade," katanya, dalam jumpa pers di MPC Asian Para Games di GBK Arena, Jakarta, Senin (8/10) petang.

Miftahul dijadwalkan bertanding di JI-Expo Kemayoran, di nomor -52 kg kategori low vision. Miftahul harus menghadapi judoka Mongolia, Oyun Gantulga. Tapi karena hijab tak mau dilepas, dia pun didiskualifikasi.

"Atas nama NPC saya minta maaf atas kejadian sangat memalukan sebetulnya tidak diharapkan terjadi di Indonesia. Saya akui NPC bersalah, karena mau bagaimanapun juga NPC harus tahu semua. Sebenarnya regulasi ada, tapi pelatih yang nggak mau tanya tentang itu, maka semua seperti ini," terangnya.

Kesalahan fatal ini terjadi setelah salah satu pelatih judo mengikuti technical meeting. Saat itu sudah dijelaskan, dia tak mencerna penjelasan dengan apik dari Asian Paralympic Commitee (APC) akibat tak mengerti bahasa inggris.

"Jadi waktu ada perintah dari APC tentang itu, dia (pelatih, red) mungkin sok tahu dan tidak mau minta tolong sama yang lain untuk tahu itu. Sebetulnya dalam aturan dilarang berhijab, tapi aturan itu tetap mengacu olahraga untuk semua, tidak ada diskriminasi. Tidak ada yang salah di sana. Kami harap ini tak terjadi lagi," tuturnya.

Di sisi lain, Direktur Sport Inapgoc Fanny Riawan menjelaskan soal aturan pada judo internasional pada artikel nomor 4 poin 4. Disebutkan, bahwa tidak boleh ada apapun yang menutupi kepala. Tidak ada yang melindungi kepala. Setelah aturan itu dibahas semua manajer tim langsung sepakat. "Jika ada pembicaraan lain di luar rapat itu, kami dari Inapgoc tidak tahu rangkaiannya," tuturnya. (dkk/jpnn)

Berita Terkait