Membentuk Atlet Elit Sepak Bola Melalui Gala Siswa Indonesia

 Sabtu, Tanggal 15-09-2018, jam 07:22:49
Aji Rendra G, S.Pd.Jas

SIAPA sih yang tidak tahu dengan sepak bola? Ya, permainan beregu dengan 11 pemain di lapangan beradu cepat memasukkan bola di sebuah tiang kotak berukuran 2,44 meter x 7,32 meter. Hampir semua manusia di planet ini tidak mengenal yang namanya sepak bola. Mulai dari anak-anak hingga dewasa mereka memainkan sepak bola entah sebagai hibuaran ataupun untuk prestasi.  

Olahraga yang sangat popular ini sudah dimainkan ratusan tahun yang lalu. Bahkan sepak bola bagi sebagian pengamat sudah dijadikan indikator sebagai penentu kemajuan negaranya. Negara yang maju berkelas juga sepak bolanya.

Sekilas kalau kita melihat di televisi sangatlah mudah dimainkan. Bahkan tak jarang sampai mengolok-olok pemain jika tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Padahal untuk mencapai semua itu tidak semudah kita seperti menghidupkan remot tv. Tinggal pencet langsung hidup atau tinggal tendang langsung gol. Proses yang panjang dengan sentuhan ide serta sumber daya manusia yang handal di bidangnya tentu menjadi modal utama membentuk sebuah tim professional.

Itupun masih belum cukup jika harus menuntut tampil di kancah internasional. Liga champion atau liga eropa misalnya. Standar fasilitas yang dikeluarkan FIFA sangatlah tinggi, mulai dari kelayakan stadion, kelayakan lapangan pertandingan, penyiaran televisi, hingga fasilitas pendukung lainnya.

Milyaran dollar yang dikeluarkan pemilik club untuk mewujudkan itu semua. Belum untuk gaji dan fasilitas pemain yang tentunya bervariasi sesuai dengan kontrak yang diberikan. Semakin bagus dan berkelas semakin mahal juga harga keringatnya.        

Dalam pandangan masyarakat modern penggila sepak bola; Inggris, Jerman, Spanyol misalnya, sepak bola sudah menjadi industri yang sangat menjanjikan. Tingkat kemakmuran dan tingkat kepuasan warga negaranya sangat meningkat. Mereka tidak peduli harga tiket yang harus dibayar untuk sebuah hiburan yang berkelas dan rasa puas. Serasa terbayarkan jika club idolanya meraih kemenangan apalagi memainkan bola dengan apik di lapangan.

Fanatisme dan sportifitas sangat terlihat di dalam ataupun di luar lapangan menjadi jaminan masa depan kemajuan sepak bola. Inilah yang memancing banyak investor mau menancapkan uangnya di club. Tidak hanya masyarakat di sekitar club tersebut yang merasakannya, masyarakat di muka bumi ini pun ikut terhibur. Hak siar televisi yang begitu banyak menyebar memungkinkan akses bisa tembus ke seluruh negara. Apalagi dengan teknologi sekarang, akses internet begitu mudah didapat. Tak heran jika anak 4 tahun sudah punya idola sepak bolanya, bahkan di negara konflik sekalipun. Sebegitu besarkah sepak bola itu?

Kebesaran sepak bola tidaklah berhenti sampai disini. Jika berkiprah di dunia sepak bola, asia mungkin belum begitu tenar dibanding dengan eropa ataupun amerika latin. Tetapi saudagar-saudagar kaya arab dan asia  sekarang sudah mulai merapat, menguasai saham club kaya eropa. Sumber daya alam yang semakin tersaingi sebagai penghasil dollar beralih ke sebuah bisnis investasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata tentuya, yaitu sepak bola. Mancester City, Arsenal, PSG, Atletico Madrid belum lagi sponsor-sponsor utama yang masuk sebagai bukti keseriusan membangun bisnis kulit bundar ini.

Sepak bola bukan sekadar olahraga, bisnis dan senipun berkolaborasi di dalamnya. Layaknya pekerja seni, pemain sepak bolapun harus bisa membuat penonton bertepuk tangan puas. Sepak bola saat ini sulit untuk tidak dikaitkan dengan taktik dan skema formasi permainan. Tak heran, untuk membuat penonton kagum dan terpukau dilapangan pemilik club tak segan untuk merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli pemain berkualitas.

Ketenaran dan kesuksesan club besar dunia menjadi contoh club-club di negera berkembang untuk mengembangkan liga domestiknya. Salah satunya china yang sudah ramai mendatangkan pemain-pemain eks club ternama eropa untuk berkiprah di negaranya. Terbukti di liga champion asia club asal China sudah mampu bebicara banyak dan mampu bersaing dengan club asal Jepang, Korea Selatan dan Australia.

Ketiga negara tersebut memang sering masuk finalis piala dunia mewakili zona Asia. Tak heran jika club-club yang mewakili ketiga negara tersebut banyak diisi oleh pemain nasionalnya. Melompat sedikit ke negara kita.

Lika -liku perjalanan menuju sepak bola yang berkualitas memang sangat terasa di negeri ini. Setelah dicabutnya sanksi PSSI oleh FIFA kira-kira dua tahun lalu, indonesia sudah mulai membangun kembali sepak bola. Regulasi pemain dan peraturan liga sudah tertata lebih baik dari sebelumnya. Langkah ini membawa berita positif dan angin segar tentunya bagi anak-anak kita untuk bermimpi lagi menjadi pemain sepak bola professional.

Indonesia merupakan negara besar penggemar sepak bola. Setiap laga Tim Nasional, stadion selalu dipenuhi penonton fanatik dengan harapan yang begitu besar. Keseriusan pemerintah mulai terasa dalam memajukan sepak bola. Event sepak bola pelajar sudah mulai digelar melalui Gala Siswa Indonesia.

Dari sabang sampai merauke dan diikuti 1000 lebih anak SMP tidak menutup kemungkinan akan tercipta atlet sepak bola elite yang mendunia. Bisa diprediksi lagi, bahwa tahun depan jumlah siswa yang ikut berpartisipasi dalam event tahunan ini akan bertambah. Harapan dari program ini agar anak anak indonesia memiliki pengembangan diri, bakat prestasi serta karakter yang unggul melalui olahraga sepak bola sampai ke pelosok negeri. Memang hasilnya tidak bisa kita lihat langsung sekarang, tapi lihatlah 8-12 tahun ke depan sesuai dengan kajian ilmiah pembentukan atlet, mungkin banyak lahir pemain-pemain muda yang berkelas.

Mengapa harus sepak bola? Selama manusia masih ada di dunia mungkin sepak bola tidak akan berhenti. Sering kita lihat anak-anak muda mengenakan jersey club sepak bola eropa dengan nama idolanya. Tentu banyak alasan mengapa mereka mamakai itu. Lionel Messi ataupun Cristiano Ronaldo mungkin pemain yang sedang sorotan di planet ini. Gaji yang begitu tinggi seolah olah membawa magnet besar bagi anak-anak di dunia ini untuk bermain bola. Sudah senang karena hoby, sehat dan dibayar mahal lagi. Memang tidak selamanya mereka akan memperlihatkan skill-nya di lapangan, tetapi sejarah dan kontribusinya sangat berarti bagi sepak bola. Teknik, kecerdasan dan kerja keras menjadi ciri dan karakter tersendiri pemain masa kini.

Pesatnya kemajuan sepak bola bukan karena mereka berdiri sendiri. Teknologi sangat berperan banyak di dalamnya. Karena sangat kita sadari bahwa kemampuan manusia sangat terbatas. Terlebih semua perangkat pertandingan masih didominasi tenaga manusia, khususnya wasit. Sebagai contoh penggunaan VAR (video assistant referees) tentunya sangat efektif, tapi ada beberapa pelatih ataupun federasi sepak bola yang menolaknya dengan berbagai pendapat.

Manusia adalah pencipta, pelaku dan penikmat sepak bola. Semua mungkin dilakukan manusia untuk meracik sepak bola menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Begitu pula dengan negara kita, punya hak dan peluang juga untuk mampu bersaing di kancah dunia. Tinggal bagaimana cara membinanya, tidak secara instan tentunya. Seringnya kegagalan tim nasional Indonesia di kancah internasional tidaklah menyurutkan penggemar olahraga ini. Terbukti dari hari ke hari pelaku sepak bola di negeri ini tidaklah berkurang, melainkan meningkat dengan signifikan meninggalkan popularitas olahraga lain. Apalagi pemerintah melalui Kementerian Pendidikan telah membuat jembatan nyata penyalur bakat, “Gala Siswa Indonesia”.

Inilah bukti nyata bahwa sepak bola semakin dicinta. Tersiarnya kabar pemain muda Indonesia yang telah bergabung dengan klub eropa menjadi penyemangat talenta muda lainnya. Inilah salah satu hasil bahwa sebenarnya Indonesia mampu menciptakan pemain berkelas meskipun belum di level tertinggi Eropa. Jangan hanya menjadi penikmat sepak bola saja yang menghabiskan malam akhir pekannya di depan televisi. Bergantilah menjadi pencipta sepak bola yang mendunia. Majulah sepak bola, selamat datang Gala Siswa Indonesia! Penulis: Aji Rendra G, S.Pd.Jas. Guru PJOK SMP Negeri 2 Sampit

Berita Terkait