Menuju Indonesia sebagai Primadona Dunia

Oleh: Yogyantoro

 Rabu, Tanggal 29-08-2018, jam 07:21:13
Yogyantoro

INDONESIA menggeliat. Contoh kasus dari pembangunan infrastruktur termasuk properti residensial atau perumahan begitu masif di seluruh Nusantara. Kebutuhan rumah baru mencapai 800.000 unit per tahun, sementara itu kapasitas yang dimiliki pengembang (developer) hanya berkisar 250.000 – 400.000 unit per tahun. Berdasarkan Susenas Maret 2015, masih terdapat sekitar 11,38 juta kepala keluarga yang belum memiliki rumah. Hal ini menunjukkan adanya peluang bisnis perumahan yang terbuka lebar.

Menurut Survei Harga Properti Residensial Pasar Primer BI, saat ini hampir 75 % konsumen memanfaatkan fasilitas KPR (Kredit Pemilikan Rumah) sebagai sumber pembelian properti dan hanya 17,62 % yang melalui jalur tunai bertahap sedangkan sisanya dengan pembelian secara tunai. Pengembang lebih banyak mengandalkan dana internal perusahaan yang mencapai 56 % untuk pembangunan properti residensial yang mayoritas berasal dari modal yang disetor. Pinjaman bank yang dilakukan oleh pengembang berkisar 23 % dan dana yang berasal dari nasabah sekitar 5,68 % sisanya merupakan pinjaman LKNB (Lembaga Keuangan Non Bank) dan lainnya.

Namun kita tidak bisa menutup mata adanya rantai persoalan perumahan nasional yang belum menemukan titik temu. Lahan untuk perumahan nasional dengan lokasi yang baik tidak banyak tersedia. Masalah harga juga masih menjadi benang kusut yang belum terurai mengingat biaya perijinan yang melangit, bahan bangunan yang dijual dengan harga komersial serta berbeda-beda di tiap daerah ditambah urusan birokrasi yang relatif panjang. Belum lagi mayoritas pembiayaan lebih fokus pada KPR kelas menengah atas. Bagaimana dengan kelompok masyarakat kelas menangah ke bawah?

Memang pada masyarakat kelas menengah ke bawah terutama yang tergabung dalam kelompok “nyaris miskin” terjadi penurunan daya beli seiring dengan turunnya penghasilan riil mereka. Yang muncul kemudian adalah bayang-bayang kesenjangan yang memperlihatkan kondisi memburuk. Laporan terbaru dari Credit Suisse menampakan 1 % orang terkaya di dunia kini menguasai lebih dari setengah kekayaan global. Sedangkan di Indonesia sebanyak 49 % dari total kekayaan Indonesia dikuasai oleh 1 % warga terkaya dan 51 % sisanya diperebutkan oleh 99% penduduk.

Lembaga Oxfam juga menyebutkan bahwa harta total 4 orang terkaya di Indonesia, yang tercatat sebesar 25 miliar dolar AS, setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Hal ini juga terhubung langsung dengan penyembunyian harta di negara surga pajak dengan lonjakan harta para miliarder.  Elias dan Turpin (1994, p.5) menulis, “the presence of social injustice… and structural violence (in the form of) economic deprivation, social neglect, and racial or class injustices… provides not only the immediate violence of repression and oppression bur also the breeding grounds for the development of war or other direct violence such as crime”.

Menyikapi masalah kesenjangan ekonomi yang berpotensi pada tindakan kriminal atau masalah keamanan atau ketidakadilan kelas dalam polemik perekonomian, para ekonom pada dekade-dekade sebelumnya cenderung menggunakan pendekatan dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi karena keadilan akan tercapai sebagai konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Seiring dengan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara maka kekayaan akan mengalir pada keluarga-keluarga berpenghasilan menengah ke bawah melalui mekanisme laissez-faire yaitu mengurangi campur tangan pemerintah dan menyerahkan segala kegiatan ekonomi yang lebih bebas pada pasar. 

Ini artinya para pembuat kebijakan hanya perlu berfokus pada penguatan produktivitas, surplus perdagangan dan penyediaan lapangan pekerjaan untuk mendorong pertumbuhan. Kabar gembiranya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan tren yang meningkat setelah mencapai level terendah pada 2015, yang didorong oleh investasi dan ekspor, serta konsumsi yang stabil. Investasi diprediksi tetap tinggi terutama dukungan dari investasi proyek infrastuktur dan bangunan swasta. Dari segi ekspor dan impor juga tetap tumbuh. Perbaikan ekonomi global menumbuhkan ekspor manufaktur meskipun terjadi penurunan ekspor komoditas, khususnya CPO. Kuatnya permintaan domestik mendorong pertumbuhan impor, khususnya barang modal dan bahan baku. Praktis, sumber pertumbuhan global bergeser ke negara berkembang seperti Indonesia karena negara maju mengalami sedikit perlambatan.

Jika dilihat secara sektoral, industri yang tumbuh tinggi memiliki penyerapan tenaga kerja yang minim dan inilah yang berpengaruh pada daya beli masyarakat terutama kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah. Oleh karena itu secara sektoral, sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja yang besar seperti sektor perdagangan, pertanian, industri pengolahan dan jasa publik harus di-trigger untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya dan kawasan pada umumnya, menunjukkan kondisi yang stabil. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga soliditasnya karena adanya perbaikan pendapatan dan inflasi yang terkendali. Konsumsi rumah tangga yang terjaga yang ditopang oleh investasi yang tetap kuat berhasil menjadi udara segar bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Maka tidak heran apabila Indonesia kini mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi global dan mendapat anugerah berupa kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinan dan kapabilitasnya dengan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 yang sekaligus menjadi ajang pertaruhan nama baik Indonesia. Asian Games 2018 mempertandingkan 40 cabang olahraga yang diselenggarakan di Palembang dan Jakarta. Benar-benar menjadi daya tarik baru mengingat sepanjang tahun penyelenggaraannya, baru Asian Games 2018 yang penyelenggaraannya berada di 2 kota secara bersamaan.

Krisis Asia tahun 1998 dan krisis keuangan global tahun 2009 yang terlewati dengan baik sebetulnya  telah menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia telah berhasil melakukan reformasi dalam membangun kekuatan yang berkelanjutan dan daya tahan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia (inclusive growth) bukan saja stabil dan kokoh melawan badai tetapi juga merata.

Menyaksikan euforia perekonomian Indonesia yang begitu reformed, resilient, dan progressive yang mendapat dukungan dari sarana infrastruktur serta fasilitas yang memadai, dinamika politik yang stabil terkait pemilihan presiden 2019 dan kondisi keamanan yang kondusif maka tidak begitu mengejutkan jika Indonesia juga berhasil terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan keuangan terbesar di dunia, IMF-World Bank Annual Meetings (AM)  2018 yang bertempat di Nusa Dua, Bali, pada 12 – 14 Oktober 2018.

Menyambut tamu yang berjumlah 15.000 orang dari berbagai belahan dunia yang terdiri dari para pejabat pembuat kebijakan dari berbagai negara, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari 189 negara anggota IMF, ekonom dan akademisi, pimpinan perusahaan dan investor terkemuka, think tank, partisipan dari industri kekuangan, anggota  parlemen, perwakilan LSM, media, delegasi pertemuan dan partisipan lainnya adalah kesempatan emas untuk mengasah leadership Indonesia sebagai penyelenggara international event dalam membahas isu-isu global sekaligus menjadi ajang untuk menunjukkan persepsi positif tentang Indonesia sebagai sebuah negara yang besar.

Kegiatan AM 2018 merupakan momen strategis untuk mempromosikan Visit Wonderful Indinesia (ViWI) 2018 yang tidak hanya terpusat pada Bali saja tetapi juga berbagai destinasi wisata yang lainnya seperti Taman Nasional Komodo, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat, dan Danau Tiga Warna yaitu Danau Kelimutu di Kabupaten Ende.

Selain itu peserta AM 2018 baik delegasi maupun turis dapat diarahkan untuk sekaligus menikmati indahnya Ruteng, Kota Seribu Biara, di Flores, Nusa Tenggara Timur dan sekalian singgah di Maumere. Danau Toba, Banyuwangi, Yogyakarta, Toraja dan lain sebagainya yang menjadi destinasi unggulan merupakan  bagian dari paket yang dapat dibeli dari Kementerian Pariwisata.

Penyelenggaraan side event lain untuk menunjukkan pembangunan ekonomi Indonesia yang stabil, kebudayaan dan produk lokal Indonesia yang beranekaragam di area sekitar lokasi penyelenggaraan AM 2018 dapat didongkrak dengan tetap menjaga hospitality sebagai tuan rumah. Potensi penerimaan devisa yang berasal dari sektor transportasi, akomodasi, termasuk belanja, pertemuan (private sector), hiburan dan wisata alam maupun budaya diperkirakan dapat mencapai Rp. 725 M sepanjang pelaksanaan AM 2018. Belum lagi potensi penerimaan devisa dari aktifitas tambahan dari seluruh peserta sebelum dan sesudah AM 2018.

Akhirnya, menggali lagi sejarah besar Indonesia yang telah berhasil mendatangkan dunia ke Indonesia dengan menjadi penyelenggara KAA 1955, tuan rumah Asian Games ke-4 pada tahun 1962 di Jakarta dan berkaca pada gegap gempita Indonesia tahun ini yang menjadi tuan rumah Asian Games 2018 dan AM 2018 maka harapan Indonesia mampu menjadi tuan rumah Piala Dunia tidaklah terlalu utopis.  Semoga!

(Penulis adalah Guru SMPN 4 Muara Teweh.  Peminat masalah sosial, ekonomi dan pendidikan)

Berita Terkait