Kesaksian Para Korban Gempa di Palu Ini Bikin Ngilu

 Minggu, Tanggal 30-09-2018, jam 11:32:23
Suasana kota Palu, Sabtu (29/9) setelah gempa bumi melanda (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)

SORE itu mestinya jadi sore yang menyenangkan bagi Dwi Rahayu. Pantai Talise, Palu, tempatnya berdagang minuman ringan, ramai dikunjungi orang. Dagangannya pun ikut laris.

Jumat sore lalu itu tengah dihelat Festival Palunomoni di pantai tersebut. Ajang tahunan itu dihelat untuk merayakan hari ulang tahun Palu, ibu kota Sulawesi Tengah.

Tapi, keceriaan tersebut berubah jadi jerit tangis ketika gempa mengguncang jelang magrib.

Disusul tsunami setinggi 2 meter. "Waktu ada gelombang pertama (tsunami), saya belum sempat lari," terang Dwi saat ditemui Jawa Pos di RS Bhayangkara Palu, Sabtu malam (29/9).

Sang suami dan anak keduanya sebenarnya sudah mengajaknya lari. Namun, Dwi masih sibuk dengan dagangannya. Dia baru sadar bahaya mengancam ketika tembok pembatas pantai ambruk tepat di belakang lapaknya. Disusul gemuruh ombak tsunami kedua yang menggulung tubuhnya bersama Muhammad Fadel, anak pertamanya.

Gelombang tinggi itu lantas menyeretnya hingga beberapa meter dari tempatnya berdagang. Sebelum tersangkut di sebuah tembok bangunan. Tembok bangunan yang sempat menahan tubuhnya tersebut akhirnya ikut ambrol. Tidak kuat menahan gelombang dan menimpa kedua kakinya. "Saya tidak bisa bergerak sama sekali," ujarnya sambil mengeluh kesakitan.

Air yang mengalir deras juga membawa atap asbes menutupi tubuhnya. Sehingga banyak warga yang tidak mengetahui dirinya. "Saya sudah minta tolong berkali-kali, tapi tidak ada yang bantu," ungkapnya.

Dwi pun hanya bisa pasrah sebelum warga menolongnya empat jam kemudian.

Akibat kejadian itu, kedua kaki Dwi patah. Meski terus meraung kesakitan, Dwi bersyukur semua keluarganya selamat. Termasuk Fadel, sang putra yang sebelumnya sempat hilang hingga pagi. Suaminya sudah sempat mencarinya sejak malam setelah tsunami.

Kekhawatiran Dwi bersama sang suami itu akhirnya sirna ketika petugas memberitahukan bahwa Fadel selamat. Dan ternyata sudah dirawat di RS yang sama sejak malam harinya. "Ternyata dirawat di sebelah pojok," ujarnya.

Yang dialami Rahmi, perempuan pedagang lainnya di Pantai Talise, memang tidak separah Dwi. Tapi, tetap saja, saat ditemui Jawa Pos tadi malam, dia masih terlihat sangat trauma. Terutama saat mengenang tsunami setinggi 2 meter itu. "Pokoknya ngeri. Tidak bisa membayangkan lagi," ungkapnya.

Rahmi juga sempat tersapu ombak beberapa meter. Namun, dia tetap sadar dan segera lari menjauh. Saat dirawat di RS Bhayangkara tadi malam, mata kiri Rahmi terlihat lebam. Dalam perawatan itu dia hanya duduk. Tanpa matras. Sendirian.

Ya, di Palu Rahmi memang hanya berniat berdagang di Festival Palunomoni. Dia sendiri berasal dari Kabupaten Sigi. Hari itu dia khusus berjualan di Palu. "Mau saya cari rezeki lebih saat festival," katanya.

Hingga kemarin Rahmi belum bisa mengabarkan kondisinya ke keluarga di Sigi. Sebab, jaringan telepon masih sangat terbatas. Saat Jawa Pos balik dari RS Bhayangkara, raungan Dwi kembali terdengar. "Aduuh...sakit. Aduh...sakit." Entah Dwi sedang menahan sakit di kakinya atau menahan lapar di lambungnya. 

Situasi tak kalah mencekam dan membuat miris juga diungkap wartawan Jawa Pos Lugas Wicaksono.

Dalam tulisannya, Lugas Wicaksono menuturkan, rumahnya yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari Pantai Talise, Palu.

Ketika gempa terjadi pada pukul 17.24 Wita Jumat lalu (28/9), saya tengah berada di luar rumah. Dalam kondisi panik dan takut, saya memutuskan pulang ke rumah sekitar 30 menit setelah gempa tersebut.

Tapi, baru selangkah melewati pintu, guncangan gempa yang lebih besar kembali terasa. Yang belakangan saya ketahui berkekuatan 7,7 skala Richter.

Saya tentu saja semakin panik. Apalagi, saya sendirian tinggal di Palu. Tanpa keluarga. Tapi, alhamdulillah, saya bisa keluar rumah. Seketika itu saya menelepon keluarga di Surabaya. Untuk mengabarkan bahwa saya baik-baik saja.

Seorang tetangga menyarankan saya untuk mengambil motor dan lari ke bukit. Saya pun akhirnya masuk ke rumah lagi. Mengambil kunci motor, helm, berkas penting, laptop, emergency lamp, lalu ke bukit.

Semua tetangga saya juga sibuk menyelamatkan diri dan keluarga masing-masing. Saya akhirnya bertemu mereka di bukit. Ada sekitar 100 kepala keluarga jumlahnya. Mereka bekerja sama membuat dapur umum. Sebab, sampai tengah malam belum ada bantuan yang masuk.

Ketika di bukit itu, saya sempat bertanya kepada seseorang yang turut mengungsi ke sana. Dia bilang ke saya rumahnya berjarak 10 kilometer dari pantai. Tapi, tetap memilih mengungsi dengan jalan kaki ke bukit.

Keesokan harinya, sekitar pukul 09.00, saya bergeser ke rumah teman kantor di Bukit Lagarutu. Tapi, nasib mereka tidak lebih baik. Mereka bertahan dengan mengais sisa-sisa makanan di dalam kulkas.

Sekitar pukul 11.00, saya nekat turun bukit untuk kembali ke rumah. Mengambil sembako. Kondisi rumah saya sudah rusak. Situasi sekitar rumah saya rusak ringan. Yang rusak berat di Palu Barat. Sementara saya di Palu Timur.

Pascagempa, situasi Palu masih belum aman dari bencana. Sampai kemarin siang, masih ada beberapa kali gempa susulan, angin kencang dan ombak kencang. Helikopter dan pesawat Hercules hilir mudik mendistribusikan bantuan dan evakuasi korban. Semua masih fokus evakuasi korban tsunami. Belum ada dapur umum.

Kini saya masih di Bukit Lagarutu. Ada banyak rumah warga di bukit ini. Tapi, saya memilih di tenda. Sampai kemarin, kami belum didatangi polisi dan Basarnas. Namun, saya dan pengungsi lain maklum. Sebab, akses menuju bukit banyak jalan dan bangunan retak.

Mudah-mudahan bantuan segera datang. Sebab, persediaan logistik kami semakin menipis. Belum lagi tenda yang saya tempati baru saja tertiup angin kencang sehingga robek.

Dapur umum juga belum ada. Belum lagi krisis listrik dan air minum. Kami bertahan dengan kemampuan seadanya. (*/c9/ttg/JPC/KPC)

Berita Terkait