Isak Tangis Istri saat Bersaksi dalam Sidang sang Suami

Masih Cinta, Masih Sayang, Minta Keringanan Hukuman

 Rabu, Tanggal 03-10-2018, jam 07:40:26
Atmojo (tengah) bersama Prehatini (kiri) saat bersaksi di hadapan majelis hakim PN Palangka Raya, Selasa (2/10). (ANISA/KALTENG POS)

Ada kekhawatiran, sepucuk senjata api laras pendek rakitan dan enam butir peluru itu bisa mengancam jiwanya. Dengan alasan itu, Istri kedua pun melaporkan sang suami. Namun saat diadili, ia tak tega melihatnya. Air mata tangis penyesalan seakan tak mau henti.

 

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

DIMULAI. Sidang perdana terdakwa Jono diwarnai isak tangis Prehatini, yang merupakan istri kedua dari terdakwa. Berawal saat Jono keluar dari ruang tahanan, memakai rompi hijau. Disusul perempuan berambut panjang di belakangnya. Ternyata, mereka adalah sepasang suami istri (pasutri).

Dengan raut muka bersedih, satu per satu memasuki ruang ruang cakra Pengadilan Negeri (PN) Palangka Raya, Selasa (2/10). Pria berusia 36 tahun itu duduk di depan majelis hakim yang diketuai Zulkifli. Sedangkan perempuan berbaju merah muda itu duduk bersama saya (penulis), di deretan bangku pengunjung. Paling depan.

Raut wajah tegang Prehatini begitu terlihat. Terlebih saat suaminya mulai diadili di kursi pesakitan. Bagaimana tidak? Suami tercinta harus duduk di kursi pengadilan karena laporannya atas kepemilikan senjata api.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pun membacakan dakwaan terhadap Jono. Yang pasti, majelis hakim terlebih dahulu membuka persidangan yang dimulai pukul 15.15 WIB itu. Dalam dakwaan JPU yang dibacakan Erwan, terdakwa Jono memiliki sepucuk senjata api laras pendek rakitan dan enam butir peluru.

Dalam dakwaan dijelaskan, pada 2013 lalu, lelaki asal Teweh ini membeli sepucuk senjata api laras pendek rakitan seharga Rp700 ribu di Kapuas. Kemudian, membeli enam butir peluru Rp150 ribu. Pada 2 Juli 2018, beralamatkan di rumahnya, Jalan Pondok Mekar, Palangka Raya, Jono ditangkap polisi.

Atas kepemilikan barang yang dilarang aturan itu, ia dijerat Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat  Nomor 12 Tahun 1951.

Setelah dakwaan dibacakan, terdakwa mengakui barang bukti senjata api yang berada di tangan JPU adalah miliknya.

Berganti. Terdakwa meninggalkan kursi di hadapan jaksa. Atmojo selaku anggota polisi yang menangkap terdakwa dan Prehatini sebagai pelapor, dihadirkan majelis hakim sebagai saksi. Keduanya menduduki kursi yang menghadap hakim itu.

“Saya adalah istri Jono,” jawab perempuan itu dengan suara lantang, meski nada suaranya terdengar bak orang gemetaran.

Prehatini menjelaskan alasan ia melaporkan sang suami kepada polisi. Berawal saat kedua pasutri ini mengalami adu mulut selama tiga hari sebelum terdakwa ditangkap. Adu mulut itu tak kunjung usai, sampai pada hari di mana terdakwa dilaporkan.

Awalnya, Priehatini hendak pergi ke Jawa. Karena tidak mendapat izin suami dan telah adu mulut beberapa hari, ia pun khawatir. Lebih khawatir lagi, setelah diancam menggunakan pistol. Diakui perempuan yang mulai membina rumah tangga dengan Jono pada tahun 2012 itu, sebelumnya sang suami tidak pernah mengancam menggunakan pistol itu.

“Sebenarnya tidak pernah dia mengancam saya dengan pistol. Namun saya takut karena dia sangat kesal, dan akan mengancam saya dengan pistol,” ucapnya kepada Zulkifli.

Dalam persidangan itu terungkap, bahwa selama ini Jono sering melakukan kekerasan kepada Prehatini. Padahal, sebelumnya Jono pernah mendekam di balik jeruji besi selama setahun, karena kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kepada istri pertamanya. Namun sayang, istri pertamanya itu telah meninggal dunia.

“Selama ini saya sering dipukuli. Tapi mengancam saya dengan pistol, tidak pernah,” tuturnya.

Suasana persidangan pun sejenak hening.

Di tengah-tengah Prehatini menjawab pertanyaan Zulkifli, isak tangis terdengar sesekali. Memohon keringanan atas kelakuan sang suami. Mengaku menyesal telah melaporkan. Masih ada rasa cinta. Masih sayang.

“Saya menyesal. Saya masih sayang sama dia,” ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.

Setelah 30 menit persidangan berlangsung, majelis hakim akhirnya menutup sidang dakwaan itu. Jono berbalik arah dari kursi pengadilan, menghampiri istrinya. Terlihat ada perbincangan ringan. Pasutri itu berjalan beriringan keluar dari ruang persidangan. Jono dengan tangan terborgol, diikuti jaksa yang menuntunnya. (ce/ram)

Berita Terkait