Literasi Data, Bekal Prestasi Bangsa

Oleh : Lili Retnosari SST

 Sabtu, Tanggal 06-10-2018, jam 08:36:00
Lili Retnosari SST

DALAM sebuah Rapat Kerja Nasional Kemenristek Dikti 2018, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristek Dikti menyampaikan bahwa salah satu kemampuan yang harus dimiliki dan diajarkan pada kurikulum perguruan tinggi untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0 adalah literasi data.

Literasi data didefinisikan sebagai kemampuan untuk mendapatkan informasi dari data, lebih tepatnya kemampuan untuk memahami kompleksitas analisis data.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengatakan bahwa jika dulu orang katakan yang menyebabkan orang menjadi kaya adalah karena menguasai tambang minyak, gas, atau yang berasal dari nature resource.

Pada era digital yang disebut tambang adalah tambang data, namun data yang kita olah dan pahami. Ya, data atau angka statistik yang ada tidak akan berguna jika para penggunanya tidak mampu membaca makna yang terkandung dibalik data statistik yang dihasilkan. Lebih parah lagi jika pemaknaan dari setiap angka statistik yang disajikan ternyata kurang tepat atau bahkan salah kaprah, sehingga keputusan yang diambil menjadi salah arah dan justru merugikan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa statistik sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Disadari atau tidak. Mulai dari kebiasaan para pembeli di pasar yang membandingkan harga, para pegawai yang menentukan waktu berangkat ke kantor agar tidak telat, dan sebagainya. Penggunaan statistik tidak hanya digunakan oleh para peneliti, tetapi jauh lebih luas.

Bagi pemerintah sendiri, data statistik merupakan alat utama perencanaan, pengambilan kebijakan, dan juga evaluasi dari kebijakan itu sendiri. Tidak dapat dibayangkan kebijakan apa yang akan diambil untuk mengurangi pengangguran misalnya, jika tidak ada data jumlah pengangguran itu sendiri. Apalagi jika kalangan pemerintah, baik pusat maupun daerah, tidak mampu memahami makna yang sebenarnya terkandung dalam setiap angka statistik (data illiteracy) seperti yang terjadi di beberapa daerah.

Hal ini sangat perlu menjadi perhatian karena jika misalkan pemerintah daerah salah memaknai angka statistik daerahnya, kebijakan yang diambil pun kemungkinan tidak akan tepat sasaran.

Oleh karena itu, skill memahami makna data sangat penting untuk dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat sipil, akademisi, dan pemerintah. Terutama oleh para generasi muda yang akan memimpin masa depan dan terus menghadapi perkembangan dunia yang semakin kompetitif dan menuntut keterukuran.

Kemampuan menganalisis data yang tentunya tidak bisa digeneralisasikan untuk semua jenis data dan tempat, perlu dipelajari dan dipraktikan dengan segera sejak dini, agar pembangunan bangsa yang dihasilkan dapat lebih efektif seperti yang terjadi di negara-negara maju. Pemahaman makna data yang terkadang jauh dari makna sebenarnya, dikarenakan belum mengerti konsep yang ada sangat disayangkan. Apalagi sampai ke tingkat menyalahkan instansi yang mengumpulkan data. Sikap ragu memang wajar, tetapi akan lebih baik jika keraguan itu dilontarkan dengan berusaha memahami konsep definisi dari setiap data yang dikomentari atau digunakan, dengan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 lalu, memberikan gambaran bahwa penduduk Indonesia di tahun 2035 diproyeksi sebesar 305,6 juta jiwa. Semakin banyaknya jumlah penduduk, apalagi penduduk berusia produktif (15-64 th) yang diproyeksikan akan mencapai angka 70 persen dibandingkan penduduk usia tidak produktif yang hanya sekitar 30 persen pada periode 2025-2030, dapat menjadi indikasi semakin bervariasi dan banyaknya jenis data yang dibutuhkan oleh masyarakat di masa yang akan datang seiring berkembangnya teknologi.

Hasil Survei Kebutuhan Data BPS tahun 2017 juga menunjukan bahwa kebutuhan akan data semakin hari semakin beragam, terutama data statistik. Permintaan berbagai jenis data oleh masyarakat, para mahasiswa, dosen, maupun instansi terus meningkat dan beraneka ragam. Hal ini tentu dapat dijadikan dasar bahwa sangat mungkin kebutuhan data di masa yang akan datang akan terus meningkat, terutama oleh para akademisi dan pemerintah, apalagi di era digital seperti sekarang ini.

Mengingat hal tersebut, literasi data harus mulai ditingkatkan dan disosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat. Jangan sampai para generasi muda calon pemimpin bangsa tidak mengerti literasi data, karena di tangan mereka lah semua kebijakan pembangunan akan diambil dan prestasi bangsa dipertaruhkan. Begitu juga dengan masyarakat pada umumnya, jangan sampai salah paham atau salah mengkritisi data pembangunan yang dipaparkan, sehingga salah menilai atau mengevaluasi pembangunan yang dilakukan pemerintah. Jangan sampai penyebab masalah pembangunan yang terjadi saat ini  yakni kurangnya pemahaman secara detail dan menyeluruh terhadap data yang digunakan, terulang di masa yang akan datang.

Mari mulai ‘sadar’ akan pentingnya data, dukung pemerintah agar menghasilkan data berkualitas, dan tingkatkan literasi data dari berbagai sumber terpercaya, sebagai bekal  meraih prestasi dan puncak keemasan pembangunan bangsa baik pada era Revolusi Industri 4.0 maupun bonus demografi yang diproyeksikan akan terjadi pada 2025-2030. (*)

(Penulis merupakan Statistisi BPS Kabupaten Pulang Pisau)

Berita Terkait