Peserta Yacht Rally Wonderful Sail to Indonesia 2018 “Mencicipi” Budaya Kalteng (1)

Lihat Kampung Dayak, Turis Asing Main Bagasing, Menyumpit hingga Melamang

 Selasa, Tanggal 09-10-2018, jam 05:51:25
Seorang turis perempuan mencoba menggunakan sumpit, di sela-sela kunjungan ke Kobar, kemarin. (HUSRIN A LATIF/KALTENG POS)

Event internasional bertajuk Wonderful Sail to Indonesia 2018, benar-benar menjadi berkah bagi pariwisata di Kalteng. Hampir 200 turis dari mancanegara “mencicipi” berbagai macam destinasi wisata di Kotawaringin Barat (Kobar).

 

HUSRIN A LATIF, Pangkalan Bun

 

 

PULUHAN wisatawan mancanegara yang tergabung dalam peserta Yacht Rally Wonderful Sail to Indonesia 2018, berkesempatan melihat kampung Dayak di Desa Pasir Panjang. Puluhan turis ini disambut dengan segala hal yang bernuansa adat Dayak. Kemudian, mereka diajak memasuki rumah adat, yakni rumah betang.

Para turis tersebut tampak menikmati pemandangan bangunan rumah betang yang berdiri kokoh di pinggir jalan menuju destinasi wisata di wilayah Kumai tersebut. Tak hanya berkesempatan memasuki rumah betang saja, mereka pun bisa menyaksikan tari Babukung, mencoba permainan tradisonal bagasing, olahraga menyumpit, serta pembuatan pangan lokal yakni melamang. 

Tanpa ragu-ragu, beberapa turis mencoba olahraga tradisional menyumpit. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) pun turun tangan. Mereka dengan telaten mengajari para turis tersebut bagaimana menyumpit yang benar. Alhasil, jadwalnya yang harusnya cuma 1,5 jam berada di Desa Pasir Panjang, menjadi lebih lama. Molor 1,5 jam. Turis yang ikut berasal dari beberapa negara. Seperti Australia, Denmark, Prancis, Belanda, Jerman, Selandia Baru, Spanyol, Amerika Serikat, Chili, hingga Kanada. Mereka tampak menikmati seni dan budaya yang ditampilkan di Desa Pasir Panjang.  

Bupati Kobar Hj Nurhidayah berharap, kedatangan para turis mancanegara tersebut dapat mempromosikan tentang keragaman potensi wisata di daerah berjuluk Bumi Marunting Batu Aji ini.

“Kedatangan mereka kami sambut dengan baik. Momen ini juga kita manfaatkan untuk memperkenalkan potensi wisata lain, selain Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) yang sudah terkenal di dunia internasional,” ujar Nurhidayah.

Pemkab Kobar, lanjut bupati, sangat berterima kasih kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar), yang telah memasukkan agenda ini melintasi perairan Kumai.

“Di Kobar, selain TNTP, masih ada potensi wisata budaya dan religi serta objek wisata seperti rumah betang, Istana Mangkubumi, Istana Kuning, dan Astana Alnursari Kolam. Tentunya potensi wisata tersebut harus dikenalkan ke berbagai penjuru dunia,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Kalteng BERKAH, Laksamana (Punr) Marsetio mengungkapkan, Bali baru ke-11 sudah diusulkan ke pemerintah pusat. Dengan harapan bisa disetujui. Walaupun pemerintah sudah menetapkan 10 destinasi wisata Bali baru beberapa waktu lalu, namun Marsetia meyakini destinasi wisata baru di daerah ini.

“Ini merupakan kesempatan kami, karena sangat jarang ada destinasi wisata seperti di TNTP ini. Bahkan, kemungkinan besar di Indonesia hanya ada satu-satunya destinasi wisata yang sangat luas. Jadi itulah yang kami usulkan,” kata Marsetio.

Dirinya juga menambahkan, TNTP memiliki luas hutan yang mencapai 500 ribu hektare. Bisa dikatakan yang paling luas di Indonesia ini. Dan itulah yang membuat Pemerintah Provinsi Kalteng dan Kabupaten Kobar mengusulkan daerah ini menjadi Bali baru ke-11. Selain itu, di TNTP juga memiliki habitat orang utan yang jumlahnya mencapai 5.000 ekor. Inilah yang menjadi daya tarik untuk pemerintah pusat menyetujui usulan tersebut. (ce/ram)

Berita Terkait