Luh Putu Muliani Handayani, Berjuang Mengentaskan Kaum Hawa dari Kebodohan (1)

Dirikan Lembaga Modal Sendiri, Ajak Perempuan Harus Kreatif dan Berpendidikan

 Jum`at, Tanggal 05-10-2018, jam 06:09:18
Luh Putu Muliani Handayani usai dibincangi Kalteng Pos di Lembaga Sosial Muhini, Jalan G Obos 19 A, baru-baru ini. (ANISA/KALTENG POS)

Tidak banyak orang seperti Luh Putu Muliani Handayani. Rela mengocek uang di sakunya demi mendirikan lembaga pendidikan. Sebuah lembaga sosial. Lembaga yang bertajuk membina perempuan. Demi menelurkan perempuan-perempuan sukses.

 

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

ENTAH, terharu atau bangga yang tepat disampaikan. Perjuangan seorang perempuan dimulai sejak 20 tahun silam. Merantau dari Pulau Bali ke Bumi Tambun Bungai. Sejak masih gadis hingga memiliki delapan anak. Bolak-balik Bali dan Kalimantan demi sebuah ilmu. Habiskan uang pribadi demi membangun sebuah lembaga sosial. Cita-citanya, mengikis kebodohan.  Itulah perjuangan guru Luh Putu Muliani Handayani.

Kediamannya tak jauh dari kota. Jalan George Obos No 19 A. Tinggal bersama suami tercinta serta lima orang anak. Sekitar 100 meter dari jalan induk, ada gang kecil berlumpur. Di ujung jalan kecil itu, terdapat sebidang tanah kira-kira lebar 10x5 meter. Tanah milik guru Putu.

Saya (penulis) memang sedang mencari sebuah TK Muhini, untuk sebuah keperluan. Dari gang kecil itu, terdengar aktivitas anak-anak. Saya yakin gang kecil itu membawa saya ke TK Muhini. Ternyata benar. Anak-anak TK yang sedang bermain di halaman itu, memakai seragam olahraga berwarna merah muda, bertuliskan TK Muhini pada punggung.

“Jangan diinjak sayang. Nanti tanamannya rusak,” tegur seorang guru kepada muridnya.

Saya memasuki area yang penuh tanaman dengan pagar kayu itu. Awalnya prihatin. Sekolah berlantai dua itu terbuat dari kayu. Tampak seadanya. Namun, terlihat indah dengan aneka bunga di setiap sudutnya. Bangunan kayu yang dicat warna-warni itu, menghilangkan kesan kesederhanannya. Terlihat indah dipandang.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang guru yang kemudian mengajak saya masuk. Saya berjalan mengikuti langkahnya.

Dipersilakan masuk dan duduk di ruang guru. Mata saya menatap berbagai macam tulisan yang menempel di dinding. Ada banner bertuliskan Yayasan Gowinda Saraswati, Lembaga Pembinaan Kreativitas Perempuan, dan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Timbul tanda Tanya di benak saya. Ini TK atau bukan?

Tak lama, perempuan berbaju merah muda datang menghampiri. Tapi, kali ini tak berkerudung. Rambutnya diikat panjang. Berkulit sawo matang. Dia memperkenalkan diri. Namanya Putu – sapaan akrab Luh Putu Muliani Handayani.

“Apa yang bisa saya bantu mbak?” pertanyaan yang sama dengan guru sebelumnya. Maksud dan tujuan saya utarakan. Ingin bertemu dengan anak-anak TK. Namun, niat itu seakan dikelabui oleh berbagai pertanyaan dan rasa penasaran, yang menyelimuti hati dan pikiran saya sedari masuk halaman tadi. Seketika saya bertanya. ”Ini sekolah TK atau?” Pertanyaan saya terhenti. “Lembaga Muhini, mbak,” jawabnya singkat memotong pertanyaan yang belum selesao kuucapkan.

Saya pun tertarik. Dengan sengaja meminta perempuan paruh baya itu membeberkan soal Lembaga Muhini miliknya.

Lembaga itu didirikan Putu dengan modalnya sendiri. Sebidang tanah dibelinya bersama suami. Dijadikan sebuah lembaga untuk memberdayakan masyarakat sekitar, khususunya kaum perempuan.

Berawal pada bulan September 2014 silam, dengan dana pribadinya, membangun satu ruang yang diniatkan untuk anak-anak TK belajar. Satu tahun kemudian, ia beranikan membangun tiga pintu dengan bermodalkan dana Rp30 juta, yang ia pinjam dari salah satu badan usaha di Kota Palangka Raya. Saat ini lembaga itu dihuni 26 murid. Tak cukup. Ia pinjam lagi Rp30 juta di tempat usaha yang sama.

“Total uang yang saya pinjam pertama Rp60 juta. Kemudian saya daftarkan TK ke kementerian. Lalu dapat sumbangan dari Pemerintah Provinsi Kalteng Rp80 juta,” kisahnya dengan bangga.

Masih tak cukup, ia menyisikan hasil kerjanya sehari-hari sebagai guru Agama Hindu di SMK YP SEI Kota Palangka Raya, menjadi dosen Filsafat Hindu di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAHN) Palangka Raya, dan dosen umum di salah satu universitas Palangka Raya. Tak hanya itu, ia juga bekerja menjual rujak buah keliling. Sebagian uangnya untuk biaya hidup. Sebagian disisihkan untuk memoles lembaganya.

“Saya cicil. Beli semen. Itu pun saya lakukan sendiri kalau hanya lantai. Untuk bangunan yang berdiri tegak itu, suami saya yang kerjakan. Kebetulan suami saya tukang bangunan,” ujarnya. Saya pun terharu.

Setelah bangunan tiga pintu itu berdiri, dibangunnya lagi lantai dua. Bangunan itu digunakannya untuk pelatihan memberdayakan perempuan dan PKBM. Berbagai macam kegiatan ia adakan bagi perempuan-perempuan di sekitarnya. Di antaranya menjahit, menanam, membuat kue, dan berjualan rujak buah.

“Saya mengajak perempuan-perempuan di sekitar untuk kreatif. Di antara mereka yang saya ajarkan, sudah ada yang membuka usaha jahit dan usaha jual rujak sendiri,” ucapnya sembari menyibakkan rambut panjangnya yang terikat.

Dikatakan Putu, baginya perempuan itu harus memiliki pendidikan, baik formal maupun nonformal. Putu. Sosok perempuan yang peduli pendidikan. Orang yang selalu kukuh dengan tekatnya. Ia meyakini bahwa perempuan adalah kunci kesuksesan. Baik dalam rumah tangga maupun dalam sebuah negara.

“Perempuan jangan bodoh. Perempuan itu kuat. Perempuan harus berpendidikan,” tegas Putu.

Tidak hanya itu. Tahun 2016 lalu, Putu telah meluluskan siswa kejar paket C sebanyak delapan orang. Saat ini, siswa yang diluluskan itu sedang menempuh gelar sarjana dengan mendapatkan beasiswa dari Pemprov Kalteng. “Sesuai tujuan saya. Lembaga ini untuk pendidikan. Saya peduli pendidikan,” ucapnya.

Happy World Teacher's Day. Diperingati setiap 5 Oktober. Tujuannya, untuk memberikan dukungan kepada guru di seluruh dunia. Tak dapat dipungkiri, kesuksesan generasi mendatang berada di tangan seorang guru.(*/ce/bersambung)

Berita Terkait