Menengok Anak Penderita Gizi Buruk di RSUD dr Doris Sylvanus

Tidak Kenal Lelah, Terus Berjuang dan Setia Menemani Anak Melawan Penyakit

 Kamis, Tanggal 04-10-2018, jam 06:20:03
Siti membersihkan tubuh Ade Putra saat menjalani perawatan di RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya, Selasa (2/10). (EMANUEL LIU/KALTENG POS)

Harapan Ade Putra untuk bertumbuh dan berkembang layaknya remaja pada umumnya, pupus. Sejak lima tahun silam ia menderita lumpuh total, hingga menginjak usia 14 tahun. Kini, dia masih terbaring lemah di rumah sakit.

 

EMANUEL LIU, Palangka Raya

HAMPIR seluruh anggota tubuhnya tak dapat digerakkan secara sempurna. Ade Putra hanya bisa terbaring lemah penuh kepolosan. Mulutnya seolah mau menjerit. Slang Nasogatric Tube (NGT) tampak terpasang pada hidung, guna memasukkan makanan ke dalam tubuhnya.

Kondisi remaja kelahiran Palangka Raya 11 Juli 2004 tersebut, sangat memprihatinkan. Tak hanya sering mengalami kejang-kejang sejak di bawah usia 40 hari, tetapi juga kondisi gisi buruk yang dialaminya, kemudian memengaruhi perkembangan semua organ tubuh yang dimiliki.

Tangan. Kaki. Seluruh anggota tubuhnya terus mengecil. Putra kedua dari pasangan Indra dan Siti itu, kemudian mengalami lumpuh total sejak lima tahun yang lalu.

“Saat anak saya berusia 8 bulan, pernah mengalami koma juga. Tetapi kemudian berhasil melewati masa kritisnya. Kemudian baik-baik saja,” ungkap Siti, ibunda Ade saat disambangi Kalteng Pos, di ruang flamboyan RSUD dr Doris Sylvanus, Selasa (2/10).

Dikisahkan ibu tiga anak tersebut, buah hatinya itu kurus dan semakin menurun berat badannya sejak berusia 5 tahun. Bahkan terus mengalami kejang-kejang.

“Mungkin karena perkembangan anak saya sudah tidak normal dan bertambah parah, sehingga kondisinya terus memburuk. Tidak menujukkan perkembangan yang berarti,” tuturnya.

Perjuangan kedua orang tuanya begitu besar. Tak pernah sekalipun berpaling muka. Terus merawat anaknya dengan kasih sayang. Tak kenal lelah. Meski hidup dengan kondisi pas-pasan, tinggal di rumah kontrakan, dan suami hanya seorang tukang serabutan yang berpenghasilan tidak menentu, namun mereka telah berupaya maksimal untuk kesembuhan sang buah hati.

“Kami tidak pernah menyerah untuk kesehatan anak. Pengobatan baik medis dan alternatif, pernah kami lakukan. Bahkan pernah melakukan pengobatan sampai ke Jawa. Namun, gagal. Tidak mengalami perkembangan,” ungkapnya.

Sebagai seorang ibu, tentu dirinya harus merawat sang buah hati dengan penuh kasih dan sayang. Menurutnya, jika tidak demikian, maka bisa dipastikan anaknya tidak akan bertahan sampai saat ini.

“Kami terus berjuang dan setia menemani anak kami dalam penderitaannya melawan penyakit, walau untuk tempat tinggal pun masih menyewa,” ungkap warga Jalan Temanggung Tilung tersebut sambil terus meneteskan air mata.

Masuknya Ade ke rumah sakit, berawal mengalami gatal-gatal pada sekujur tubuhnya. Karena kondisi terus memburuk, kedua orang tuanya mengantar ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Satu harapan yang terus menghiasi di setiap doa Siti, yaitu ingin putranya sembuh dari penyakit yang dialami saat ini, sehingga dapat kembali bermain dan bercengkerama bersama kedua saudaranya di rumah. (ce/ram)

Berita Terkait