Kapal-kapal Ikan Raksasa China Menghabisi Pasok Ikan Dunia

 Senin, Tanggal 01-10-2018, jam 03:04:54
Subsidi dari pemerintah China membuat kapal-kapal penangkap ikan Zhoushan masih bisa bertahan. (ABC News: Steve Wang)

ARMADA kapal nelayan China semakin haus mengarungi laut yang dalam guna menangkap lebih banyak makanan laut, dimana kebutuhan China akan makanan laut mencakup sepertiga dari kebutuhan dunia.

Salah seorang nelayan China tersebut adalah Kapten Lin Jianchang yang sudah lama menjadi nelayan.

Namun pria berusia 54 tahun tersebut mengakui semakin sulitnya untuk mencari ikan di lautan.

"Ketika saya pertama kali melaut, kapal kami sudah penuh hanya dalam waktu satu jam saja, ikan ada di mana-mana." katanya.

"Sekarang ikan semakin berkurang, dan jarang sekali bisa mendapatkan yang besar."

Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan sekitar 90 persen persediaan ikan sudah hilang, dan China menjadi salah satu penyebab berkurangnya pasok ikan tersebut.

China adalah negara terbesar yang memiliki armada untuk mencari ikan di laut-laut terdalam.

Pemerintah China memberikan subsidi besar bagi kapal nelayan mereka, karena permintaan makanan laut yang tidak hentinya, China mengkonsumsi sepertiga makanan laut di dunia.

Di kota pelabuhan Zhoushan di kawasan pantai Timur China, sekitar 500 kapal ikan melaut di hari pertama musim menangkap ikan.

Musim baru selalu lebih sulit dibandingkan musim sebelumnya.

Kapal-kapal itu harus mengarungi laut yang lebih dalam, dan bertahan di sana lebih lama untuk mendapatkan ikan.

Laut di sekitar China praktis tidak lagi memiliki ikan, namun armada perikanan komersial China masih besar.

Dengan sekitar 200 ribu kapal ikan ini mencakup sekitar 50 persen dari kegiatan pencarian ikan dunia.

Belasan kapal kembali ke Zhosuhan dengan tangkapan pertama musim ini - kepiting.

Tangkapan tahun ini lumayan bagus, namun hanya separuh dibandingkan tahun lalu.

Sekarang banyak kepala nelayan kecil hanya bisa menangkap ikan yang mereka sebut 'ikan sampah', ikan-ikan kecil yang tidak laku dijual, dan biasanya diberikan sebagai pakan ikan di tambak.

Seperti banyak orang lainya di Zhoushan, hal yang tetap membuat Kapten Lin dan awaknya bekerja adalah karena adanya subsidi pemerintah.

"Harga solar dan memperbaiki kapal akan memakan biaya sekitar $AUD 40 ribu (sekitar Rp 400 juta). Pemerintah memberikan subsidi sekitar Rp 200 juta." kata kapten Lin.

Pemerintah China sudah memberikan subsidi sekitar $ 28 miliar selama empat tahun terakhir bagi kelompok nelayan.

Subsidi ini membuat banyak orang tetap memiliki pekerjaan, namun penangkapan ikan berlebihan mengancam seluruh ekosistem perikanan.

Wang Dong, kapten sebuah kapal kecil mengatakan 2600 kapal trawler raksasa di China membuat mustahil untuk bisa bertahan hidup.

"Persediaan ikan memang menurun, namun jaring ikan yang dimiliki kapal-kapal raksasa ini menghancurkan semuanya." kata Kapten Wang.

"Kapal besar ini memiliki mesin lebih besar, dan ketika mereka lewat hampir tidak ada ikan lagi yang tersisa, besar maupun keci."

Pemerintah mengatakan sudah mengambil tindakan, paling tidak mereka bisa melakukan sesuatu terhadap kapal-kapal kecil.

Li Wenlong adalah manajer perusahaan Zhoushan Fishery yang mengatur keamanan armada Zhoushan.

"Kami sekarang mengambil tiga langkah: memperluas masa larangan penangkapan ikan, melepaskan lebih banyak benih ikan, dan mulai mengurangi jumlah kapal untuk mengurangi tangkapan." kata Li.

Namun pihak berwenang mengakui bahwa di laut susah untuk mengatur keberadaan kapal-kapal trawler raksasa tersebut.

Sudah ada aturan berkenaan dengan hukuman bagi kapal-kapal tersebut, namun kapal-kapal besar ini kadang tidak melaporkan hasil tangkapan mereka.

Banyak pakar mengatakan bahwa sekarang ini sudah terlambat untuk menyelamatkan pasok ikan dunia.

"Kita berada di titik kritis sekarang. Pasok ikan dunia terus berkurang." kata Zhou Wei, manajer proyek kelautan di Greenpeace East Asia.

"Kita telah kehilangan dua pertiga ikan besar. Juga sekitar 90 persen pasok ikan dunia sudah ditangkap.'

Kapal-kapal trawler besar ini sekarang mulai mencari ikan di kawasan Lautan Pasifik Barat Daya, Amerika Selatan dan Afrika Barat.

Tidak saja mereka menghabiskan pasok ikan, namun juga membuat komunitas miskin di kawasan tersebut semakin menderita.

Greenpeace East Asia baru-baru ini melakukan penelitian mengenai dampak kapal trawler ini di Afrika Barat.

"Di Afrika Barat, tujuh juta orang menggantungkan hidup dari ikan sebagai mata pencarian, dan pekerjaan, dan banyak yang lain menggantungkan diri pada ikan sebagai makanan dan sumber protein hewani." kata Zhou.

"Bagi penduduk setempat ini adalah sumber hidup mereka, tetapi bagi armada kapal besar ini hanya sekedar bisnis."

Sumber semuanya adalah permintaan yang terus meningkat. Meningkatnya kemakmuran di China dimana makanan laut dianggap sebagai makanan mewah, sekarang semakin banyak dicari.

Tidak banyak pembicaraan saat ini mengenai masalah keberlanjutan pasokan ikan di China, dan para pegiat mengatakan kampanye publik mengenai masalah tersebut sangat dibutuhkan.

Banyak pakar mengatakan bila China dan negara lain tidak mengubah cara mereka menangkap ikan, hampir tidak akan ada ikan tersisa nantinya bagi generasi berikutnya.

(Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini)

Berita Terkait