Bincang-bincang dengan Perempuan yang Menjadi Penerjun Payung (1)

200 Kali Melayang dan Pernah Sangkut di Pohon

 Minggu, Tanggal 07-10-2018, jam 06:44:19
Aksi menegangkan Nurfauziah melayang di langit Palangka Raya dan mendarat sempurna saat HUT ke-73 TNI di halaman Mapolda Kalteng, Jumat (5/10).(FOTO : DENAR/KALTENG POS)

Upacara HUT ke-73 TNI di Mapolda Kalteng, menyisakan segudang cerita. Banyaknya atraksi yang ditampilkan, membuat masyarakat semakin paham tugas dan kewajiban para aparat penegak hukum. Seperti halnya tugas para penerjun payung yang perlu nyali besar dan siap mati.

 

M RIDUAN NOOR, Palangka Raya

===========-=====================

 

MELIHAT terjun payung membuat adrenalin mengalir lebih deras. Apalagi yang menjalaninya.

Meski awalnya ada rasa takut dan kekhawatiran, dengan latihan dan pengetahuan yang mumpuni, berhasil landing (mendarat) sempurna membuat sang penerjun merasa bangga.

“Dalam melakukan aksi terjun payung, banyak hal yang harus diperhatikan dan diwaspadai salah satunya arah angin yang sering berubah-ubah,” ungkap Briptu Nurfauziah, salah satu dari 15 penerjun HUT ke-73 TNI di Mapolda Kalteng, Jumat (5/10).

Berbincang-bincang dengan Kalteng pos, polisi cantik berusia 22 tahun ini menceritakan keinginannya sangat kuat untuk menjadi seorang penerjun payung yang handal.

Untuk itu, ia banyak melakukan latihan di darat terlebih dahulu. Salah satunya untuk mengenal perasut yang digunakan dan cara pengunaannya, dan cara mengendalikannya. Hal ini dilakukan agar saat melakukan aksi terjun payung, kesalahan yang dilakukan saat berada di udara tidak terlalu banyak.

Dari 200 lebih aksi melayang di udara, tentu saja ia pernah mengalami kesalahan. Manusiawi. Salah satunya sangkut di pohon. Bahkan pernah juga mendaratnya tidak sesuai kordinat (dropzone) yang telah ditentukan.

“Namun hal tersebut merupakan salah satu seni dalam aksi terjun payung, kesalahan terkadang terjadi, tergantung pribadi masing-masing apakah dapat mengatasi hal tersebut atau tidak,” ucapnya.

Bintara Polwan Den A Pelopor Sat Brimobda Kalteng itu menjelaskan, kendala saat melakukan aksi terjun payung, adalah cuaca yang terkadang tidak menentu atau angin yang sering berubah arah. Contohnya saja di Kota Palangka Raya yang sedang dilanda asap tipis. Merupakan salah satu kendala saat melakukan pendaratan. Jika asapnya terlalu tebal, sudah pasti pendaratan buruk menjadi ancaman.

Dari pantauan Kalteng Pos, Nurfauziah masuk daerah pendaratan (DPn) dengan sempurna. Berdiri dengan tegap langsung hormat kepada Kapolda Kalteng, Danrem, Gubernur Kalteng dan tamu undangan lainnya.

“Alhamdulillah saat HUT TNI cuacanya cukup mendukung dan tim yang berada di lapangan memberikan komando yang luar biasa. Sehingga kami dapat melakukan landing dengan sempurna tanpa melakukan kesalahan,” tuturnya. (*/bersambung)

Berita Terkait