Harga Nyawa Manusia

Oleh: H. Priyono

 Kamis, Tanggal 04-10-2018, jam 08:02:14
H. Priyono

Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. al- Maidah: 32).

MENINGGALNYA suporter Persija, Haringga Sirla, 23, akibat dikeroyok oknum suporter Persib Bandung Minggu (23/9) menjadi sebuah ironi. Akibat fanatisme buta supporter dua klub yang memiliki rivalitas panjang ini, sudah tujuh nyawa melayang sia-sia sejak 2012.

Fanatisme tidak boleh mematikan rasio dan tidak boleh melanggar hak orang lain. Fanatisme juga harus menjaga nilai moral, etika dan agama. Kalau hal-hal tersebut tetap terjaga maka alangkah indahnya fanatisme. Tidak ada implikasi negatif.

Ya, secara teoritis memang fanatisme mengenal kelas sesuai dengan tingkat pendidikan, pergaulan dan wawasannya . Tetapi pada kasus tertentu yang kemudian dipicu oleh masa banyak serta sejarah kelam masa lalu, akhirnya yang rasional bisa berubah menjadi tidak rasional.

Maka hukumlah yang harus ditegakkan agar membuat efek jera bagi pelakunya. Dalam Surat Al Balad ayat 18-20 Alloh SWT menggolongkan manusia menjadi dua kategori, yaitu mereka yang beriman dan saling berpesan, masuk dalam golongan kanan dan orang yang mengingkari ayat Allah dikategorikan golongan kiri.

Hilangnya nyawa manusia hanya karena alasan beda dukungan, pendapat, atau sikap merupakan sebuah tragedi yang sangat memprihatinkan. Padahal Islam memandang bahwa nyawa manusia itu amat sangat berharga.

Dalam Alquran Surat Al Maidah ayat 32 memuat sebuah  prinsip bahwa bila seseorang membunuh orang lain tanpa alasan yang benar, maka pada hakikatnya dia telah membunuh manusia-manusia lain yang tidak berdosa. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan perlindungan jiwa manusia dan menganggap membunuh seorang manusia, sama dengan membunuh sebuah masyarakat.

Dalam Islam, nyawa merupakan sesuatu yang sangat berharga. Islam memberikan serangkaian hukum sebagai wujud penjagaan atas nyawa manusia layaknya sesuatu yang sangat berharga. Sistem  hukum pidana Islam atau Hudud menggolongkan orang yang membunuh dengan sengaja sebagai hukum Jinayah, yaitu hukuman nyawa dibalas nyawa (Qishas). Hal ini sebagaimana perintah Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 178.

Sifat hukum pidana Islam adalah sebagai Jawazir (pencegahan) dan Jawabir (penebus dosa maksiat sang pelaku). Hukum Qishas ini kesannya mengerikan (nyawa diganti nyawa), namun apabila Qishas ditegakkan maka akan mewujudkan rasa keadilan bagi keluarga korban. Hukuman ini juga akan memberikan efek jera bagi pelaku pembunuhan.

Hukuman ini pula menunjukkan betapa Islam sangat menghargai nyawa manusia dengan memberi ancaman hukuman maksimal (mati) kepada pelaku pembunuhan. Bahkan jika seandainya keluarga korban memaafkan, sang pelaku pembunuh tidak bisa lepas dari hukuman karena ia wajib membayar diyat (denda) sebanyak 100 ekor unta, 40 ekor di antaranya harus unta yang sedang bunting (100 ekor onta setara dengan 1.000 Dinar. Jika 1 Dinar = 4,25 gram emas x 1000 =  4,25 Kg atau kira-kira setara Rp2,5 miliar).

Demikianlah syariat Islam telah mengatur untuk menjaga nyawa, kehormatan, dan darah manusia. Agar jangan sampai karena persoalan sepele, hanya beda klub sepak bola yang didukung nyawa dihilangkan, atau besok saat pilpres, hanya karena berbeda partai yang didukung, ada yang tega melakukan menyakiti dan menghilangkan nyawa saudaranya. Karena nyawa manusia cuma satu satunya maka tak ternilai harganya. Mari kita jaga. (rs/fer/fer/JPR)

(H Priyono adalah Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan.)

Berita Terkait