Susistiyono, Penginjil yang Buta setelah Kecelakaan

Kehilangan Pekerjaan dan Hidup Serba Keterbatasan

 Rabu, Tanggal 08-08-2018, jam 08:12:36
Sulistiyono dan Karsi saat menceritakan kesehariannya di rumah kecil milik pribadi, di Kawasan Bengaris, sekitar 2 kilometer dari arah Bandara Tjilik Riwut, beberapa waktu lalu. (HERMAWAN/KALTENG POS)

Susistiyono, seorang asisten pendeta harus kehilangan penglihatannya, usai kecelakaan tiga tahun silam. Ditemani Karsi, istri tercintanya, ia hidup di Kota Palangka Raya. Tanpa listrik. Sulit akses air bersih.

 

HERMAWAN DP, Palangka Raya

==========================

SANGAT sederhana. Kesan pertama kali terlihat dari keluarga Susistiyanto. Hidup di rumah berukuran 6x10 meter, di Jalan Bukit Pinang, Kelurahan Tanjung Pinang, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya.

Awalnya, mereka hidup layaknya masyarakat pada umumnya. Susistiyono sebagai penginjil di desa-desa. Sedangkan sang istri, Karsi menjadi petani karet di sebuah perusahaan.

Sebagai pembantu pendeta yang sering berpindah-pindah, Susis masih sempat mengajar di sekolah swasta. Menjadi tenaga honorer di sekolah dasar, menengah, dan kejuruan di Desa Lahei Mangkutub, Kecamatan Mentangai, Kuala Kapuas. Berbekal ijazah teologi atau ilmu pengetahuan tentang Ketuhanan, dan kemampuan menggunakan komputer.

Namun, roda kehidupannya benar-benar berputar. Berubah. Akibat kecelakaan di Kawasan Bukit Liti arah Kuala Kurun-Kota Palangka Raya, sekitar tiga tahun silam. Saat dia dipindah  tugas memberikan pelayanan untuk Gereja Evangelis di Desa Parahangan, Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau.

Kecelakaan mengakibatkan patah tangan kiri, dan menjalani operasi pemasangan pen. Jari telunjuk kiri diamputasi. Ironisnya, alumnus Sekolah Tinggi Teologi (STT) Bethel, Banjar Baru, Kalsel ini, juga kehilangan mata kirinya.

Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Nyawa Susis masih bisa diselamatkan dari kecelakaan mengerikan itu.

Cobaan dan ujian itu tidak menyurutkan semangat Susis. Walaupun dari segi fisik, kemampuan matanya menurun. Susistiono masih tetap sebagai penginjil. Sering pulang pergi Palangka Raya dan Kecamatan Kahayan Tengah. Sambil menyambi sebagai sales lapangan sebuah toko peralatan rumah tangga, Columbus.

Berjalan hampir setahun. Nahas, kesehatan mata kanannya ikut menurun. Kebutaan menghampirinya. Sampai akhirnya tidak bisa melakukan aktivitas, dan diberhentikan dari pekerjaannya.

Di sisa hidupnya, ia memutuskan tinggal di Palangka Raya bersama istri tercintanya, Karsi.

Tanpa pengelihatan, dia tidak bisa beraktivitas dengan normal seperti semula. Hanya bergantung kepada istrinya.

Dengan sangat setia, perempuan kelahiran Demak, Jawa Tengah itu menemaninya, meski kini terpuruk. Karsi menyiapkan semua kebutuhan Susis.

Sebagai seorang istri, Karsi benar-benar melayani suaminya. Karsi harus bolak-balik berjalan sejauh 100 meter ke belakang rumah, menimba air untuk masak, mandi, dan juga mencuci pakaian. Serba keterbatasan.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, perempuan 54 tahun itu harus bertani di sisa-sisa lahan pekarangan rumahnya. Dia juga memelihara beberapa ekor ayam kampung, untuk keperluan yang mendesak.

Kondisi rumah cukup memprihatinkan. Bangunan berkonstruksi kayu sisa potongan (sebetan) itu, tanpa dialiri listrik. Saat malam tiba, penerangan menggunakan teplok atau lampu tempel yang bersumbu dan menggunakan bahan bakar minyak tanah, menemani keduanya. Di dapur, ia tak memakai tabung gas melon alias elpiji 3 kg seperti kebanyakan masyarakat. Hanya ada tungku tanah liat berbahan bakar kayu.

Tuhan Maha Adil. Bulan lalu, keluarga ini mendapatkan bantuan bedah rumah, berupa bahan bangunan senilai Rp15 juta. Kini, bagian depan rumah mereka mulai direhab dengan kayu yang lebih baik. Walaupun untuk listrik, sampai saat ini belum tersalur dari PLN. Padahal, rumah keduanya berada di Kota Palangka Raya, berjarak cuma 7 km dari titik nol ibu kota Kalteng.

“Dahulu pernah menyambung listrik dari tetangga sebelah. Tapi karena menunggak dan tidak sanggup membayar, akhirnya diputus,” ucap Karsi.

Sebagai manusia, Karsi dan Susis hanya bisa berusaha dan berdoa. Tidak putus asa. Keduanya pernah mencoba memeriksakan mata kanan Susis, bersama dengan Yayasan Kameloh Mandiri. Mata Susis harus dioperasi dan membutuhkan penanganan khusus, dengan biaya yang tidak sedikit.

“Mau diobati, tapi tak ada uang mas. Buat makan saja susah,” ungkap Karsi dengan mata berkaca-kaca.

Akhirnya, keduanya terpaksa mengurungkan niat untuk memulihkan mata kanan Susis. (*/ce/abe)

Berita Terkait