Gelora Cinta di Antara Reruntuhan Bencana

Lamaran Hanya Bermodal Tepuk Tangan

 Selasa, Tanggal 02-10-2018, jam 05:47:49
Farizal berfoto dengan istrinya Adelia, usai menggelar ijab kabul di Mataram, (30/9). (LALU M ZAENUDIN/LOMBOK POST)

Jodoh memang tak ke mana. Tak peduli seberat apapun rintangan di depannya. Farizal-Adelia membuktikan di tengah sisa bencana, cinta bersemi dengan fitrahnya.

 

 

 

LALU M ZAENUDIN, Mataram

 

 

 

BAIK Farizal Pranata Bahri atau Adelia Putri mungkin tidak pernah berpikir akan menemui jodohnya di tengah reruntuhan gempa. Keduanya melangkah dengan ucapan basmalah saat melewati pintu rumah masing-masing.

Di lokasi bencana pun pikiran masing-masing hanya tersaput derita para korban yang merintih sedih.

Baik Adelia dan Farizal tak saling mengenal. Mereka hanya diikat oleh rasa kemanusiaan. Waktulah yang banyak membuat mereka kerap bekerja bersama. Membantu warga yang tertimpa bencana Gempa Bumi di Gunungsari, Lombok Barat.

“Kami sering bekerja-bersama. Membantu pengungsi di sana. Siang-malam,” kisah Farizal.

Cinta selalu menemukan jalannya. Rasa nyaman menelusup diam-diam, lalu bersemayam dengan indahnya. Baik di hati Farizal ataupun Adelia. Mereka kerap saling mencari. Sekalipun sekedar bertanya pada diri sendiri dalam hati.

“Ya kadang merasa ada yang kurang lengkap saja kalau dia pergi ke tempat yang lain,” ungkapnya, sembari tersenyum malu-malu.

Sebenarnya, sebelum ia mengenal jauh Adelia, Farizal sudah meniatkan akan menikah pada bulan September 2018. Tapi uniknya ia sendiri tidak tahu harus menikah dengan siapa. Ia hanya meyakini September akan ada perubahan besar pada status hidupnya.

“Ada acara potong kue ulang tahun Kak Seto di Epicentrum Mall Mataram, saya lalu bilang akan menikah pada bulan September,” kisahnya.

Ia sebenarnya tidak mengerti kenapa harus memastikan bulan September. Ucapan itu meluncur begitu saja seperti didorong-dorong dari dalam hatinya. Dari segi usia ia memang sudah cukup matang. 28 tahun. Ia hanya merasa karirnya sebagai advokat pada LPA NTB dan LPAI seperti kurang lengkap, jika tanpa istri di sampingnya.

“Ucapan itu rupanya, dihitung doa oleh yang Maha Kuasa. Saya pun akhirnya ditempatkan di Pos LDP (Layanan Dukungan Psikososial ) Gunung Sari,” ujarnya.

Di lokasi itu pula ia berkenalan dengan Adelia. Lalu kerap bekerja sama. Namun kepekaan hati teman-teman relawan lain dengan mudah mendeteksi. Ada benih-benih cinta yang tumbuh subur antara ia dan Adelia.

“Kami pun didapuk untuk berjodoh,” kenangnya, sembari mengulum senyum.

 

Proses ramalan pun tak kalah seru dan unik. Godaan teman-teman relawan yang menjodohkan dirinya dengan Adelia, justru membakar semangatnya untuk serius. Beberapa relawan lain pun menguji sejauh mana ia berani menyatakan cinta pada Adelia.

Mulanya Rizal hanya bisa membatu. Ia diam seribu kata. Pikirannya berkecamuk riuh. Tapi akhirnya dengan mantap ia mengangkat tubuhnya. Lalu maju ke depan tempat duduk Adelia, yang tampak kikuk dan malu.

“Saya maju untuk melamarnya. Kilat!” jelasnya.

Prosesi penerimaan lamaran itu pun semakin menarik. Saat Orang Tua Angkat Adelia yakni Joko Jumadi di lokasi bencana memberi kode 'tepuk punggung' tanda setuju dengan lamaran Rizal. Pria yang menjadi Ketua Advokat dan Konsiltan LPAI di NTB itu merasa Adelia gadis yang tepat untuk mendampingi Rizal dan mengakhiri masa bujangnya.

“Tepuk tangan itu membuat saya semakin percaya diri melamar Adelia,” kisahnya.

Adelia adalah relawan sosial dari Tim LDP Bandung, Jawa Barat. Gadis berparas manis itu sepertinya diam-diam sudah lama memperhatikan dan menyukai semangat kerja Rizal. Tapi sekalipun menyukai Rizal diam-diam, sebagai anak yang berbakti Adelia masih meminta restu pada ayah kandungnya, T. Bob.

“Papa kebetulan ada dilokasi juga,” kata Adelia.

Rizal menyela. Sebenarnya sudah lama ia memendam keinginan ingin menyunting gadis yang punya aktivitas sosial tinggi. Apalagi yang suka pada anak-anak. Ia membayangkan betapa romantis dan langgengnya keluarga yang akan ia bina, jika istrinya itu seorang yang punya jiwa sosial tinggi.

“Adelia kriteria saya banget,” celetuknya, memuji istrinya.

Ia pun langsung menantang Adelia menikah di penghujung bulan September. Gayung bersambut. Adelia menyanggupi. Tapi sebelum itu untuk lebih menghormati proses lamaran, Rizal menggelar lamaran ulang.

“Lamaran resminya ya di Bandung. Tanggal 12 September,” ujarnya.

Rizal adalah anak ke dua dari lima bersaudara. Ia sebenarnya berasal dari Serambi Makkah, Aceh. Sekitar enam tahun lalu ia datang ke Lombok dan bergabung dengan LPAI.

“Tentu ini akan jadi cerita indah bagi anak cucu kami kelak,” tutupnya.

Proses pernikahan Rizal dan Adelia digelar Minggu (30/9) kemarin. Tidak hanya dihadiri banyak aktivis sosial, juga secara khusus disaksikan oleh Wali Kota Mataram TGH Ahyar Abduh.

“Di balik Bencana, Allah tunjukkan KuasaNya. mempertemukan dua insan dan akhirnya mempersatukan mereka berdua dengan ikatan suci. Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a baynakuma fi khair,” doa Ahyar untuk keduanya.

Selain itu hadir juga ayah kandung Adelia Papi T Bob, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat, Kak Seto dan Kak Henny (LPAI), Direktur PSKBA Margowiyono dan Sekretaris Ditjen Linjamsos JD Noviantari. (*/r5)

Berita Terkait