Perang Dagang Sampai ke Kaviar

 Kamis, Tanggal 09-08-2018, jam 07:38:32
Oleh : Dahlan Iskan

Makanlah kaviar. Sesekali. Atau sekali seumur hidup. Sekadar untuk tahu: mengapa Amerika menyasar kaviar. Dalam perang dagangnya. Dengan Tiongkok. Sekarang ini.

Di Jakarta hanya ada tujuh restoran yang menawarkan kaviar. Dalam menu mereka.

Misalnya resto Jepang Oku. Yang di gedung The Plaza. Di  jalan Thamrin itu. Atau resto Jepang yang di Kempinski.

Harganya tidak mahal. Untuk ukuran Donald Trump: Rp 2 juta/100 gram. Atau Rp 20 juta/kg.

Itu harga kaviar mentahnya. Setelah dimasak tentu lain pula angkanya.

Kini Tiongkoklah produsen kaviar terbesar di dunia. Hampir separuh kaviar di planet ini datang dari satu danau: Qiandao Hu. Danau Seribu Pulau. Di Provinsi Zhejiang. Empat jam jalan darat dari Shanghai.

Luar biasa.

Padahal lihatlah 10 tahun lalu. Tiongkok belum bisa memproduksinya. Sama sekali.

Tiongkok belum tahu kaviar. Dalam 10 tahun sudah bisa tiba-tiba. Menjadi yang terbesar. Di dunia.

Kaviar adalah telur ikan. Ikan sturgeon. Yang beratnya bisa 30 kg. Yang panjangnya bisa 5 meter. Yang umurnya bisa 100 tahun.

Dulunya Tiongkok tidak ada dalam peta. Asal kaviar terbaik adalah Iran. Lalu Rusia.

Ada satu sungai di Rusia. Yang sangat khas. Yang sturgeon bisa hidup di sungai itu.

Ada juga satu danau. Yang begitu besarnya. Sampai disebut laut: Laut Kaspia. Di situlah sturgeon terbaik hidup. Beranak pinak.

Tapi manusia mengejarnya. Menangkapnya. Membunuhnya. Tidak kenal ampun.

Keberadaan sturgeon terancam punah. Kaviar kian mahal. Dulu pun rakyat tidak ‘mentolo’ membeli. Melihat harganya.

Hanya raja dan kaisar yang mampu menjangkau. Atau elite lainnya.

Jadilah kaviar makanan eksklusif. Makanan raja. Kian elite statusnya kian mahal harganya. Kian seru juga perburuannya.

PBB turun tangan. Perburuan sturgeon dilarang. Pada tahun 1992. Kaviar kian lama kian langka.

Situasi itulah yang membuat akademi ilmu pengetahuan perikanan Tiongkok melakukan penelitian. Tepat 10 tahun lalu.

Berhasil. Sturgeon bisa dibiakkan. Di danau. Dengan kondisi air tertentu.

Akademi itu lantas mencari partner. Swasta tertarik. Pemerintah memberi dukungan penuh. Beberapa danau diteliti. Terpilihlah Danau Seribu Pulau itu.

Dasar danau pun diperbaiki. Sekitar danau dibebaskan. Airnya diolah: agar cocok dengan kehidupan sturgeon.

Hanya dalam sepuluh tahun berhasil menjadi produsen kaviar terbesar di dunia. Berkat kesungguhan. Dan ilmu pengetahuan. Dan kemampuan manajemen perusahaan.

Amerika juga mencoba. Di North Carolina. Bukan di danau. Tapi di kolam buatan. Kecil-kecil. Di atas tanah.

Kini harga kaviar di Amerika sedikit lebih mahal. Kaviar Tiongkok dikenai bea masuk 25 persen. Dalam perang dagang sekarang ini.

Tentu tidak masalah. Pemakan kaviar tidak pernah melihat harga. Berapa pun bon yang disodorkan akan dibayar.

Toh membayarnya tidak dengan uang. Mereka membayarnya dengan angka. Yang ada di struk kartu kredit mereka.

Saat pertama kali makan kaviar saya justru tidak tahu: kalau itu kaviar. ‘Barang’ itu ada di mangkok kecil yang disajikan.

Mangkoknya hanya sedikit lebih besar dari tutup botol. Sekali disendok pun sudah habis.

Saya ‘untal’ saja makanan sesendok itu. Sekali suap. Seharga setengah juta rupiah. Habis. Rasanya gurih-gurih-asin. Agak aneh.

Saya bertanya dalam hati: makanan apa ini. Batin saya: pasti ini makanan orang Eropa.

Saat itu saya lagi di kursi first class. Dalam penerbangan Lufhansa. Dari Singapura ke Frankfurt. Itu 30-an tahun lalu.

Setahun kemudian saya naik Concorde. Dari London ke New York. Yang tiketnya mahal. Tiga kali lebih mahal dari first class.

Saya ketemu barang itu di Concorde. Disajikan di mangkok kecil.

Lidah saya masih lidah Magetan. Atau Samarinda. Belum bisa merasakan di mana mahalnya kaviar.

Setelah menjadi Dirut PLN saya tidak pernah naik first class lagi. Biar pun bayar sendiri. Malu. Tidak sopan.

Apalagi ketika menjadi menteri. Kian jauh dari first class. Kian lupa pula barang itu.

Hanya sesekali ketemu kaviar.  Di jamuan-jamuan tertentu. Tapi tetap saja tidak tahu di mana mahalnya.

Sesekali makanlah kaviar. Lalu beritahu saya: di mana enaknya.(***)

Berita Terkait