KEREN...! Dari Balik Penjara, Manfaatkan Bekas Peralatan Elektronik Jadi Barang Unik

 Sabtu, Tanggal 11-08-2018, jam 01:24:10
Kerajinan dari barang bekas peralatan elektronik, diubah menjadi cantik di tangan sejumlah warga binaan. (APRIANDO/KALTENG POS)

Hidup di balik jeruji besi sudah pasti terisolasi. Terkurung dan terbatas dengan dunia luar. Namun, kreativitas tak mengenal batas. Selagi ada kemauan dan berpikir lurus, karya seni bisa tercipta di mana saja.

 

APRIANDO, Kuala Kapuas

==============-

SEPERTI kebanyakan rumah tahanan maupun lembaga pemasyarakatan, punya kesan membosankan. Menghabiskan waktu dan bertanggung jawab atas pelanggaran hukum yang dibuat, membuat narapidana bertahun-tahun mendekam di penjara.

Dituntut supersabar dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga mampu menjalani hukuman hingga bebas dan menghirup udara bebas. Dituntut memiliki pengendalian diri yang luar biasa, agar tetap hidup sewajarnya sebagai warga binaan.

Oleh karena itu, banyak cara harus dilakukan seorang warga binaan, untuk mengisi hari-harinya. Ibadah, berdoa, berkarya, hingga terus berbuat hal positif. Seperti yang dilakukan sejumlah napi di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kuala Kapuas.

Berbekal pengalaman pernah bekerja di bidang otomotif, sejumlah napi membuat miniatur motor dan kapal, dari barang bekas peralatan elektronik. Lima napi kasus narkoba dan satu kasus pemalakan. Bambang, Fatan, Try, Budi, Alex, Yano, dan Hengky tetap berkarya.

“Saya membuatnya. Karena saat sebelum masuk ke dalam rutan, pernah bekerja di tempat renovasi motor, membuat motor rakitan sendiri. Kegiatan ini sekaligus untuk menghilangkan rasa bosan,” kata Fatan menceritakan pembuatan miniatur motor kepada Kalteng Pos, Rabu (8/8).

Pria yang baru menjalani masa hukuman kurang lebih setahun tersebut, memanfaatkan barang yang dibawa oleh pihak lapas, seperti korek, kabel bekas, hardisk, sendok, dan segala macam alat elektronik, lalu disulap menjadi replika motor. Mirip seperti motor sungguhan yang dimodifikasi.

Sembari mengajarkan kelima temannya, napi kasus pemalakan itu mengatakan, untuk bahan membuat miniatur tersebut, diperoleh tanpa mengeluarkan uang seperser pun. Semuanya dari bahan elektronik bekas.

Sampah elektronik dikumpulkan dan dijadikan replika motor yang gagah, dengan warna-warni, model, serta bentuk berbeda. Muncul begitu saja saat merasa bosan, dan sekadar mengisi waktu luang. Apalagi, pengalaman pertama menjalani masa hukuman, sempat membuatnya depresi dan tak semangat, karena belum terbiasa dengan lingkungan.

Bambang, napi kasus narkoba, membuat miniatur perahu. Membuat kerajinan tersebut paling lama sekitar tiga hari. Tergantung model dan tingkat kerumitannya.

“Bisa selesai dengan bahan seadanya, tergantung model serta kerumitannya,” kata Bambang.

Sama seperti Fatan, bahan dari pihak lapas. Tapi ia harus merogoh kocek. Untuk membantu para napi menyalurkan hobi, karya dari balik penjara itu dipasarkan ke luar.

Seperti melalui pameran seluruh hasil karya para warga binaan lapas, menjelang HUT Kemerdekaan RI sebentar lagi.

Miniatur kapal layar dibanderol hingga Rp100 ribu, tergantung besar layar. Kalau motor, lebih mahal lagi. Karena bahannya susah didapatkan, khususnya barang bekas elektronik seperti hardisk, CD room, CPU, dan lain-lainnya. Pembuatannya pun lebih membutuhkan ketelitian, saat menggabungkan dan membentuk mirip motor sungguhan.

“Pekerjaan atau hasil karya mereka nantinya akan dipasarkan, sehingga tidak sia-sia. Sekaligus pemasukan bagi para napi sendiri, dan pembelian alat bahan yang diperlukan oleh mereka” ungkap Kepala Rutan Kelas IIB Kapuas, Husaini

Hasil jualan, dikembalikan ke warga binaan. Pihaknya hanya membantu untuk memberikan wadah dan fasilitas, agar kreativitas tetap terjaga, sembari sebagai modal warga binaan saat keluar dan kembali ke masyarakat umum nantinya. (*/ce)

Berita Terkait