Luh Putu Muliani Handayani, Mengentaskan Kaum Hawa dari Kebodohan (2/Selesai)

Libur Mengajar Memilih Jualan

 Sabtu, Tanggal 06-10-2018, jam 06:17:23
Luh Putu Muliani Handayani (kaos merah) saat beraktivitas bersama anak-anak TK di Lembaga Sosial Muhini, baru-baru ini. (DOK MUHINI UNTUK KALTENG POS)

Manusia diciptakan Tuhan. Tujuannya hidup dan menjaga alam. Nanti, manusia itu akan dikembalikan ke alam pula. Itulah alasan Putu hidup sederhana berbaur dengan alam. Yang terpenting, lembaga tercintanya berdiri tegak dan terus berkembang.

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

MUHINI. Nama lembaga yang dibesarkan oleh Putu. Diambil dari nama dewa di negara India, Wisnu. Saat itu, Wisnu menjadikan dirinya sebagai perempuan bernama Muhini untuk menyelamatkan dunia. Kala tirta dikuasai para raksasa, dengan jelmaannya sebagai perempuan, Wisnu bisa menyelamatkan dunia. Itulah cita-cita Putu. Ingin menjadikan perempuan sebagai penyelamat. Baik bagi diri sendiri, keluarga, bangsa, bahkan untuk dunia.

Dengan alasan itulah, lembaga sosial tersebut ia dirikan. Sepenuhnya untuk perempuan. Selain itu, lambang teratai lembaga ini, juga memberikan dorongan kepada penghuninya. Kapan pun dan di mana pun, perempuan hebat bisa hidup.

Tekadnya juga didorong oleh keinginan meneruskan program Kartini. Dijelaskannya, Kartini memiliki mimpi untuk bersekolah. Kala mendapat kesempatan untuk bersekolah, malah Tuhan memangilnya.

“Saya ingin meneruskan program beliau. Itulah mengapa dikatakan ‘habis gelap terbitlah terang’. Ketika beliau sudah berpulang, kita perempuan harus bangkit. Terbitlah menjadi perempuan yang terang,” ucapnya.

Alasan itu pula, mendorong dirinya sebagai perempuan, untuk terus mengejar pendidikan. Sekaligus menularkan ilmunya kepada perempuan-perempuan di sekitarnya. Diceritakan pula perjuangannya, mulai dari gadis hingga berdirinya Lembaga Muhini. Tak mudah baginya bisa bersekolah hingga menjadi magister filsafat Hindu. Juga soal perjuangannya mendirikan sebuah lembaga.

“Banyak tantangan, saya harus bolak-balik Bali dan Kalimantan. Demi mengejar magister filsafat Hindu. Juga demi lembaga ini,” tegasnya.

Lembaga yang didirikan dengan uangnya sendiri itu, tidak memberikan untung bagi Putu. Namun tekadnya murni memberdayakan para perempuan di sekitarnya. Apa pun rela ia lakukan. Bahkan, ia rela hidup bersama keluarga dalam keadaan sangat sederhana. Bisa dikatakan jauh dari kemewahan.

Rumah sederhana berbahan kayu tanpa dicat itu, menjadi tempat Putu dan keluarganya beristirahat. Padahal, sebagai seorang dosen sangat tidak layak menempati rumah sederhana seperti itu. Namun, tekadnya mengikis kebodohan perempuan, melenyapkan keinginannya untuk hidup bermewah-mewahan.

“Jika saya mau bangun rumah bagus, bisa. Tapi untuk apa, jika masyarakat di sekitar hidup penuh kekurangan,” ucapnya, membuat saya terharu.

Bagi Putu, manusia diciptakan untuk alam, dan akan dikembalikan ke alam pula. Karena itu, tidak ada gunanya hidup mewah, jika tidak mengetahui apa yang ada di sekitar. “Toh, saat manusia meninggal dan dikuburkan, maka ia akan dikembalikan ke alam juga,” sahutnya.

Tak heran, lembaga sosial itu sangat rindang dan sejuk. Sebagai pemilik sekaligus pengelola, Putu menciptakan taman baca bagi penghuni lembaga. Lagi-lagi, ia harus merogoh kocek sendiri untuk memenuhi taman baca itu dengan bermacam buku.

“Ada taman organik. Ada pula taman baca. Saya sisihkan sisa uang untuk membeli buku. Kadang beberapa hari sekali membeli satu buah buku. Lama-lama menjadi perpustakaan,” kata dia.

Saya pun mencoba melihat sekeliling lembaga itu. Memang, tidaklah mewah. Namun cukup menarik dilihat. Karena kreativitasnya, menjadikan lembaga tersebut nyaman bagi yang berada di dalamnya. Di samping kiri rumahnya, terdapat ruang kecil, ditutupi kain hijau. “Itu tempat kami bersembahyang. Kami agama Hindu. Jika bersembahyang, ya di sini,” ucapnya menjelaskan fungsiu ruang kecil tersebut.

Putu tak hanya giat dalam kesehariannya sebagai pendidik. Ia juga mengutamakan ketaatan hidup beragama. Ia pun mendirikan Yayasan Gowinda Saraswati. Juga di lembaga sederhananya itu. Pasalnya, yayasan ini hanya khusus bagi masyarakat pemeluk agama Hindu. Targetnya adalah anak-anak sekolah dasar (SD) hingga sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), khusus pendidikan Hindu.

“Ilmu yang saya cari hingga Denpasar, akan saya tularkan kepada pemeluk agama Hindu di Palangka Raya,” kata Putu.

Setelah mendengarkan kisah perjuangan Putu, saya pun tertarik mengelilingi area lembaga. Juag melihat kondisi rumahnya. Pertanyaan kembali muncul di benak saya, tatkala mata saya tertuju pada dua kulkas dan tumpukan buah. Membangkitkan rasa penasaran. Seakan mengetahui apa yang saya pikirkan, Putu langsung menjelaskan. Dikatakannya, tumpukan buah itu adalah dagangannya. Ketika libur mengajar, ia berjualan rujak buah keliling bersama anak perempuan dan warga binaan lembaga.

“Ini salah satu kegiatan pembinaan kreativitas perempuan di lembaga kami. Jika libur mengajar, saya jualan buah keliling bersama mereka dan anak perempuan saya,” ungkapnya.

Lembaga sosial bertajuk pendidikan itu, terbagi menjadi tiga, Taman Kanak-kanak (TK), Lembaga Pembinaan Kreativitas Perempuan, dan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar. Selain itu, lembaga itu juga bergabung dengan Yayasan Gowinda Saraswati. Semua masyarakat yang ikut dalam lembaga ini, dibebaskan dari biaya alias gratis.

“Siapa pun bisa belajar di sini. Tidak perlu membayar. Jika anak TK biasanya ada yang membayar sukarela. Karena sukarela, maka kami terima. Jika tidak bayar pun tidak masalah. Untuk kegiatan yang lain, gratis,” tukasnya.

Ditambahkan Putu, saat ini dirinya sedang merencanakan pembukaan cabang TK di area lingkar luar di  Jalan Trans-Kalimantan, Kota Palangka Raya. Sebelumnya, ia telah mendiriakn cabang TK di Kabupaten Pulang Pisau, yang dikelola oleh salah satu anaknya.

Salah satu guru pengajar TK, Rofiah membenarkan. Diakuinya, sebagai pengajar, dirinya ikhlas dan tulus mengajar di lembaga sosial itu. Ia rela menularkan ilmunya, walau hanya dengan upah Rp300 ribu saja. Bagi rofiah, upah yang sedikit itu akan menjadi banyak, jika memang ikhlas dijalankan.

“Gaji saya hanya Rp300 ribu. Sudah hampir 10 bulan ini belum dibayar. Uang Putu sedang difokuskan untuk pembenahan lembaga. Saya belajar membangun prinsip seperti Putu. Karena beliau juga yang mengajarkan saya,” pungkasnya. (*abw/ce)

Berita Terkait